#49 Perangkap Maut

 

(Surat Indah untuk Arief “Ayip” Budiman dan Aty Tjalus, sahabat, di Denpasar, Bali)

 

Antara Benoa – Bima, 29 Juni 2011

Terima kasih sudah bersusah payah menemui kami di Pelabuhan Benoa kemarin malam. Jarak dari pelabuhan ke supermarket terdekat ternyata lumayan jauh. Kendaraan umum juga sulit didapat. Untung ada kalian yang mengantar kami ke sana. Pisang, apel, makanan ringan, mie instan, permen, tisu, plastik sampah, hingga kapur anti kecoak sudah diperoleh. Sekarang kami bisa tenang, punya alternatif makanan yang cukup untuk beberapa hari ke depan.

Bagaimana pendapat kalian tentang kabin dan kamar mandi kami? Itu kamar terbaik di kapal ini, lho. Pagi tadi, pintu kamar diketuk petugas yang akan mencoba membereskan masalah saluran air yang mampet di kamar mandi. Mampet? Ya, betul mampet. Tadi malam, selepas Benoa, kudapati air menggenang di lantai kamar mandi, seharusnya air mengalir keluar melalui saluran pembuangan. Hal itu langsung kami laporkan pada Pak Bambang, ABK yang bertugas mengurusi kabin kelas 1 dan 2. Dia memenuhi janjinya untuk segera menangani masalah di kamar mandi kami.

Karena ruang yang sempit, sulit untuk melihat apa yang dilakukan para petugas untuk membereskan saluran kamar mandi. Yang kulihat, mereka membawa tongkat vacuum dan mencoba menyedot lubang pembuangan, tapi tidak berhasil. Pak Bambang memakai cara lain, dengan menyemprot lubang saluran menggunakan air bertekanan tinggi. Jarak dari kamar mandi kami ke kran air yang berada di luar cukup jauh, sehingga dibutuhkan aba-aba dengan teriakan secara estafet. Suaranya terdengar heboh dan dramatis. Setelah disemprot saluran pembuangan kembali berfungsi normal.

Tapi, rasa lega tak berlangsung lama, sore ini saluran di kamar mandi sudah mampet lagi. Muncul juga masalah baru, karpet di kamar semakin basah dan lembab, ada rembesan air yang masuk, mungkin akibat hujan yang turun semalam. Kamar yang lembab kini semakin apek saja. Tak ada pilihan, kami harus menerima. Ini kapal tua, dindingnya sudah banyak yang keropos, mengeluh bukan jalan keluar. Karpet basah kami tutupi dengan plastik sampah yang kami beli di Benoa kemarin.

Meskipun belum sepenuhnya bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sini, aku dan Iwan terus berusaha untuk tetap semangat dan bergembira. Kami beruntung sudah mulai mengenal beberapa Perwira dan ABK, mereka sangat baik dan tidak keberatan bila kami sesekali main ke anjungan. Anjungan memang tempat yang nyaman, di situ kami bisa membaca buku, menggambar, menulis, atau tidur di terasnya. Ikyu juga setuju, ruang kemudi kapal ini adalah tempat yang paling nyaman, selain bisa melihat pemandangan dengan lebih jelas kami juga bisa banyak ngobrol dan dapat pengetahuan baru dari para pelaut, membaca cuaca, membedakan ombak dan alun, sampai cara membuat perangkap kecoak.

Ternyata membuat jebakan kecoak cukup mudah, dengan mengoleskan mentega pada botol bekas air mineral yang di dasarnya sudah diberi umpan berupa sisa-sisa makanan. Botol itu ditempelkan di dinding dan dalam waktu yang tidak lama akan segera dipenuhi kecoak yang terperangkap di dalamnya, mentega yang licin membuat kecoak terpeleset setiap kali mencoba untuk keluar. Kami sudah minta Pak Bambang untuk memasangkan beberapa perangkap kecoak di kamar supaya kegiatan memukul kecoak dengan sandal bisa berkurang.

Kami akan terus berlayar. Kecoak, saluran mampet, dan kamar yang lembab justru semakin menambah seru kisah perjalanan ini.

 

 

Indah