Surat dari Ubud

Setiap orang pasti mengalami “ups and downs” dalam hidupnya, itulah yang membentuk kita sebagai manusia menjadi lebih dewasa dan bijaksana jika kita mau mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa. Sahabat kami, Noviana, seorang penulis, menceritakan pengalaman spiritualnya sejak sebelum hingga sesudah dia menetap di Ubud, Bali. Ini kisahnya

 

Apa kabar sahabatku Indah dan Iwan? Semoga Alam Semesta yang selalu baik hati ini selalu memberkati hidup yang selalu memberi dengan kebaikan. Sejak pindah ke Ubud 7 tahun lalu ada begitu banyak hal membukakan mata dan hati dalam hidupku. Ubud bagaikan ibu yang mendongeng kepada batinku, sehingga aku seperti anak kecil yang tersihir begitu hebat dengan tutur sapanya yang lembut membuaikan diriku hingga terlelap. Ubud juga bagaikan maha guru Dorna yang mengajari Arjuna memanah dalam gelap dan melihat dengan mata batinnya.

 

Novi Pic

Setiap aku terjaga di pagi hari ( biasanya jam 3an) , aku mendengarkan senyap yang sangat merdu di rumahku. Kulihat anak-anak dan suamiku lelap dalam damainya, dan melihat mereka dalam pulasnya jika aku hanya boleh meminta satu hal saja sebelum kematianku aku akan meminta agar mereka selalu dalam keadaan damai seperti itu. Di senyap yang indah, kunyalakan dupa dan dalam meditasiku aku pasti akan selalu mendoakan semua mahluk terutama sahabat-sahabatku berbahagia. Aku sudah tidak meminta apa-apa lagi untuk diriku sendiri dalam doaku karena aku tahu bahwa hidup ini tak lebih dan tak bukan adalah hasil dari konsekuensi semua karmaku, sehingga dalam batinku aku tahu Tuhan Alam Semesta hanya tahu mengasihi semua ciptaannya. Kalaupun aku mengalami hal yang tidak menyenangkan aku sadar itu juga adalah buah karmaku yang masak di masa sebelumnya. Sungguh, ketika aku melepas semua keinginan dalam doa yang selama puluhan tahun aku lakukan, aku menjadi sangat jauh lebih ringan dan iklas menjalani hidup ini.

Dua tahun terakhir ini ada banyak hal dalam hidupku yang makin membuatku meyakini bahwa hidup hanyalah akibat-akibat dari biji karma yang kita tanam , baik dalam bentuk pikiran, kata dan perbuatan. Kalau kalian bertanya sejak kapan keyakinanku terhadap karma ini menjadi bulat penuh jawabanku adalah sejak perjumpaanku secara pribadi dengan Dalai Lama. Betapa tidak , ada banyak hal dan kejadian yang tak terlogikakan.

Kalau kamu masih ingat awal tahun 2000an jaman Indi masih eforia dengan mas Cina “kantor sebelah” itu dia memberiku CD lagu Ohm Mani Padme Hum yang entah kenapa aku kesengsem berat dengan lagu itu, aku putar terus setiap hari di kantor dan suatu hari aku jalan-jalan dengan Indi ke Glodok, entah kenapa aku ingin sekali mencari gelang biksu yang waktu itu aku benar-benar hanya ingin tampil keren. Terus tahun 2005an, entah kenapa aku ingin sekali menato symbol Ohm Mani Padme Hum itu, sumpah alasanku saat itu hanya untuk keren-kerenan saja tak terlintas sedikitpun bahwa saat itu sebenarnya aku sedang diberi tanda oleh semesta untuk perjalanan hidupku ke depannya. Aku ingat sekali saat itu di suatu siang kamu main ke BBDO dan lihat tatoku dan kamu bercanda “ Wah kok gak ditato Allahu Akbar”, sambil becanda aku menjawab “ Ah aku kan budhist, Buddha Islam”, sumpah saat itu dalam pikiranku hanya sebuah canda dan tak sedikitpun aku menganggap serius segala hal.

Tak lama kemudian, aku bertemu dengan ahli hipnoterapi bernama Nathalia Sunaidi ( yang sekarang menjadi salah satu ahli regresi past life terkemuka di Asia), dan hanya dengan alasan ingin tahu aku ikut sesi regresi. Dalam regresiku aku melihat diriku hidup di sebuah biara di pegunungan Tibet dan aku di sana mengajar biksu-biksu kecil. Sesudah regresi aku masih sangat skeptic tentang itu. Semuanya menjadi berubah drastis begitu aku pindah Ubud. Betapa tidak, ada begitu banyak ‘kebetulan’ yang sangat beruntutan. Dimulai dari tempatku kerja, di hari pertama aku masuk kerja di Balispirit Festival di depan kantor ada toko yang sedang direnovasi, 3 hari kemudian toko itu dibuka dan ternyata menjual semua souvenir dan alat2 meditasi dari Tibet. Kemudian aku pergi ke toko buku bekas, saat aku hendak mengambil buku di rak atas, ada sebuah buku terjatuh begitu aku ambil buku itu berjudul “Avalokitesvara , Goddes Of Compassion”, terus tiba-tiba aku bertemu dengan guru besar Dagpo Rinponche di Jakarta ( beliau adalah reikarnasi dari guru besar Sriwijawa , Dharmakirti). Saat itu aku bersama Indi datang ke teaching dia (itu pun karena kami hanya ingin tahu saja), di akhir kelas itu , beliau membaca mantra. Tiba-tiba sesaat dia membaca mantra ada perasaan haru luar biasa sehingga membuatku menangis, dan akupun tak mengerti mengapa, aku sampai bilang ke Indi bahwa aku seperti mengerti arti kata mantra itu (itu pertama kali aku mendengar mantra dalam bahasa Tibet).

