#40 Inong Bale

 

Surat Indah untuk Titin Sutriani, sahabat, di Jakarta

 

Antara Aceh-Jakarta, 23 Juni 2011

Menunggu boarding di Bandar Udara Sultan Iskandar tadi membuatku punya waktu untuk mengamati para calon penumpang yang lalu lalang, memperhatikan motif sulaman Aceh di kopiah seorang lelaki di depanku, dan perempuan-perempuan dengan kerudung aneka warna. Kalau melihat perempuan Aceh, pasti aku terbayang Tjut Nyak Dien, kalau membayangkan Tjut Nyak Dien, di benakku pasti muncul Christine Hakim yang pernah meraih Piala Citra 1988 atas perannya sebagai perempuan pahlawan dari Aceh itu.

Terus-terang saja, kisah kepahlawanan perempuan pejuang di negeri ini selalu membuatku bangga. Dari Sabang hingga Merauke, kita memiliki banyak perempuan hebat. Ada Martina Martha Tiahahu, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, Kartini, hinga Rasuna Said. Aceh adalah salah satu daerah yang melahirkan banyak perempuan pejuang tangguh, peran Laksamana Malahayati, Tjut Nyak Dhien, Tjut Mutia, Tjut Meurah Gambang, Pocut Baren, dan Tjut Meurah Intan dalam melawan penjajahan pantas untuk ditulis dengan tinta emas tebal. Orang menyebut mereka sebagai pasukan Inong Balee, para perempuan yang melanjutkan perjuangan suaminya yang telah gugur dalam medan perang.

Penulis Belanda bahkan ada yang mencatat keberanian perempuan Aceh dalam bertempur melebihi keberanian perempuan bangsa lain, dengan kelewang dan rencong kehadiran mereka di banyak pertempuran sangatlah ditakuti. Yang paling membuatku bangga adalah Malahayati, laksamana perempuan pertama di Asia, dengan beraninya dia menyerang kapal serta benteng-benteng Belanda dan membunuh Cornelis de Houtman dalam duel satu lawan satu di atas geladak kapal pada tahun 1599.

Lamunanku tentang peran perempuan Aceh tak hilang begitu saja, saat sudah berada di atas pesawat di sebelahku duduk seorang ibu yang sedang membantu anak perempuannya memakai seat belt. Penerbangan Banda Aceh-Medan memang tak lama, tak kusia-siakan kesempatan ini untuk ngobrol dengannya, ibu ini hanya pergi berdua dengan anaknya, karena suaminya sudah tiada, hilang tersapu air saat tsunami menerjang Aceh tahun 2004. Hingga sekarang jenazahnya tidak pernah diketemukan, ibu itu mengaku bahwa dia sudah mengikhlaskan kepergian sang suami.

Ibu itu tidak sendiri, pasca tsunami, entah ada berapa inong balee yang harus berjuang keras menjalani hidup, mencari nafkah, membesarkan, menjaga, dan mendidik anak, tanpa suami di sisinya. Namun aku percaya, perempuan Aceh dilahirkan sebagai mahluk yang kuat, seperti para pendahulu mereka, para pejuang Aceh di masa silam.

 

Indah