#51 Bumbu yang Ditunggu

 

(Surat Indah untuk Ditta Amran Balke, sahabat, di Munich, Jerman)

 

Dari Bima menuju Makassar, 30 Juni 2011

 

Setelah beberapa malam tak bisa tidur karena kepanasan, semalam akhirnya aku bisa tidur nyenyak. Sejak kapal mulai berlayar kuperhatikan ada saja yang diperbaiki oleh para ABK, lantai geladak disikat, dinding luar serta railing kapal termasuk sekoci dicat ulang, lampu yang pecah diganti, ruangan serta saluran air juga dibersihkan. Rupanya kemarin giliran pendingin udara yang diperbaiki. Suhu udara di kamar sekarang sudah terasa sejuk. Setelah didandani si tua KM KELIMUTU kelihatan lebih klimis dibandingkan pada saat berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya, beberapa hari lalu. Sayangnya saluran di kamar mandi kami masih mampet, tiap selesai mandi kami harus menyerok dan membuang air yang menggenang itu ke kloset, syukurnya kloset tidak ikut-ikutan mampet.

Setelah mandi dan sarapan, hal yang paling kusukai di pagi hari adalah berkeliling kapal. Tadi malam, saat kapal sandar di Bima, kulihat banyak sekali penumpang dan barang yang dinaikkan. Ikyu sempat menghitung ada bawang merah sebanyak tujuh truk yang dimuat ke atas kapal. Bawang adalah salah satu bahan penting dalam hampir setiap masakan bukan? Nah, di kapal ini tak perlu takut kehabisan bawang, karena ada berton-ton bawang berlayar bersama kami. Bawang putih dari Surabaya yang memenuhi geladak dan haluan dek 5 kini sudah menemukan pasangan sejatinya, yaitu bawang merah dari Bima.

Pagi ini aku bertemu dan berkenalan dengan beberapa orang petani bawang merah asal Sape, Nusa Tenggara Barat. Oleh merekalah bawang-bawang itu ditanam, dirawat, dipanen, lalu mereka bawa pergi jauh meninggalkan kampung halaman untuk dijual di Timika. Pak Sapri, salah seorang petani yang ngobrol denganku bercerita, bahwa sebagian besar bawang dari Bima dikirim ke wilayah Indonesia Timur seperti Makassar dan Timika. Untuk Indonesia Barat, bawang dari Bima katanya sulit bersaing dengan bawang dari daerah lain seperti Brebes.

Kalau petani lain berdoa agar turun hujan, petani bawang justru berdoa agar hujan tidak turun, karena hujan yang terlalu banyak bisa menyebabkan tanaman bawang busuk dan mengakibatkan mereka gagal panen. Saat musim panen harga bawang biasanya menjadi lebih rendah, salah satu cara mereka untuk menyiasati hal tersebut adalah dengan menjadikannya bawang goreng. Karena itulah kini di Bima juga banyak muncul usaha rumahan yang memproduksi bawang goreng.

Dari cerita yang kudengar, baru kusadari betapa panjang jalan yang harus dilalui para petani dan bawang-bawangnya itu, belum lagi biaya yang harus mereka keluarkan untuk membayar ongkos transportasi. Kata Pak Sapri, biaya menurunkan bawang di Timika nanti akan lebih mahal bila dibandingkan dengan saat menaikkannya di Bima. Memang, di Timika harga jual bawang cukup tinggi, tapi mengingat besarnya biaya dan tenaga yang harus mereka keluarkan, mungkin keuntungan yang diperoleh hanya sekedar cukup untuk membiayai kebutuhan hidup mereka secara sederhana saja. Waktu kutanya tentang berita seputar politik dan kerusuhan di Bima, Pak Sapri cuma tersenyum dan bilang tidak tertarik pada masalah itu. Bisa tanam bawang, beli pupuk, usir hama, panen, dan dapat menjualnya dengan harga yang baik untuk hidup dan membiayai anak bersekolah jauh lebih penting baginya.

Aku berdoa agar KM Kelimutu tidak menemui hambatan dan bisa tiba sesuai jadwal di Timika. Bukan hanya keluarga di Sape yang menanti para petani bawang kembali pulang, tapi para ibu dan juru masak di Timika tentu akan kerepotan kalau persediaan bawang sudah habis sedangkan pasokan baru tak kunjung datang.

 

 

Indah