Kado Ulang Tahun

Simalakama, dua acara terjadi di hari dan jam yang sama, 16 Agustus 2015 adalah waktu berkumpulnya warga di sekitar rumah kami untuk merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Sejak siang hari berbagai perlombaan digelar, balap kelereng, makan kerupuk, lomba masak untuk bapak-bapak, semua berlangsung semarak. Malam harinya silaturahmi dengan sajian jajanan rakyat juga sudah dipersiapkan, dengan berat hati kami minta izin pada para tetangga yang sudah datang di tempat acara untuk absen, tidak ikut acara malam ini.

Bukan tak ingin bergabung dengan mereka, Tiga buah undangan VIP Twilite Orchestra dari Addie MS yang disampaikan lewat Agustinus Sidarta, kawan kami, untuk menyaksikan Simfoni Bhinneka Tunggal Ika juga tak bisa diabaikan. Persis tujuh menit usai magrib kami bertiga mengarah ke Theater Ciputra Artpreneur, di Ciputra World, Jl Prof DR Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta.

Belum semegah The Royal Albert Hall di London atau Carnegie Hall di New York, tapi kehadiran Theater Ciputra Artpreneur ini seperti hawa sejuk di musim panas yang panjang. Sebuah tempat yang memberi ruang bagi berkembangnya dunia seni di Indonesia, dalam hal ini musik pada khususnya. Terima kasih Pak Ciputra.

Tanpa waktu mulur, pertunjukkan dimulai. Addie MS sang conductor tampil dengan tuksedo hitam, rapi dan berenergi memberi komando. Saya seperti melihat Herbert von Karajan atau Leonard Bernstein memimpin sebuah simfoni. Bedanya, sajian yang disuguhkan malam ini adalah lagu-lagu daerah di Indonesia.

Sebagai pembuka, ruangan mendadak bergelora saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, tanpa komando penonton lantas berdiri, posisi hormat. Sebuah pembukaan yang manis.

Tanpa banyak basa-basi Addie MS menyajikan lagu Tanah Airku karya Ibu Sud, dilanjutkan dengan Bungong Jeumpa (Aceh), Ayam den Lapeh (Sumatera Barat), Alusi Au (Sumatera Utara), O Ina Ni Keke (Sulawesi Utara), Teluk Lampung (Lampung), Ampar Ampar Pisang (Kalimantan Selatan), Na Sonang Do Hita Nadua (Sumatera Utara), Bolelebo (NTT) diselingi oleh medley lagu-lagu daerah Fantasia Nusantara for Harpa yang menampilkan kepiawaian seorang anak muda amat berbakat bernama Rama Widi dalam memetik Harpa.

Violin, Viola, Cello, Double Bass, Harpa, Simbal, Tuba, Trompet, Klarinet, Obu, hingga kendang bersahutan dengan harmonis menciptakan sebuah alunan musik yang membawa para penonton/pendengar hanyut dalam rasa bangga, riang, hingga rasa haru melalui komposisi lagu-lagu daerah yang dibawakan secara apik. Hati seolah dibangunkan, diingatkan akan sebuah negeri yang begitu kaya dengan pesona budaya dan lagu-lagunya.

Babak II dimulai setelah jeda istrirahat selama 15 menit. Lagu Rasa Sayange (Maluku), Angin Mamiri (Sulawesi Selatan), Fatwa Pujangga (Bangka-Belitung), Bengawan Solo (Jawa Tengah), Umang Umang (Bengkulu) di lagu ini tampil seorang pemain Akordion muda yang berbakat, Andreas Arianto Yanuar, dilanjutkan dengan lagu Soleram (Riau) Manuk Dadali (Jawa Barat), Gending Sriwijaya( Sumatera Selatan) dilanjutkan dengan turut tampilnya Twilite Chorus membawakan Ondel ondel (Jakarta), Sege Sege (Sumatera Utara). Acara ditutup dengan Nyayian negeriku, semua orang ikut bernyanyi dengan bendera merah putih terkibar di tangan.

Kami membayangkan suatu hari nanti Simfoni Bhinneka Tunggal Ika ini juga bisa terdengar di Berlin, Wina, Praha, London, New York, Paris, Melbourne, Singapura, dan banyak kota lain di dunia.

 

Sebuah kado yang indah.

Selamat ulang tahun ke-70, Indonesia!