#48 Diayun Alun

 

(Surat Ikyu untuk Amy Ariesta, teman, di Jakarta)

 

Benoa, 28 Juni 2011

Aku benar-benar stres dengan keadaan di kapal yang banyak kecoaknya. Selain itu goyangan kapal juga bikin kepalaku pusing. Kata ABK di sini, yang membuat kapal bergoyang ke kiri dan kanan itu namanya alun. Alun beda dengan ombak, alun adalah arus yang ada di bawah laut. Jadi biar air laut kelihatan tenang, tapi sebetulnya arus di bawahnya sangat kuat.

Sekarang, aku baru sampai di Benoa. Waktu sampai di pelabuhan ini aku lihat sebuah kapal pesiar, ukurannya lebih kecil dari KM Kelimutu tapi kapalnya sangat bagus. Lampu-lampunya menyala terang, kursi-kursinya berlapis kain putih dan bersih, dari luar aku bisa lihat ruang makan dengan meja-meja dan gelas-gelas kristal di atasnya. Semoga suatu hari aku bisa datang lagi ke Bali dan naik kapal pesiar yang keren itu. Aku agak iri dengan penumpangnya, karena kapal yang kunaiki jelek. Tapi biar jelek sebetulnya juga tidak apa-apa sih, karena, kata Ibu di KM Kelimutu aku akan dapat lebih banyak pengalaman baru dan seru.

Aku, Bapak, Ibu, dan Tante Decyca turun dari kapal dan pergi ke supermarket membeli makanan untuk persediaan. Kami beli buah, biskuit, permen, dan makanan instan yang tidak perlu dimasak. Sebenarnya ada dapur kecil di ruang anjungan, tapi aku tidak tahu apakah boleh ikut memasak di sana. Kalau boleh pasti enak, bisa masak mie instan kesukaanku. Aku juga beli DVD, untuk ditonton kalau aku lagi bosan. Sebetulnya aku sudah bawa beberapa film dari rumah, tapi untuk perjalanan ke Merauke ini sepertinya aku butuh lebih banyak DVD.

 

Ikyu