#57 Pemanah Ikan

(Surat Iwan untuk Ricky Pesik, sahabat, di Jakarta)

 

Wanci, Wangi-wangi, 2 Juli 2011

 

Inikah Wakatobi?

Sekarang baru bisa kumengerti mengapa kau suka berlibur ke tempat ini. Angin, ombak, pohon kelapa, dan pantai adalah panorama yang membuat hatiku berseri. Berseri adalah kata yang jarang kupakai, tapi sepertinya cocok sekali dengan suasana hati ini. Seumur hidupku, baru di sini bisa kulihat air laut begitu bening, sehingga warna-warni ikan yang hilir mudik di dalamnya jelas terlihat. Ah, kamu pasti sudah tahu kalau Wakatobi yang terletak di Perairan Tukang Besi adalah gugusan pulau dengan keragaman hayati kelas dunia. Orang sekelas Jacques Yves Costeau yang sudah pernah nyemplung di hampir semua laut di dunia konon juga mengakui perairan Wakatobi sebagai lokasi penyelaman yang luar biasa cantiknya. Sepertimu, banyak juga pelancong dari belahan dunia lain rela membayar mahal untuk bisa datang menikmati mahakarya Tuhan yang diletakkan di Tanah Air kita ini.

Sepertinya tak perlu kuceritakan lagi keindahan ikan argus bintik, napoleon, maupun pogo-pogo yang bergerombol di sela terumbu karang. Kau juga pasti lebih tahu tentang lumba-lumba di Resor Patuno atau tentang Wakatobi Dive Resort di Desa Lamanggau. Pemandangan yang menarik perhatianku saat sandar di pelabuhan ini adalah jajaran rumah panggung suku Bajo. Suku yang selama ini ceritanya hanya kubaca dari buku, kulihat dalam film dokumenter. Siang ini aku mampir di halaman rumah mereka. Di perkampungan itu kami melihat seorang pria sedang mendayung sampannya. Ya, sampan kecil itulah alat transportasi untuk keperluan sehari-hari mereka.

Pada Ikyu kuceritakan, laut bagi suku Bajjau atau Bajo, adalah denyut kehidupan. Sebagai pelaut andal, mereka biasa melaut hingga berbulan-bulan lamanya. Mungkin karena itu kemudian ada yang menyebut mereka sebagai nomaden laut. Hari ini Ikyu juga jadi tahu kalau Orang Bajo itu sangat mahir menangkap ikan dengan panah tradisional. Makin melongo lagi dia saat tahu kalau Orang Bajo bisa lama menyelam tanpa menggunakan tabung oksigen.

Tidak semua pertanyaan Ikyu soal suku Bajo bisa kujawab, aku harus lebih banyak belajar tentang suku laut ini. Tapi setidaknya kedatanganku ke Wanci di Pulau Wangi wangi ini menambah pengetahuan kami tentang keindahan, kekayaan alam, dan budaya Indonesia, sesuatu yang tak akan bisa kami lihat langsung jika hanya duduk di meja menghadap komputer di kantor atau di dalam kelas. Segarnya udara laut tak akan dapat kami hirup jika hanya berkutat dan menggerutu dalam kemacetan lalu lintas Jakarta.

Wakatobi, tempat ini pasti akan selalu kita ingin datangi kembali.

 

 

Iwan