#55 Harum Bau bau

 

(Surat Ikyu untuk Mahayu Harianti, sahabat, di Jakarta)

 

Bau bau, 1 Juli 2011

 

Sudah gelap, dari anjungan aku bisa lihat lampu-lampu kecil dari Pulau Buton. Waktu Om Suryadi, mualim II di kapal ini, bilang kita akan sampai di kota yang namanya Bau bau, aku tertawa karena merasa itu lucu. Seperti apakah kota yang bernama Bau bau itu? Di Bau bau aku ikut Bapak, Ibu, dan tante Decyca turun ke darat. Di pelabuhan banyak orang yang menyodorkan helm. Ternyata mereka adalah tukang-tukang ojek. Selain ojek, angkutan umum di sini adalah angkot. Dari dalam angkot terdengar suara musik yang keras sekali, semua angkotnya full music.

Dari Kak Aphenk aku tahu ada tempat wisata di dekat pelabuhan, namanya Pantai Kamali. Karena Om Suryadi bilang lokasinya tidak jauh, kami tidak naik kendaraan tapi berjalan kaki saja. Sekarang malam Sabtu, Pantai Kamali lumayan ramai oleh pengunjung dan pedagang yang berjualan macam-macam mainan, obat, alat elektronik, sepatu, dan lain-lain. Kebanyakan sepertinya mainan-mainan made in China.

Kami berjalan-jalan di sepanjang pantai. Tidak banyak yang menarik, satu-satunya yang paling kuingat adalah sebuah patung naga besar. Aku tidak tahu apa arti dari patung naga itu.

Selesai jalan-jalan kami makan malam di Restoran Bersaudara. Menunya sop konro dan ikan baronang bakar. Ikannya segar, besar, dan harum, enak sekali. Bapak juga membeli koran Bau bau Pos dan KOMPAS supaya bisa tahu berita paling hangat yang sedang terjadi di Jakarta dan

di kota ini.

Habis makan, kami kembali lagi ke kapal. Di dekat pintu gerbang pelabuhan ada patung buah nanas raksasa. Seorang tukang ojek yang ada di dekat situ berkata pada kami sambil menunjuk ke arah patung buah nanas, katanya, satu kota sudah makan buah itu tapi tidak habis-habis. Hahaha, kami semua tertawa, lucu juga. Sama seperti patung naga di Pantai Kamali, aku juga tid

ak tahu apa arti dari patung nanas itu. Mungkin kota Bau bau penghasil nanas?

Nah, itulah cerita singkatku dari Bau bau. Kota Bau bau ternyata tidak bau seperti yang kubayangkan sebelumnya. Dan besok lebih seru lagi, KM KELIMUTU akan membawa kami ke Pulau Wangi wangi. Kita lihat saja, apakah pulau itu juga wangi seperti namanya? :)

 

 

Ikyu