#50 Tambora dan Napoleon

 

(Surat Iwan untuk Alia Helianti K, Desainer, sahabat, di Jakarta)

 

Laut Flores, 29 Juni 2011

 

Matahari bersinar cerah pagi ini, warnanya yang kuning keemasan memantul di permukaan air asin Laut Flores. Kapal melaju dalam kecepatan 11 knot. Seperti biasa aku, Indah, dan Ikyu sedang berada di ruang kemudi. Tadi aku sempat melihat Pulau Moyo dari kejauhan. Pada Ikyu kuceritakan tentang pulau yang mampu memikat hati mendiang Princess of Wales atau Lady Diana dan banyak selebritis dunia lainnya untuk berlibur. Suatu hari ingin juga rasanya melihat dan menikmati keindahan alam pulau yang terletak di mulut Teluk Saleh itu.

Pukul 10.17 WITA pemandangan berganti, Markonis Muhammad Nauna mengarahkan telunjuknya ke sebuah gunung yang puncaknya tertutup awan tebal, sambil setengah berteriak dia memberitahu aku bahwa itu adalah Gunung Tambora. Lelaki yang bertanggung jawab untuk segala urusan radio dan komunikasi kapal itu memang harus bersuara keras agar ucapannya tak tersapu angin dan gemuruh ombak. Terus terang aku agak terhenyak mendengar kata Tambora, banyak cerita merindingkan pernah kudengar tentang gunung yang tampak menjulang dilihat dari sisi sebelah kanan kapal ini.

Kalau melihat gunung Tambora dari laut yang tampak tenang dan hijau dibalut pepohonan, sulit untuk percaya pada peristiwa yang terjadi 15 April 1815 saat gunung api ini meletus. Bayangkan saja, radius 600 kilometer dari titik ini mendadak jadi gelap selama seminggu, bagai ledakan kanon raksasa yang menggelagar, suaranya terdengar hingga Sumatera, jutaan ton abu dan debunya jatuh hingga Maluku, Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan. Tsunami terjadi di banyak pantai, tak terdata berapa persisnya jumlah korban jiwa yang jatuh karenanya.

Konon suhu bumi mendadak turun karena sinar matahari yang memancar ke bumi tertahan oleh atmosfir yang penuh debu dan asap yang disemburkan Tambora. Dalam beberapa catatan sejarah yang pernah kubaca, dampak ledakan Tambora mengakibatkan banyak gagal panen di Eropa, Cina, dan banyak tempat di belahan lain dunia. Panen gandum yang gagal, suhu yang lembab membuat penyakit tipus serta disentri menjangkiti banyak orang di bumi belahan utara. Akibat perubahan iklim itulah yang membuat orang Eropa menyebut kondisi saat itu sebagai tahun mendung, the year without summer.

Entah betul atau tidak, ada yang bilang kekalahan pasukan Napoleon Bonaparte di Waterloo itu salah satu penyebabnya adalah musim dingin serta hujan yang berkepanjangan, efek dari meletusnya Gunung Tambora.

Gunung Tambora yang terletak di kabupaten Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat ini juga pernah menginspirasi Ganes TH, komikus legendaris Indonesia, untuk membuat cerita berjudul Manusia Serigala dari Gunung Tambora. Tak heran memang kalau gunung itu menyimpan banyak misteri, letusan Tambora disebut oleh Badan Geologi Amerika Serikat sebagai letusan gunung terkuat yang pernah tercatat, hanya kalah oleh letusan Gunung Toba di Sumatera. Letusan Tambora ini 10 kali lipat letusan Gunung Krakatau, atau 10.000 kali lipat erupsi Eyjafjallajökull di Islandia yang sempat menganggu jadwal penerbangan di Eropa Utara, tahun 2010 lalu.

Aku jadi ingat poster karyamu yang berjudul The Ring of Fire. Di balik ancaman dari ratusan gunung berapi yang setiap hari menghimpun energi, terhampar tanah subur dan panorama yang menawan, negeri kita memang hanya untuk para pemberani. Aku setuju dengan kata-kata yang tertulis dalam postermu, For those who seek untamed beauty, there’s certainly no place like Indonesia.

 

 

Iwan