#41 Ditolong Kotong

 

Surat Iwan untuk Mercy Indiana, traveller, sahabat, di Jakarta

 

Gambir, 26 Juni 2011

Lewat lagunya, Didi Kempot bercerita tentang Stasiun Kereta Api Balapan di Kota Solo yang menjadi tempat keramat perpisahan dengan kekasihnya. Kamu juga pasti punya banyak cerita tentang stasiun kereta Hillversum dan Amsterdam Centraal di Negeri Belanda. Saat ini aku sedang di Stasiun Gambir dan ada hal menarik yang ingin kuceritakan padamu.

Bukan mengenai sejarah tahun pembangunannya, bukan juga soal siapa yang merancangnya, ceritaku adalah tentang Pak Kotong, lelaki 67 tahun yang membantuku mengangkat barang dari taksi menuju ke gerbong 2 Kereta Api Argo Anggrek yang akan berangkat ke Surabaya.

Baginya tak ada sarapan pagi. Hanya secangkir kopi tubruk yang mengantar lelaki dengan lima anak dan sepuluh cucu ini berangkat kerja setiap harinya. Bekerja di Perusahaan Djawatan Kereta Api sebagai pengangkut barang di stasiun Gambir mulai dilakukannya sejak lulus dari sebuah SMP partikelir di Depok tahun 1962, saat itu dia masih muda, kuat, dan gesit meloncat naik turun kereta.

Pak Kotong menceritakan pengalamannya selama 49 tahun menjadi porter. Katanya, di tahun 70-an stasiun Gambir ini masih sepi, hanya ada kereta Limex, Gaya Baru Malam, Fajar, dan Bima. Baru di tahun 80-90-an stasiun Gambir menjadi sangat ramai, saat itu pesawat terbang masih jarang dan mahal. Kondisi itu sangat menguntungkan baginya, tenaga porter sangat dibutuhkan, apalagi waktu itu stasiun Gambir belum punya eskalator.

Pak Kotong tak punya gaji bulanan, semua bergantung pada pendapatannya hari itu juga, kalau sedang beruntung, dia bisa mengangkut sampai sepuluh kali angkatan, jika sedang sepi, dia bisa hanya mengantongi uang dua puluh ribuan untuk dibawa pulang.

Suara kereta terdengar dari arah selatan, tak lama lagi kereta Argo Anggrek yang akan kunaiki segera masuk stasiun. Dengan sigap Pak Kotong membantu mengangkut barang-barang bawaanku.

Setiap kali ada kereta datang, mata Pak Kotong berbinar penuh harap, begitu terus setiap hari. Tanpa keluhan, semua dijalani dengan senyuman. Saat matahari mulai bergulir ke barat nanti, Pak Kotong baru akan pulang. Istrinya, Salimah, seorang ibu rumah tangga, tahu persis kalau Pak Kotong hanya perlu Mixagrip jika meriangnya datang.

Kisah Pak Kotong hanyalah salah satu dari ribuan dan bahkan mungkin jutaan kisah yang tersimpan di stasiun ini.

 

Iwan