Surat dari Manohara

Manohara Resort,  Magelang, 29 November 2014

Saat mendengar nama Manohara apa yang ada dalam pikiranmu? Beberapa pasti ada yang langsung membayangkan tampang artis Indonesia yang beberapa tahun sempat ramai kehidupan rumah tangganya dengan seorang pangeran dari negeri jiran, Malaysia. Manohara yang mau saya ceritakan di sini adalah Princess Manohara Resort, Center of Borobudur Study, sebuah kawasan di kaki candi Borobudur. Entah kebetulan atau tidak, nama Manohara memang ada juga dalam cerita relief di bagian candi Borobudur, Dicertitakan di situ bahwa Manohara adalah seorang putri yang cantik dan bersuara merdu. Silakan googling saja untuk lengkapnya.

Perjalanan ke Magelang ini tak lepas dari acara DesainerIngKampung yang diprakarsai oleh FDGI, Forum Desaign Grafis Indonesia yang mengadakan sharing di Desa Salaman dan Desa Gunung Awu. Sebuah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan tentunya untuk meluangkan waktu menengok candi Budha terbesar yang ada di muka bumi ini, Candi Borobudur.

Setiap kali membuka buku sejarah, ceritanya belum berubah, candi Borobudur dibangun oleh arsitek kondang di zaman itu yang bernama Gunadharma, dibangun di abad ke 9, saat dinasti Syailendra, di mana raja yang sedang berkuasa saat itu bernama Raja Samaratungga. Cerita tentang Borobudur bisa jadi sangat panjang, mulai dari kabar tentang batu, tanah dan debu akibat letusan gunung Merapi yang menimbun dan menyembunyikannya, hingga Raffles, Cornelius, Wilsen, Brumund, Leemans, restorasi yang dilakukan Theodor van Erp, hingga pemugaran besar-besaran yang dilakukan di tahun 1975 atas bantuan biaya badan PBB, UNESCO.

Entah tahun berapa terakhir kami datang ke candi yang berbentuk bujur sangkar ini, Ada yang bilang kalau candi ini dibangun dengan sekitar 2.000.000 bongkah batu, disusun dengan system kunci coakan dan sengkedan, tanpa lem, tanpa semen.

Semua data tentang Borobudur lengkap tersedia dalam berbagai bahasa di internet, tapi kalau mau main ke candi Borobudur saya sarankan datangnya pagi. Selain belum terlalu ramai, belum terlalu panas, masih bagus mataharinya buat foto-foto. Cuaca sore sebetulmnya juga bagus, tapi agak repot kalau tiba-tiba hujan turun, sulit mencari tempat berteduh.

Seperti sudah saya sampaikan di atas, Princess Manohara resort, tempat kami menginap ini letaknya persis di halaman candi Borobudur, hanya lima menit dari kamar. Usia mandi dan sarapan kami jalan kami menuju candi. Saat hendak masuk/naik ke candi, kami diwajibkan untuk memakai kain yang disediakan oleh pengelola candi, kain sarung batik berwarna biru itu kami pakai dengan cara mengikatnya di pinggang. Tak seperti yang kubayangkan, ternyata pengunjung di lokasi candi sudah ramai, ada beberapa rombongan pelajar dengan bus besar sudah sampai dan menyebar di sekitar pintu masuk. Semua orang tampak girang, saling berfoto, berlarian dengan penuh tawa.

Saya lupa mengitung jumlah anak tangganya, tapi tangga itulah yang mengantarkan kami ke Kamadhatu atau bagian paling dasar candi, di sinilah orang bisa memotret Borobudur secara utuh, saya sarangkan membawa lensa lebar untuk melakukannya. Naik lagi ke atas, bagian yang disebut Rupadhatu dan ke bagian paling atas yang disebut Arupadhatu.

Jika ingin lebih menikmati candi Borobudur, mintalah guide untuk menemani dan menceritakan bagian candi hingga relief yang menghiasi sekujur Borobudur.

Borobudur sejak 1991 ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Ribuan turis datang dari banyak penjuru negeri, bahkan penjuru bumi, dari begitu banyak souvenir yang ditawarkan, saya tak menemukan satu benda pun yang berkenan di hati. Mungkin ini tugas sekaligus tantangan bagi desainer lokal Magelang atau Indonesia untuk memikirkannya. Orang tentu ingin membawa sebuah kenangan yang berbentuk, bukan hanya foto dan cerita. Semoga.

 

Ayo kapan berlibur ke Borobudur.

 

Ciao!!!