montelbaanstoren Fi August 19

Lambaian dari Montelbaanstoren

Amsterdam, Juli 2015

Amsterdam hari ini pasti jauh berbeda dengan Amsterdam 500 tahun yang lalu. Pasti? Pasti. Perkembangan bangunan, pelabuhan, penambahan kanal hingga jumlah populasi manusia yang tinggal di dalamnya mengalami pasang surut yang membutuhkan buku tebal untuk mencatatnya. Tapi pasti juga tidak semua. Salah satu yang masih bertahan hingga hari ini dari jenjang waktu 500 tahun itu adalah Montelbaanstoren, sebuah menara yang tetap kokoh berdiri di kanal Oude Schans. Perkembangan zaman membuat menara ini kemudian ditambah dengan jam yang berdentang dalam setiap 30 menitnya.

Su Tomesen, teman kami seorang perempuan Belanda meminjamkan apartemennya untuk kami tempati saat berkunjung ke Amsterdam, lokasinya mungkin hanya sekitar 50 langkah kaki dari menara tua bernama Montelbaanstoren tadi. Jika malam tiba dan suasana mulai hening, genta jam yang bertalu seolah membuka pintu tirai sejarah yang terbentang panjang.

Tinggal di ‘ring dalam’ kota Amsterdam membuat kami punya banyak waktu untuk mengeksplor ibukota Belanda itu tanpa harus terburu-buru. Hanya butuh waktu jalan kaki sekitar 14 menit dari Centraal Station ke arah timur. Pilihan destinasi yang dekat lainnya di sekitar menara itu adalah Nieuwmarkt dengan banyak pilihan café di sekitarnya, kalau belum capek jalan bisa terus ke Oude Kerk, melintasi Red light District penuh warna dan yang sangat terkenal di kalangan turis mancanegara.

Tak cukup sehari kalau mau betul-betul puas menikmati Amsterdam, salah satu cara agar tidak terlalu lelah dan terlalu lama jalan kaki adalah dengan menyewa sepeda, banyak tempat yang menawarkan peminjaman sepeda, dengan biaya sekitar 8 Euro-an sehari, harga itu sudah termasuk helm dan gemboknya.

Setelah tujuh tahun ditutup untuk proses renovasi, Rijskmuseum sekarang sudah kembali dibuka, museum yang menyimpan banyak sekali karya seni, mulai dari lukis, patung, senjata tradisional (termasuk keris, tombak dan lainnya) hingga miniatur kapal-kapal laut yang dahulu hilir mudik di Nusantara. Rasanya perlu waktu sehari penuh agar bisa puas menikmati ribuan koleksi museum ini. Yang pasti, jangan lewatkan kesempatan untuk melihat secara langsung karya-karya pelukis besar seperti De Nachtwacht (The Night Watch)  karya seniman Rembrandt atau Het Melkmeisje (The Milkmaid) karya Johannes Vermeer yang mengagumkan.

Entah berapa persis jumlah museum yang ada di Amsterdam, yang bisa saya ingat misalnya, Multatuli Museum, Anne Frank House, Rembrandthuis, dan Amsterdam Pipe Museum yang isinya bisa lebih dari pipa-pipa untuk merokok.

Sebuah pemandangan yang membuat saya terkejut saat datang ke Amsterdam kali ini adalah saat melihat sebuah gondola melintas di kanalnya. “Ini bukan Venisia, kenapa ada gondola?”, pikir saya. Seorang perempuan dengan piawai mengemudikan satu-satunya gondola yang membawa turis menikmati pemandangan kota, dia adalah Tirza Mol, perempuan belanda yang telah menarik banyak perhatian publik melalui aksinya mengarungi kanal-kanal Amsterdam dengan gondola. Konon dia melakukannya bukan semata-mata untuk mencari uang, tetapi lebih untuk kesenangan pribadi. Sebuah upaya yang menarik! Apakah Amsterdam sudah jadi Venici di utara?

Kaki mulai terasa pegal, saatnya mengarahkan tujuan kembali ke apartemen. Teng! Suara loceng jam berbunyi begitu nyaring, mata saya mengarah ke asal suara, menara yang namanya saya sebut di awal tulisan, Montelbaanstoren. Jamnya berdentang sekali, 21.30 waktu Amsterdam di akhir bulan Juli. Masih masuk zomer alias musim panas, masih terlihat matahari, walau sudah mulai akan meredup, kalau di Jakarta sudah melewati tengah malam.

Seorang lelaki kurus duduk di dekat kapal yang sandar tak jauh dari menara itu, lalu mengangkat tangannya, melihat romannya, orang ini sepertinya memang orang yang suka melaut, brewoknya agak mirip Kapten Haddock. Saya balas dengan lambaian serupa ditambah dengan sedikit senyuman. Dia rupanya memperhatikan saya yang beberapa saat memandangi menara itu.

Tak bisa dihindari dan sesungguhnya dalam hati saya menanti untuk bisa ngobrol kecil dengannya. Hans namanya, obrolan pemecah kebekuan kami lakukan sehingga hanya dalam waktu singkat dia nyerocos tentang menara yang ada tak jauh dari posisi kami bicara. Opa Hans menceritakan kisah yang katanya pernah dia dengar dari orang tuanya.

“Orang tua saya bilang, kalau menara ini namanya menara ratap tangis wanita!” Apa pasalnya? Konon, dari atas menara inilah para wanita mengantarkan para lelaki yang berangkat mengarungi samudra, dari menara inilah mereka bisa melihat kapal yang berlayar menghilang jauh di cakrawala. Lambaian tangan dan salam perpisahan dilakukan dari menara yang lokasinya tak jauh dari Pelabuhan Amsterdam.

Kemana perginya para pelaut itu dahulu kala? Hindia Belanda adalah salah tujuan utama. Perjalanan jauh, lama, dan penuh bahaya mengkhawatirkan hati para wanita akan keselamatan para lelaki yang dicintainya.

Mendengar itu saya diam saja, tak tahu harus ngomong apa…

Dank je, Opa Hans!

 

Sumber Lukisan Montelbaanstoren karya: 
Johannes C.K Klinkenberg (1852-1924) dan 
fotoMontelbaanstoren: Internet