Apa bagusnya film Filosofi Kopi?

Menjawab rasa penasaran dan riuh rendah pembicaraan di media sosial tentang film Filosofi Kopi, sore ini kami sekeluarga berangkat ke bioskop di dekat rumah. Tak bisa mengejar waktu penayangan sore hari, kami baru dapat membeli tiket untuk waktu tonton pukul 19.00 WIB.

Tak terlalu penuh penonton yang masuk di jam tayang ini, mungkinkah karena banyak orang kita yang masih apriori dengan film indonesia? Entah, dan saya tak mau pusing memikirkan itu semua.

Selain menjawab rasa penasaran, ini juga mungkin hanya sebentuk kecil dukungan pada teman kami, Handoko Hendroyono, yang sudah berlelah menekuni dunia barunya, film.

Saya tak mau berharap banyak saat masuk dalam bioskop, takut kecewa. Saya juga khawatir bakal bikin sakit hati Handoko. Ikyu bertanya pada saya, “Bapak sudah baca resensinya?” Saya mengangguk. “Bagus?”, lanjut tanyanya. “Kita tonton saja”. Dia merengut sambil terus berjalan.

Film mulai diputar. Adegan demi adegan muncul saling bergantian. Gambar bagus, dialog mengalir wajar, akting yang lumayan pas dengan tuntutan peran yang dibutuhkan. Cerita berputar sekitar kopi, tentang kehidupan para peraciknya dan para penikmatnya. Kombinasi rasa kopi dan perasaan orang-orang di sekitarnya diaduk secara perlahan.

Menonton film Filosofi Kopi membuat saya seolah menghirup aroma khas yang mengingatkan kembali pada komoditi hasil tanah negeri yang bisa jadi adalah yang terbaik di muka bumi.

Menonton Filosofi Kopi seolah menyodorkan fakta manusia dan kopi seolah saling melengkapi, dramatisasi kehidupan yang dipercaya merupakan paduan akal dan hati disajikan secara pas, tanpa terasa memaksa. Kopi pilihan dan cara penyajian adalah sebuah keharusan, sebagaimana manusia menggunakan hati dan akal dalam menjalani kehidupan.

Menonton film Filosofi Kopi mengingatkan saya pada buku Multatuli, Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij (Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda), novel yang bikin geger Negeri Belanda terbitan 1860 itu bercerita tentang kekejaman kolonialisme di Hindia Belanda. Telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa di dunia, buku tersebut dipercaya berperan besar dalam upaya mengakhiri kolonialisme Belanda di tanah jajahannya.

Jika buku Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda memicu berakhirnya tanam paksa dan hengkangnya Belanda, semoga film Filosofi Kopi bisa jadi pemantik menyalanya kembali kejayaan film dan kopi di Indonesia.

 

Slurp…

Silakan diminum, eh ditonton filmnya…