Surat dari Temanggung.

Desa Kandangan, Temanggung, 17 April 2015

Entah untuk siapa surat ini harus kukirimkan, Aku begitu ingin sekali menceritakan perjalanan dan tempat yang amat sangat menyenangkan yang sedang kudatangi ini, desa Kandangan, di Kota Temanggung, Jawa Tengah.

Berawal dari sebuah obrolan ringan dengan teman-teman Rumah Sanur, ada Arief Budiman (dulu orang lebih sering memanggilnya Ayip Bali, mungkin karena terlalu banyaknya nama Arief di negeri ini, sehingga perlu menambahkan asal/tempat dia tinggal, hehe) Aty Tjalus, Bob Situmorang, Stephany Alouw, Tiro Sanchabahtiar, dan Tiara Inesti untuk  main atau silaturahmi ke rumah Singgih dan istrinya, Tri Wahyuni, di Temanggung.

Setelah perumusan tanggal mencapai kesepakatan, berangkatlah kami ke Temanggung. Rombongan ke Temanggung terbagi dua, saya dan Indah berangkat dari Jakarta, naik KA Argo Lawu malam hari dan tiba di Jogya keesokan harinya, (kami bersyukur Aris Utomo, sepupu yang tinggal di Jogya, punya waktu untuk menjemput ke stasiun Tugu). Rombongan satunya berangkat naik pesawat udara dari Bali, ada Ayip, Aty, Steph, Bob, Rio, Mas Yoyo. Belakangan, bergabung juga Joko dari Jakarta bersama rombongan kecil kami itu. Kami memutuskan candi Kalasan sebagai meeting point, candi itu sekarang sedang mengalami pemugaran. Jabat tangan, obrolan ringan, dan seduhan kopi membuat lelah akibat duduk semalam di KA Argo Lawu seperti luruh, rasanya segar, semangat dan kembali bertenaga :)

Dari Jogya menuju Temanggung menempuh jarak sekitar 70 km, melewati kota, Muntilan dan Magelang.

Ada pasti yang sudah mengenal teman kami Singgih ini, tapi pasti banyak juga yang belum tahu. Nama lengkapnya, Singgih Susilo Kartono, lulusan Desain Produk Institut Tehnologi Bandung ini memang memilih untuk tinggal di desa, namun walau dari desa karya Singgih sudah mendunia, radio kayu Magno. Radio cantik buatannya sudah banyak menghiasi dan mempercantik tampilan interior rumah-rumah di Paris, Munich, Berlin, Milan, New York, Tokyo, dan banyak kota lain di dunia. Sangat membanggakan.

Saat kami datang, Singgih dan timnya sedang serius menggarap sebuah proyek baru, sepeda dari bambu, diberinya nama Spedagi. Kesibukan makin terasa beberapa hari ini karena mereka akan berangkat ke Jepang. Mempersiapkan sepeda bambunya itu untuk dibawa dan dipresentasikan dalam 10th International Conference Design Sustainability di Negeri Sakura itu.

Selama di Temanggung kami tak menginap di hotel, Singgih sudah menyiapkan tempat untuk kami di rumah panggung kayu. Omah Kelingan namanya, terletak di tengah-tengah perkebunan kopi, entah di ketinggian berapa dari permukaan laut, udaranya lumayan adem. Di Omah Kelingan ini ada rumah pohon, dinamai kapsul, cuma cukup untuk satu orang, tingginya sekitar 3 meter dari permukaan tanah. Ada 4 rumah pohon yang tersedia, bagi yang ingin tidur ramai-ramai tersedia rumah panggung yang bisa menampung hingga 10 orang.

Susana malam hari di tengah kebun kopi sangat tenang, angin malam, suara khas alam tropis di malam hari dengan nyanyian jangkrik , kodok, dan teman-temannya. Di pagi hari, kokok ayam jantan adalah alarm alam yang sudah lama saya rindukan. Lenguh sapi yang sedang berjalan menuju persawahan, senyum para petani yang lebar dan sapa mereka yang bersahabat melengkapi kebahagiaan saya bertamu ke rumah Singgih.

Desa Kandangan ini pasti juga adalah tempat yang sangat dicari oleh mereka yang mencintai hobi fotografi, kebun kopi, sawah, ladang, pohon bambu, gunung, dan kehidupan masyarakat desa yang hangat. Ah kalian pasti akan suka.

Singgih sepertinya memang orang yang selalu gelisah, pikiran dan tangannya selalu ingin begerak memajukan desanya, tak pernah bosan dia mengajak warga sekitar rumahnya untuk menjaga kebersihan, keasrian, kerukunan, dan kemajuan desanya. Semoga makin banyak orang peduli desanya seperti yang dilakukan Singgih ini.

Kamu ingin merasakan juga serunya menginap di rumah pohon?

 

Salam dari Kandangan.