#52 Kencing Kecoak

(Surat Iwan untuk M. Arief Budiman, sahabat, di Yogyakarta)

 

Laut Flores, 30 Juni 2011

 

Entah berapa banyaknya jumlah kecoak di kapal ini, walau beberapa perangkap kecoak yang kami pasang di dalam kamar sudah penuh, tapi tetap saja masih banyak yang bebas berkeliaran. Indah paling rajin mengoleskan lotion anti serangga pada tangan dan kakinya sebelum tidur, tapi sepertinya kecoak di kapal ini sudah kebal, tetap saja merayap dengan lincahnya. Semalam sempat kulihat ada seekor yang merayap di kakinya, tapi kudiamkan karena tak ingin membuatnya terbangun.

Hari ini KM KELIMUTU melintasi laut Flores, ke selatan, menuju Makassar. Pagi sekali aku terbangun karena mendengar senda gurau dua pemuda di balik jendela kamar. Aku langsung mandi, selain untuk menyegarkan badan, mandi adalah cara membersihkan diri yang paling baik, apalagi pagi ini badanku terasa gatal, mungkin semalam sempat dirayapi kecoak juga. Persediaan air di kapal cukup melimpah, tapi saluran yang mampet membuatku tak bisa berpuas-puas mengguyur badan. Semakin banyak air yang kupakai, semakin banyak juga yang harus kubuang ke kloset. Ada semacam peraturan tidak tertulis di antara kami, siapa saja yang selesai menggunakan kamar mandi, maka dia harus meninggalkannya dalam keadaan kering.

Selain berurusan dengan kecoak dan saluran mampet, kadang kami juga merasa bosan. Seperti kemarin, kami mengisi waktu dengan ngobrol di anjungan. Di sana kami saling tukar cerita dengan para ABK. Obrolan kami mendadak sempat terhenti, tak seperti biasanya hari ini muncul salah seorang mualim dengan kacamata hitam. Selidik punya selidik ternyata itu bukan untuk bergaya, melainkan usaha menutupi kelopak matanya yang bengkak. Ada yang bilang, matanya bintitan akibat infeksi dikencingi kecoak. Ikyu terkejut waktu mendengarnya, pandangannya langsung mengarah padaku dan Indah, dan tanpa kusadari aku pun mengucek mata yang saat itu tiba-tiba saja terasa gatal.

Menjelang senja tujuan kami sudah di depan mata, dari kejauhan terlihat Pantai Losari yang terkenal itu tampak ramai. Kota ini sekarang sudah makin bersolek, menampakkan kecantikannya yang melegenda. Laporan pandangan mata tentang Makassar ini pernah ditulis Alfred Russel Wallace, seorang naturalis, penjelajah, antropolog, dan pengembara yang pernah datang ke kota ini di abad 18. Wallace menulis bahwa Macassar merupakan kota tercantik dan terbersih di Timur. Semua rumah orang Eropa harus dicat putih bersih, dan setiap jam empat sore jalanan di depan rumah harus disiram. Bayangkan betapa asrinya Makassar kala itu.

Mendekati Makassar lewat jalur laut merupakan pengalaman baru bagiku. Dari jalur ini pulalah armada Belanda dulu masuk, dan kemudian menyerang serta memaksakan Perjanjian Bongaya, perjanjian yang membuat Benteng Ujung Pandang berpindah tangan dari Kerajaan Goa ke pihak Belanda. Sejak itu nama benteng kokoh berbentuk penyu itu berubah menjadi Fort Rotterdam. Di benteng itu pula Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa yang sangat ditakuti Belanda pernah dibui. Kisah dan ilustrasi sejarah tentang berbagai peristiwa di Makassar dan sekitarnya kubaca di buku Klamboes Klewangs Klapperbomen karya Pierre Heijboer.

Selain kaya dengan cerita sejarah, Makassar adalah tempat yang asyik untuk makan-makan, aneka kuliner lezat seperti pisang epe, coto konro, palubasa, palubutung, dan pisang ijo sangat menggugah selera. Wah, aku sudah membayangkan nikmatnya mencicipi makanan-makanan itu nanti.

Kembali ke masalah kecoak, trauma kencing kecoak membuat konfrontasi kami dengan binatang menjijikkan itu makin menjadi, garis demarkasi dari kapur anti kecoak yang kami toreh di dinding dan lantai karpet kamar tak berfungsi, tidak mempan. Pelan-pelan Ikyu terlihat mulai berani mengejar dan memukul kecoak dengan sandal karet warna biru milik ibunya. Saat tak ada sandal, dia menggunakan tisu untuk menindas kecoak-kecoak kecil lalu membuangnya ke tempat sampah. Tapi soal perburuan kecoak, Decyca-lah yang paling gagah berani, dibunuhnya kecoak sekali tepak dengan tangan kosong. Pertama melihat aksi itu Ikyu melongo dan takjub, sementara Decyca cuma senyum-senyum sambil bergegas mencuci tangannya bersih-bersih. Kerasnya hidup di kapal membuat kami jadi sedikit sadis rupanya.

Sekarang hampir pukul 19.00 WITA, pengumuman terdengar dari pengeras suara, sebentar lagi kapal akan sandar di pelabuhan Makassar, dan seperti biasa penumpang yang mau turun diminta berkemas dan mempersiapkan diri. Ini kesempatan baik untuk membeli tambahan bekal perjalanan selanjutnya dan mencicipi kuliner Makassar. Selain itu, rencana Indah saat turun dari kapal nanti adalah membeli minyak tawon khas Makassar. Jaga-jaga, siapa tahu salah satu diantara kami ada yang matanya bintitan dikencingi kecoak, obat gosok yang berupa ramuan minyak kelapa, minyak kayu putih, cengkeh, daun lada, kunyit, dan bawang itu kuyakin manjur mengobatinya.

 

Iwan