#45 Salarium

 

(Surat Iwan untuk Ati Kisjanto, sahabat, di London, Inggris)

 

Laut Jawa, 27 Juni 2011

Ati yang baik, suasana di pelabuhan Tanjung Perak tidak beda jauh dengan pelabuhan Tanjung Priok, apa lagi kalau bicara soal porter-nya. Sore ini yang kami hadapi adalah porter-porter asal Madura. Tanpa diminta mereka langsung mengangkat barang-barang kami. Karena biaya belum disepakati, kuminta mereka untuk meletakkannya lagi. Semula mereka minta ongkos yang sangat tinggi, tapi setelah kami katakan bahwa kami akan mengangkat sendiri barang-barang itu, barulah mereka setuju menurunkan ongkosnya. Rupanya cara tawar-menawar di pelabuhan punya gaya yang berbeda.

Langit berwarna jingga saat KM KELIMUTU yang akan membawa kami ke Merauke melepas tali pengikat di dermaga untuk kemudian bertolak meninggalkan Tanjung Perak. Menyusuri pesisir utara Pulau Madura, kapal mengarah ke timur menuju Pelabuhan Benoa di Bali. Kondisi kapal betul-betul di luar dugaan kami, berbeda dengan pengalaman naik KM KELUD, masuk ke kabin terbaik di KM KELIMUTU kami agak kecewa, kapal ini lebih kecil, lebih tua, dan agak sedikit kotor.

Dari kejauhan, dalam gelap tampak titik-titik lampu kecil di sisi kanan kapal, itulah Pulau Madura. Seandainya pada siang hari dan melewati pesisir selatannya, mungkin kami bisa melihat ladang-ladang garam di daerah Pamekasan, Sumenep, Sampang, dan Bangkalan.

Selain karapan sapi, sate, dan jamu, Madura juga dikenal sebagai pulau penghasil garam, bubuk asin yang banyak manfaatnya, baik sebagai penyedap masakan, bahan pengawet makanan, hingga garam mandi yang bisa melancarkan peredaran darah dan membuat rileks otot. Bisa dibayangkan, betapa hambarnya hidup tanpa garam.

Pernah kubaca dalam sebuah blog tentang sejarah garam, katanya, di zaman Romawi Kuno garam adalah barang berharga, nilainya tinggi. Saking tingginya, konon garam malah pernah dijadikan sebagai alat membayar upah para prajurit dan pekerja, mereka menyebutnya Salarium, istilah latin yang artinya garam. Mungkin dari sinilah bahasa Inggris menyerapnya menjadi salary yang berarti gaji.

Kalau melihat luasnya laut yang terbentang di hadapanku, aku jadi heran, bagaimana mungkin negeri maritim dengan garis pantai terpanjang ke empat di dunia ini masih jadi pengimpor garam? Kemana perginya para ilmuwan hebat yang paham dan bisa mengembangkan kuantitas dan kualitas produksi garam kita? Kita masih bergantung pada impor bubuk asin dari India dan Australia. Akankah kita selalu menyalahkan perubahan cuaca sebagai biang keladinya?

Mengapa yang banyak muncul justru para pengimpor garam? Mereka bukan hanya memenuhi kebutuhan, tapi juga menghancurkan harga jual garam para petani yang sudah kering keringatnya. Kapan ya, harga garam bisa terasa “manis” untuk semua?

 

 

Iwan