Dari Pagaruyung menuju Malaka

“Bukan lebah sembarang lebah,

Lebah bersarang di buku buluh.

Bukan sembah sembarang sembah,

Sembah bersarang jari sepuluh”.

“Tak mungkinlah Malaysia berperang dengan Indonesia. Kalau pun pernah terjadi konfrontasi di tahun 60an, itu lebih perang diantar leader, bukan rakyatnya”. Ucapan itu muncul dari mulut seorang pengemudi taksi yang mengantar kami menuju Jonkerwalk di kota pelabuhan tua, Malaka. Malaysia.

Pengemudi taksi ini mungkin ada benarnya,  tanpa kami minta kemudian bercerita tentang nenek moyangnya yang dia tahu berasal dari Bugis, entah berapa ratus tahun yang lalu. Cerita pengemudi taksi di Malaka itu makin menguatkan informasi yang kami dapat bahwa memang telah terjadi migrasi masyarakat Bugis ke arah barat. Sekitar tahun 1500-1800. Generasi pertama perantau Bugis kemudian dicatat mendirikan kerajaan Johor, termasuk Pahang. Pertalian saudara kemudian melebarkan pengaruh di wilayah Selangor, Linggi, Langat, termasuk juga Kedah, Perak, dan Terengganu.

Jika masyarakat Bugis bisa melakukan diaspora hingga selat Malaka, bagaimana dengan masyarakat yang ada di Sumatera? Boleh dibilang persaudaraan orang di pesisir barat semenanjung Malaysia dan pesisir timur Sumatera amat sangat dekat.

Sebuah kegembiraan bagi kami saat mendapat undangan ke Melaka dan menyaksikan adanya pertalian hubungan persaudaraan yang erat antara masyarakat Pagaruyung, Sumatera Barat dengan masyarakat daerah Naning di Malaka, Kami jadi lebih bisa memahami sejarah bagaimana dahulu kala orang-orang dari Minangkabau mengembara menyeberangi selat Malaka dan menyebar di banyak tempat di Malaysia.

 

Dhita dan rombongan keluarga Pagaruyung tiba di Masjid Taboh Naning

 

 

Kunjungan pererat persaudaraan.

 

Kedatangan kami dan rombongan ke Malaka kali ini adalah untuk menyaksikan pengangkatan teman kami, Dhita Dewi Cahya sebagai Ibu Sako oleh Dato Undang Naning ke 20, Hj Azis Bin Mulud yang mempunyai gelar Yang Mulia Orang Kaya Seri Raja Merah. Pengangkatan ini dihadiri oleh banyak pihak terkait, dua orang perwakilan Konjen Republik Indonesia di Malaysia, Sekjen Silaturahmi Nasional Raja-Sultan Nusantara Indonesia, Upu Latu M.L.Benny Ahmad Samu Samu, serta Yang Mulia Dato Orang Kaya Besar Bertuah, Anthonyswan. Tidak sedikit pula warga Naning, Melaka yang ikut datang menyaksikan.

 

Ucapan selamat pada Dato Undang Naning ke 20, Hj Azis Bin Mulud dan permaisuri

 

 

Ibu Jasnah Amin memperkenalkan anak-anak dan keluarga besarnya pada acara Istiadat Bakorjan

 

Keluarga besar Ibu Jasnah Amin

 

Gelar penghormatan dan penghargaan sebagai Ibu Sako – Datok Rajo Bertuah Pagaruyung diberikan untuk Dhita yang dianggap telah memelihara, menjaga, dan mengembangkan adat-istiadat, dan budaya serta peradaban nenek moyang, termasuk hubungan perjalinan darah dan geneologis Anak Adat Wilayah Adat Perpateh Naning, di Melaka dengan Tanah Adat Minangkabau di Sumatera Barat – Indonesia yang sudah terputus sejak tahun 1511. Sebagai keturunan leluhur yang menjadi cikal-bakal warga Pagaruyung di wilayah Naning ini, Dhita merupakan Utusan Khusus Perempuan Badan Pengurus Silaturahmi Nasional Raja-Sultan Nusantara Indonesia, wilayah adat Perpateh di Pagaruyung dianggap pantas menerima penghargaan itu.

 

 

Bapak Anthonyswan menyampaikan silsilah dan sejarah penyebaran para datuk dari Minang ke Melaka

 

 

Dhita saat menerima gelar penghormatan dan penghargaan sebagai Ibu Sako – Datok Rajo Bertuah Pagaruyung

 

Penghargaan untuk YM Upu-Latu M.L Benny Ahmad Samu Samu, Sekjen Nasional Raja-Sultan Nusantara

 

Penghargaan untuk YM Dato Orang Kaya Besar Bertuah Bapak Anthonyswan

 

Acara pemberian gelar kehormatan oleh Lembaga adat Naning ini mempunyai tujuan untuk merajut kembali hubungan emosional antara masyarakat Minang dan masyarakat Melaka guna memajukan kedua kawasan. Sebelum acara pemberian gelar tersebut, pada pagi hingga tengah hari telah diadakan acara Istiadat Bakorjan (Pengangkatan Sumpah mandi bersiram) Datok Undang Naning ke 20 di masjid Taboh Naning, Melaka.

 

Kain songket nan indah sebagai cindera mata

 

Para tamu di acara Majlis Makan Beradat

 

 

Wakli keluarga Pagaruyung membawakan lagu “Semalam di Malaysia” sebagai tembang perpisahan

 

Kemiripan budaya Minangkabau dan Naning begitu terasa, tidak saja dari gaya berpakaian dan warna-warna yang digunakan tetapi juga pantun, hingga aksen bicara masyarakatnya yang terdengar mirip, setidaknya bagi telinga orang awam.

Memang sejatinya ikatan persaudaraan tidak harus terpisah oleh batas-batas negara. Persaudaraan serumpun, seagama harus selalu bisa kita jaga dan hidup secara rukun berdampingan. Persaudaraan yang sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu antara Pagaruyung dan Naning adalah sebuah mata rantai yang bisa mengikatkan juga perdamaian antara Indonesia dan Malaysia.

Sebuah lagu, “Semalam di Malaysia” didendangkan di akhir acara, semua orang yang datang terlihat senang, begitu indahnya persaudaraan. (I.E)