#43 Ada yang Hilang

 

 

(Surat Iwan untuk Linda Budijono, sahabat, di Jakarta)

 

Argo Anggrek, 26 Juni 2011

Aku duduk di kursi nomer 8A, gerbong 1, Indah di sampingku, Ikyu dan Decyca menempati bangku di depan kami. Kereta mengarah ke timur, melewati Tambun, Bekasi, dan Karawang. Menyusuri rute tua, kereta kami merambat di punggung utara Pulau Jawa. Dari atas kereta kulihat dapur ribuan rumah yang berjajar di sepanjang jalurnya. Bangunan berbilik dan berpagar anyaman bambu, kandang ayam dan kambing yang tak jauh dari tiang dan tali-tali jemuran, adalah panorama khas halaman belakang banyak rumah di Pulau Jawa.

Linda, di kiri-kanan rel, pohon pisang, bambu, kelapa, pepaya, mangga, dan ubi jalar tampak mendominasi pemandangan, sesekali berganti dengan hijau sawah yang menghampar. Walau pun masih ada sawah, kondisinya sudah jauh berbeda dengan yang kusaksikan di tahun 70-an, jumlah sawah sudah semakin menyusut, digantikan oleh perumahan, pabrik, dan bangunan lainnya.

Masih kuingat masa kecilku dulu ketika di Subang, sebuah kota kecil di Jawa Barat. Saat aku tinggal bersama pamanku, seorang guru di SMA Negeri 204 (Sampai sekarang aku masih sering bertanya-tanya, berapa banyak sudah jumlah SMA di Jawa Barat pada waktu itu). Rumah pamanku di Jl. Wolter Monginsidi, sekarang nama jalan itu sudah berganti jadi Jl. Oto Iskandar Dinata. Halamannya luas, di belakang rumah masih terdapat banyak sawah dan kolam ikan. Di sawah dan sungailah tempatku bermain, berteman, dan akrab dengan petani dan para tukang jala ikan.

Kini semua sudah berubah, sawah-sawah sudah banyak yang menjelma menjadi rumah, sungai yang dulu jernih sudah kotor dan menyempit. Di seberang rumah itu sekarang sedang dibangun sebuah toko serba ada terbesar di kota Subang. Selain kian sempitnya lahan pertanian, yang membuat hidup petani kini makin sulit adalah harga bibit dan pupuk yang terus naik. Jika tidak kekeringan, sawahnya tergenang banjir. Saat panen tiba beras impor pun datang bagai air bah. Negara agraris macam apa Tanah Air kita ini?

Kereta terus melaju ke timur, di beberapa persimpangan masih kulihat perlintasan kereta api tanpa palang pengaman. Memperhatikan mobil dan motor yang sedang berhenti menunggu kereta lewat, hatiku kembali terusik. Pertanyaan mengapa transportasi kereta api ini sepertinya kurang mendapat perhatian pun menari-nari dalam benak. Sepanjang pengetahuanku, jika ada penambahan rangkaian kereta api, itu biasanya hanya kereta bekas yang didatangkan dari Jepang maupun Cina. Saat ini, justru jalan-jalan tol yang menggusur ribuan hektar tanah pertanian produktif yang dibangun, transportasi mobil yang lebih banyak menenggak bahan bakar pun semakin bertambah jumlahnya.

Kamu pasti masih dan selalu ingat perjalanan mudik setiap lebaran atau natal tiba, kereta api dan bus umum penuh sesak, banyak orang yang tak kebagian tiket, calo merajalela. Tidak sedikit orang yang terpaksa memilih naik motor, bahkan bajaj, untuk pulang ke kampung halamannya. Belum lagi kemacetan yang panjangnya bisa belasan kilometer. Betapa banyak bahan bakar terbuang percuma, betapa banyak waktu dan kesempatan yang hilang sia-sia.

Aku jadi berkhayal, seandainya penggunaan kereta api bisa dimaksimalkan dengan pelayanan yang baik tentu banyak orang yang lebih suka naik kereta api ketimbang bermacet-macet di jalan raya. Lalu lintas di jalanan pun mungkin bisa sedikit dikurangi kepadatannya. Betapa enaknya bisa pergi ke mana-mana dengan lancar, cepat, aman, dan nyaman. Entah kapan khayalanku itu bisa terwujud.

Sayangnya kereta ini tak lewat Purwokerto, tak bisa beli mendoan dan getuk goreng kegemaran. Sekian dulu suratku, tolong sampaikan salamku untuk Adi dan Aldo.

 

 

Iwan