#56 Opa La Ode

(Surat Indah untuk Selenia Sandraningtyas, sahabat, di Jakarta)

 

Wanci, 2 Juli 2011

 

Mendung menyambut kedatangan kami di pelabuhan Wanci, Pulau Wangi wangi, satu dari gugusan pulau Wakatobi. Alangkah senang hatiku, tempat ini adalah salah satu destinasi yang sudah lama ingin kudatangi. Beruntung sekali kami tiba di pagi hari, dan kapal sandar cukup lama, ada waktu turun ke darat dan melihat-lihat pemandangan.

Markonis Nauna kembali menemani kami turun ke darat. Ternyata dia punya banyak famili di Pulau Wangi wangi. Kami dikenalkan pada seorang pamannya yang biasa dipanggil Opa La Ode. Walau sudah berusia 78 tahun, kakek ini masih tampak sehat dan bersemangat. Dengan senang hati dia menemani kami berjalan-jalan di pulau.

Dari pelabuhan kami naik mobil sewaan, kendaraan kami melaju di atas jalan kecil beraspal. Di kiri dan kanan jalan terlihat beberapa rumah nelayan dan kebun. Dari jendela sebelah kiri, pantai berpasir putih dan airnya yang berwarna biru muda tampak mengintip dari balik rerimbunan semak dan pohon-pohon kelapa di sepanjang jalan yang kami lalui.

Setelah sekitar 20 menit berkendara, mobil yang kami tumpangi berbelok memasuki sebuah gang, rupanya Opa La Ode membawa kami ke Resor Patuno di daerah Waetuno. Kulihat beberapa turis asing sedang bersantai. Sebagian besar wisatawan, lokal maupun mancanegara yang datang ke Wakatobi adalah para penyelam yang ingin menikmati keindahan alam bawah laut.

Inginnya sih, bisa tinggal lebih lama untuk bisa menikmati suasana pantai, tapi belum puas melihat-lihat dan berfoto kami sudah harus bergegas kembali ke pelabuhan. Sebelum memasuki dermaga Wanci, kami menyempatkan diri untuk mampir ke perkampungan Suku Bajo yang letaknya tidak jauh dari situ. Melihat dari dekat, kampung yang berdiri di atas laut ini penuh oleh rumah-rumah panggung yang saling berhimpitan. Meskipun demikian, tidak ada kesan kumuh. Air laut di bawah rumah-rumahnya bersih dan bening, tak ada sampah terlihat. Setiap rumah memiliki perahu kayu yang ditambatkan pada tiang rumah mereka. Dengan perahu itu orang-orang suku Bajo bepergian, konon perginya bisa ke pulau-pulau yang letaknya jauh dari tempat tinggal mereka. Sayang sedang gerimis, jadi kami hanya bisa melihat dari dalam mobil saja.

Waktu kami kembali ke kapal, Opa La Ode memberi kami sebuah kejutan. Empat ikan bakar berbungkus daun pisang lengkap dengan sambal tomat sudah menanti di ruang makan. Masih hangat dan baunya harum sekali. Rupanya saat kami berjalan-jalan tadi, Opa La Ode sudah meminta keluarganya untuk membakarkan ikan, lalu mengantarkannya ke atas kapal. Wah, senang bukan kepalang kami menerima makanan istimewa itu. Siang ini kami punya menu spesial, tidak harus makan masakan kapal yang itu-itu lagi.

Bukan hanya melihat pemandangan yang indah, suku Bajo, dan ikan bakar yang lezat, tapi perhentian di Wanci juga membuat kami merasakan kehangatan keluarga Opa La Ode yang berjanji untuk menyambut apabila kelak suatu hari nanti kami bisa kembali datang ke Pulau Wangi wangi.

 

 

Indah