Perjalananku tak hanya sampai disitu sahabatku Iwan dan Indah. Tahun 2012, saat semua orang gempar tentang kalender Maya, ada panggilanku ke Tibet makin kuat. Tahun itu adalah ulang tahunku ke 45. Aku baru sadar bahwa di numerologiku yang lahir 2 Nov 1967 itu adalah 9 dan ulang tahunku di 2 nov 2012 jika dijumlahkan juga 9, dan aku pas berumur 45 . Tak hanya itu 21 Nov 2012 itu jika dijumlahkan menjadi 9. Entah kenapa aku ingin mengunjungi biksu sahabatku di Bandung pada ulang tahunku itu, pas aku sampai di sana ternyata di hari ulang tahun 45 adalah perayaan Avalokitesvara (di Cina sering disebut Quan Yin atau Kwam Im) yang ternyata mantra tertingginya adalah Ohm Mani Padme Hum.

Bukan hanya itu saja, aku mendapat sponsor dari seorang kawan untuk melakukan perjalanan 5 minggu ke India dan mengikuti kelas Dalai Lama. Titik tolak kepercayaanku terhadap karma terjadi ketika aku di Dharamsala, betapa tidak saat itu ada sekitar 7000an orang mengikuti ‘pengajian’ dari Dalai Lama. Pagi subuh kami sudah antri masuk ke halaman untuk masuk ke hall. Tiba-tiba ada seorang Tibet dan ternyata dia adalah ketua acara itu datang dan bertanya “ Are you from Bali?” (sumpah sampai saat ini aku tidak mengerti mengapa dia bisa tahu persis aku dari Bali), tentu saja aku langsung seperti Bono, teman kita itu “Iyes, what’s ap”. Orang itu langsung menyuruhku mengikuti dia. AKu sudah deg-degan saat itu karena aku pikir , apa ada yang salah dengan pass masukku ( seperti kartu tanda masuk). Ternyata orang itu membawaku ke rumah pribadi Dalai Lama dan menyuruhku menjadi pembawa dupa untuk acara insisiasi Bodhisatwa. Aku rasanya mau pingsan karena tidak percaya dengan hal ini. Bayangkan dari 7000 orang yg pastinya sangat berharap bertatap muka secara pribadi dengan beliau tiba-tiba aku terpilih begitu saja. Ketika Dalai Lama keluar dari kamarnya dan mendatangiku memandang wajahku dan mengelus kepalaku, duniaku seperti berhenti dan aku seperti tidak hidup di dunia ini. Betapa tidak di luar sana menunggu 7000 orang yang hanya ingin sekedar bersalaman dan aku menjadi pembawa dupanya. Too good to be true. Saat itu aku baru tahu dari Ratna Pribadi, bahwa Dalai Lama itu dipercayai adalah inkarnasi dari Avalokitesvara, mantra yang sejak tahun 2004 aku pakai sebagai tatto. Mungkin orang akan bilang semua itu serba kebetulan, tetapi aku sangat percaya sekali bahwa sejak kita lahir, kita sebenarnya telah diberi petunjuk olehNya, bahwa sehelai daun jatuh pun adalah bisikan para malaikat yang memberi arah angin perjalanan kita.

Novi Pic2

Indah dan Iwan sahabatku, sekarang ini aku sudah tidak pernah lagi mempersoalkan kebenaran itu apa dan bagaimana. Karena aku percaya bahwa kebenaran adalah sifat jiwa, dan ketika kita tidak pernah paham dan mendengarkan jiwa sejati kita, maka kebenaran menjadi lebih asing daripada khayalan. Sungguh sahabatku, di Ubud aku menjadi seperti nenekku dulu, yang setiap malam ke luar memandang bintang dan hanya untuk mendengar Alam Semesta ini berbisik, begitu dahsyat bisikkanNya ketika kita mampu membuat isi kepala kita diam. Apakah aku takut akan hantu saat keluar malam? Ah sahabatku, hantu hanya ada dalam pikiran kita bukan?

Datanglah ke rumahku sahabatku, nanti kita akan duduk bersama di teras dan terus berbicara dengan kata dan mata. Matahari senja akan jatuh menyentuh pucuk-pucuk kamboja dan gemerincing genta yang aku pasang di pepohonan akan mengingatkan kita bahwa hidup ini hanyalah khayalan tentang masa depan dan penyesalan masa lalu jika kita tak mampu untuk memaknai setiap detik di SAAT INI. Selamat berbahagia dengan karunia terbesar dalam hidupmu sahabatku : nafasmu.

 

Salam sayang selalu dari tempat paling damai di dunia : di hatiku.

Ubud, November 2014