Optimisasi Umum

Dullah termenung, walau tak sampai menangis dia hanya bisa memandangi air yang deras keluar dari talang sebuah bangunan di mana dia meneduh dari hujan deras siang itu, Dullah seorang penjual es krim keliling.

Rasyid hanya duduk di bawah pohon trembesi di sebuah tikungan jalan yang hari itu mendadak sepi, angkot yang biasa ramai di kawasan itu ‘lenyap” karena mogok mendemo kenaikan harga bensin, Rasyid adalah seorang pedagang rokok asongan yang pelanggannya adalah para sopir angkot di daerah itu.

Yayuk termangu melihat Iwan, anaknya, yang sudah pulas tertidur, bayaran sekolahnya sudah 2 bulan tertunggak, sebentar lagi Iwan akan menghadapi ulangan umum kenaikan kelas, bapaknya Iwan sudah lama pergi, entah kemana.

Halim terlihat manggut-manggut tanpa ekspresi, membaca banyak berita di sosial media yang isinya banyak tulisan, gambar yang menyeramkan dan orang-orang yang saling serang, sebarkan kebencian. Halim, seorang Cina yang masih sangat ingat peristiwa 1998.

Ucok sedang kebat-kebit, galau karena kiriman uang dari orang tuanya di Indonesia masih juga belum masuk dalam rekeningnya, Ucok seorang mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Belanda.

Dita terlihat gelisah, tak henti dia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya, perjalanannya ke kantor sudah menyita waktu 2 jam, lalu lintas Jakarta semakin hari kian menyita tenaga, waktu, dan biaya. Dita ingin sekali berteriak memaki kemacetan jalan, ia tak ingin terlambat mengikuti sebuah meeting penting.

Bukan hanya enam orang di atas yang sedang menderita persoalan mental emosional, Banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak sekali orang yang sedang mengalami pedertitaan yang sama, Problemnya bisa berbeda, tapi dampaknya tetap sama, stres hingga depresi.

Sebuah keterangan di harian KOMPAS dua hari yang lalu mengatakan penyebab utama tekanan/stres yang dialami 20.4 % adalah tekanan ekonomi (kehilangan pekerjaan/harga naik terus), 28.7% adalah persoalan keluarga (anak, pasangan, dan orang tua), 43.5% adalah karena pekerjaan menumpuk.

Efek dari tekanan emosional dan beban hidup ini sangatlah dahsyat, selain mudah memicu amarah dan konflik, stres dan depresi ini adalah faktor penting yang bisa mengakibatkan menurunnya produktifitas. Beberapa ahli malah ada yang berpendapat bahwa depresi dapat mengakibatkan makan berlebih dan malas beraktivitas.

Jika terus-terusan, kondisi stres bisa menurunkan kondisi tubuh, keadaan yang menjadikan badan rentan terkena berbagai penyakit. Itu berarti menimbulkan ketegangan baru dan meningkatnya biaya kesehatan yang harus ditanggung keluarga.

Namun demikian, kondisi ini bukan akhir dari segalanya, masih ada upaya yang bisa dicoba, selain usaha dan doa, motivasi adalah kunci penting bagi kita untuk keluar dari kondisi buruk yang sedang melanda.

Kami menawarkan untuk melakukan sebuah gerakan “Optimisasi Umum”, gerakan bersama sebagai percikan air segar bagi orang yang sedang dirundung duka dan nestapa, untuk orang yang sedang berputus asa, hingga mereka yang mungkin sudah frustasi hingga berencana untuk bunuh diri.

Kami ingin mengajak Anda untuk menjadi KITA, tanpa melihat asal usul agama, suku, partai, golongan, yang merasa miskin maupun yang merasa kaya, pelajar, mahasiswa, lelaki/perempuan, tukang bakso, pedagang nasi uduk, tukang cukur hingga direktur, di kota maupun di desa-desa untuk menyebarkan dan memasyarakatkan dua  kalimat affirmasi ini,

Hei, jangan bersedih!

Pasti ada jalan.

“Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan”

Segala upaya harus kita coba, pada Tuhan kita serahkan kelanjutannya.

 

 

Salam,

Iwan dan Indah

 

Note:

Dukungan bisa berupa mendoakan, menyebarkan/menempelkan, atau membantu membiayai biaya cetak stiker afirmasi ini.