#47 Bantal Kumal

 

Surat Indah untuk Nana Artsiana, sepupu, di Surabaya, Jawa Timur

 

Tengah laut, antara Surabaya-Benoa, 28 Juni 2011

Ada benarnya kamu tak ikut kami naik KM KELIMUTU ini. Apa yang kamu takutkan benar-benar jadi kenyataan. Sukar melukiskan perasaan yang berkecamuk begitu kakiku menjejak lantai lambung kapal tua buatan Jerman tahun 1986 ini. Aku, Iwan, Ikyu, dan Decyca, kami berempat hanya bisa saling pandang. Banyak orang mengatakan kepada kami sebelumnya, untuk tidak berharap terlalu banyak pada kondisi kapal ini dan kami sudah siapkan mental untuk itu. Tapi, tetap saja kami terkejut dengan kondisi yang kami jumpai.

Kecoak yang jumlahnya ratusan bahkan mungkin ribuan berkeliaran dengan bebasnya di seluruh penjuru kapal. Mulai dari ukuran imut-imut, sedang, sampai yang hampir sebesar belalang, semuanya ada! Bisa kamu bayangkan, seperti apa paniknya kami. Apa lagi Ikyu yang tidak menyangka kapal ini sangat jauh berbeda kondisinya dengan KM KELUD yang pernah ditumpanginya ke Belawan. Dia benar-benar shock.

Kamar kami ada di kabin nomer 508. Itu kamar kelas I, kamar terbaik, tapi kondisinya sama merana dengan hampir seluruh bagian di kapal ini. Gorden yang menutupi satu-satunya jendela di kamar sudah kusam dan robek, gambar hias yang menggantung di dinding kamar sudah rompal di bagian pinggirnya, pintu lemari pakaian tidak bisa ditutup rapat karena sebagian engselnya sudah lepas, kasur terlalu keras, bantal dan guling terlalu lembek dan kumal, sprei dan sarung bantalnya sudah tidak bisa dikatakan putih lagi, karpet lembab, dan sampah berserakan di bawah tempat tidur.

Dan kamar mandi? Oh, mbak Nana, kamu harus lihat kamar mandinya! Gagang shower sudah lenyap entah ke mana, digantikan dengan dua buah ember besar berwarna abu-abu. Wastafel, kloset, dan keramik dinding serta lantainya yang berwarna putih sudah menguning, satu bagian dinding kamar mandi tampak berlubang dan berkarat, rak tempat menyimpan peralatan mandi juga kotor dan berkerak. Parah, benar-benar parah!

Jujur, pemandangan itu sempat membuat mentalku jatuh. Tapi aku harus menyembunyikannya di hadapan Ikyu, karena aku tidak mau dia jadi semakin shock. Dengan wajah yang kubuat seceria mungkin, kukatakan pada Ikyu bahwa akan ada banyak hal menyenangkan yang bisa ditemui sepanjang perjalanan nanti.

Yang bisa kami lakukan adalah berusaha membuat tempat yang buruk menjadi sedikit lebih nyaman untuk kami tempati. Segera saja kami berempat turun tangan membersihkan kamar mandi, sampah-sampah di lantai segera kami punguti, meja kami lap dengan tisu, tempat tidur juga kami lapisi dengan kain batik yang kubawa dari rumah. Karena tak tahan melihat bantal dan guling kumal, kami sarungi saja benda-benda itu dengan kaos-kaos yang kami bawa.

Untuk menghalau kecoak di kamar, aku minta obat serangga pada ABK yang bertugas. Celakanya, obat serangga yang kusemprot untuk membunuh kecoak malah semakin membuat kecoak lain mabuk dan berhamburan keluar dari tempat persembunyian. Benar-benar ngeri.

Malam pertama aku tidak bisa tidur sama sekali. Bukan saja karena kasur yang keras, kecoak yang hilir mudik, tapi juga karena kepanasan karena AC di kamar tidak berfungsi. Aku frustrasi, tidak bisa membayangkan masih berhari-hari lagi waktu yang harus kulalui. Untung Ikyu termasuk anak yang mudah menyesuaikan diri dan bisa tidur dalam kondisi apa pun. Harus kuakui, sebenarnya dalam hal menyesuaikan diri, Ikyu jauh lebih hebat dariku.

Setelah mandi dan sarapan, pagi ini Aku dan Decyca sempat keliling melihat-lihat suasana kapal. Penumpang belum terlalu padat, masih banyak tempat lowong di kapal ini. Waktu kami berdua turun ke dek 4, aku jadi tidak mau terlalu mengeluhkan lagi keadaanku. Seburuk apa pun kamar kami, rasanya masih jauh lebih baik dari bangsal para penumpang di kelas ekonomi.

Dari cerita para ABK yang kudengar, semakin ke timur semakin banyak penumpang yang akan naik. Katanya, jumlahnya bisa ribuan. Seperti apa suasana di kapal ini nantinya? Ah, aku enggan membayangkannya.

 

Indah

 

PS: Terima kasih sudah bersedia direpotkan selama kami di Surabaya, juga untuk bekal prol tapenya. Berguna sekali untuk menjaga supaya perut selalu terisi.