#44 Pencuri Tebu

 

(Surat Iwan untuk Utami Widjajati Hussin, sepupu, di Washington DC, AS)

 

Bojonegoro, 26 Juni 2011

Mbak Tini, kubayangkan kamu membaca surat ini sambil duduk santai di Meridian Hill Park.

Hari menjelang sore, KA Argo Anggrek yang kami tumpangi bagai ular yang merayapi besi, ke timur membelakangi matahari. Baru saja kereta melewati sebuah jembatan panjang yang menyeberangi Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa.

Entah apa yang ada dalam pikiranmu ketika mendengar kata Jawa, bisa jadi itu adalah nama suku, boleh jadi nama pulau yang berada ribuan kilometer dari tempatmu membaca surat ini, atau Semarang, kampung halaman yang selalu kaurindukan. Saat ini, Jawa adalah visual yang sedang kulihat di depan mata.

Salah satu bonus dari perjalanan dengan kereta di siang hari adalah sajian panorama alam yang tampak dari jendela. Selain laut, sungai, gunung, sawah, dan rumah-rumah, sesekali kereta melintasi perkebunan tebu. Melihat tebu, aku jadi ingat masa kecilku di Solo dulu. Rumah kakekku berada di jalur antara kebun tebu dan pabrik gula di Tasikmadu. Tanpa sepengetahuan sais, aku sering mencabut sebatang tebu dari belakang gerobak yang sedang melintas. Bila kakekku tahu, aku pasti dimarahi habis-habisan.

Bukan hanya aku, hampir semua anak di kampungku suka sekali makan tebu. Belakangan baru kutahu, tebu yang dijuluki emas hijau ini pernah melambungkan nama Jawa di kancah penting perdagangan gula dunia sekitar seratus tahun lalu. Awalnya, kedatangan penjelajah Eropa memang untuk memburu rempah-rempah di Nusantara, tapi seiring berjalannya waktu, gula menjelma sebagai komoditas primadona.

Muasalnya dari Java Oorlog atau Perang Jawa, beberapa orang lebih mengingatnya sebagai Perang Diponegoro, pertempuran yang memakan begitu banyak korban dan menyedot biaya besar, nyaris membuat bangkrut isi kas keuangan Kerajaan Belanda. Guna bisa mengembalikan utang dan modal perang, dengan cekatan Gubernur Jenderal Johanes van den Bosch memaklumatkan kebijakan cultuurstelsel, kita sering menyebutnya sebagai tanam paksa. Kina, nila, kopi, karet, dan tebu adalah pohon yang wajib untuk ditanam. Rakyat pribumi tidak mendapat pembagian hasil yang sepatutnya, sebagian besar dikangkangi Pemerintahan Belanda.

Kebijakan tanam paksa yang menghisap tanah dan manusia Jawa ini mendapat kritikan keras, salah satunya dari Eduard Douwes Dekker, dengan nama samaran Multatuli dia menulis buku Max Havelaar, novel idealis berisi kritik terhadap kebijakan yang menyengsarakan rakyat Hindia Belanda di zaman itu. Pengaruh buku itu luar biasa, karena mampu membuka mata para petinggi Belanda, kebijakan tanam paksa pun kemudian dihapuskan. Sebagai “penebus dosa” dibuatlah de eerschuld atau politik balas budi. Kebijakan ini dikenal juga sebagai politik etis.

Politik etis yang melahirkan kebebasan atau liberalisasi ekonomi Hindia Belanda memunculkan banyak saudagar kaya, raja gula yang sangat legendaris dari Semarang, Oei Tiong Ham contohnya. Dialah konglomerat lintas dunia pertama di Kawasan Asia Tenggara. Hindia Belanda menjelma menjadi pengekspor gula terbesar ke dua setelah Kuba di pasar dunia, di Pulau Jawa saja saat itu tercatat lebih dari 150 pabrik gula. Keuntungan besar dari tebu dan produksi gula di Jawa mengalir dan membangun kembali negeri Belanda. Seorang sejarawan Belanda bahkan menjulukinya “gabus yang telah mengapungkan Negeri Belanda.”

Ah, aku jadi melantur ya? Pemandangan dan langit yang tampak dari kaca jendela sekarang mulai temaram, kebun tebu yang tadi terlihat sudah hilang dari pandangan. Teh manis di gelasku sudah tinggal sedikit, beberapa butiran gula yang selamat dari adukan tampak mengendap di dasar gelas. Demikan reportase singkatku dari atas KA Argo Anggrek yang semakin mendekati stasiun Pasar Turi Surabaya.

 

Iwan