#54 Mati 10 Kali

(Surat Indah untuk Sari Wulandari, sahabat, di Jakarta)

 

Laut Banda, 30 Juni 2011

 

Penumpang di KM KELIMUTU ini sangat beragam, laki-laki-perempuan, tua-muda, beraneka pula suku, agama, dan budayanya. Lengkap! Hari ini aku kenalan dengan beberapa mahasiswi Akademi Perawat dari kabupaten Muna di Pulau Buton, mereka baru saja selesai praktek kerja lapangan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Seru sekali ngobrol dengan mereka, meskipun beberapa perbedaan bahasa kadang membuatku bingung, misalnya saat mereka bertanya, “Kita sedang baca apa?”, aku bengong, tak tahu harus menjawab apa. Setelah

dijelaskan bahwa “kita” dalam bahasa Muna berarti “kamu”, barulah aku paham yang mereka maksud.

Salah satu dari mahasiswi itu bernama Aphenk. Kalau kuperhatikan, gadis ini sepertinya suka sekali membaca dan tampak tertarik dengan buku yang kubawa. Sambil membolak-balik halaman buku, dia cerita banyak tentang suka-dukanya selama tinggal di Bandung.

Aphenk mengaku minder saat pertama datang ke Bandung, di Muna akses untuk mendapatkan informasi masih kurang memadai sehingga mereka sedikit tertinggal. Jangankan internet, perpustakaan kampus dirasakannya kurang menyediakan sumber bacaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa. Tetapi akhirnya dengan bekerja keras selama di Bandung, mereka bisa juga mengejar ketinggalan itu.

Hal yang paling menyenangkan bagi Aphenk selama di Bandung adalah banyaknya toko buku yang menyediakan aneka pilihan bacaan, itu bagai surga baginya. Dengan mata berbinar, Aphenk menceritakan betapa takjub dan girang hatinya waktu pertama kali memasuki toko buku di Bandung. Tidak ada toko buku macam itu di tempat asalnya, Kota Muna.

Tetapi, meskipun di Bandung tersedia berbagai fasilitas lengkap, Muna tetap menjadi surga yang selalu dia rindukan. Aphenk sempat kehilangan nafsu makan sampai berat badan susut beberapa kilo. Aku heran, bagaimana bisa, bukankah Bandung gudangnya makanan enak? Muna adalah daerah yang kaya hasil laut, ikan segar adalah santapan sehari-hari penduduk di sana. Rupanya Aphenk tak berselera makan ikan selama di Bandung, karena ikannya sudah tak segar lagi. Katanya, ikan-ikan di Bandung sudah mati 10 kali. Aku jadi tertawa mendengarnya.

Selain soal makanan, saat sedang stres Aphenk tidak tahu harus pergi ke mana untuk refreshing. Di Muna, orang biasa memandang laut untuk menghilangkan stres dan mengusir penat. Katanya, bila melihat laut, semua beban pikiran jadi hilang.

Saat kutanya, apakah setelah lulus nanti dia ingin bekerja di Bandung atau daerah lainnya di Jawa, Aphenk menggelengkan kepala. Dia bilang ingin mengabdi di daerahnya, dan kalaupun harus keluar daerah dia akan memilih untuk bekerja di Papua, Ambon, atau daerah lainnya di Indonesia Timur. Menurut Aphenk, tenaga perawat masih kurang dan sangat dibutuhkan di sana.

Iwul, ternyata tidak semua orang memandang Pulau Jawa sebagai satu-satunya pulau yang paling menarik dan menjanjikan di negeri ini.

 

 

Indah