Berdamai dengan Musim Dingin

Sebagai perempuan yang lahir dan besar di negara tropis, bukan perkara mudah untuk saya bisa hidup di negara 4 musim. Terutama di saat musim dingin yang suhunya bisa mencapai -16 derajat celcius. Tubuh saya butuh waktu yang lama untuk beradaptasi dengan udara dingin yang bisa menusuk sampai ke tulang.

Apalagi saya punya pengalaman buruk dengan udara dingin. Pernah terpeleset salju cair, yang menyebabkan siku tangan saya keseleo dan baru sembuh 6 bulan kemudian, dan yang lebih menyebalkan, udara dingin ini membuat gigi saya retak. Dan akhirnya ompong. Gak hanya satu tapi juga dua. Hiks…..

Jadi udara dingin ini cukup bikin saya sebel. Apalagi harus pakai pakaian yg dobel-dobel. Duhh…bikin saya yang ukurannya gak mungil ini makin fantastis ajah deh….hehehe…. Tapi, yah…karena saya sekarang tinggal di Negari Belanda…mau gak mau harus berdamai dengan udara dingin. Ketika kita mau berdamai dengan “masalah”, kita pun bisa melihat solusi dengan lebih terang….hehehe….

Yang pertama saya lakukan adalah mencari pakaian yang hangat, nyaman, dan tentunya modis untuk dipakai. Modis di sini artinya modal diskon yah….hahaha…. Maklum di sini serba mahal, jadi belanja pakaian pun harus pinter. Akhirnya saya pun menemukan gaya busana yang pas untuk tubuh saya yang curvy ini…hehehe….. Jadi, sekarang saya selalu senang menyambut winter. Cukup gila yah, yang tadinya benci sekarang malah suka…bahkan selalu menanti salju turun…..hahaha….

Suasana yang serba putih itu indah dan dramatis, menurut saya. Serasa di kisah-kisah dongengnya H.C Andersen….hehehe…. Di samping itu juga keren untuk foto-foto. Master piece foto saya di saat musim winter adalah foto saya sedang “berjemur” lengkap dengan bikini, sarung Bali, dan kacamata hitam….hehehe….. Sampai sekarang saya masih suka foto itu. Dan mudah-mudahan tahun ini salju turun dengan deras, jadi saya bisa foto dengan ide yang sama tapi dengan perut saya yang sedang hamil 6 bulan….hehehe…..

Musim dingin di Belanda juga berarti saatnya menikmati Stamppot. Makanan traditional Belanda yang hanya nongol di saat winter. Dan tidak semua orang Indonesia yang tinggal di sini menyukainya lhooo. Kebetulan saya suka sekali.

Stamppot ini makanan yang sehat menurut saya, karena terdiri dari rebusan kentang dan sayuran (sayurannya bisa bawang bombang & wortel, brokoli, daun kale, andijvie, kembang kol, dll). Setelah direbus, kentang dan sayuran ini dihancurkan dan diaduk bersama. Side dish nya bisa pake daging sapi, sosis, fish stick, atau bahkan rending, semur, bahkan tempe kecap. Selera saja. Dan saya memang suka menggabungkan makanan Belanda dengan exotic food. Sedikit variasi biar gak bosen. Untung suami suka dan selalu makan apa saja yang saya masak. Apalagi makanan yang berbumbu kecap. Seperti orang Jawa saja yah? Hahaha…..

Asyiknya lagi saat winter itu waktunya makan oliebollen. Nyam…nyammm….. Kalau di Indonesia mungkin oliebollen ini seperti layaknya roti goreng. Tapi tentunya beda rasa, karena menggunakan ingredient yang berbeda. Selain berbahan terigu, ragi, gula dan garam, rasa and wangi kayu manis ini yang bikin oliebollen khas rasanya. Walau tak semua penjual memakainya. Ada dua jenis oliebollen.Yang polos dan yang menggunakan raisin (anggur kering/kismis), ini yang paling saya suka. Dan ketika melahapnya jangan lupa untuk menaburkan gula pasir bubuk, biar rasanya makin enak. Buat saya, dan suami tentunya, oliebollen ini selalu ngangenin. Jadi saat gerobak oliebollenkram mulai nongol di pertengahan November, pasti kami langsung membelinya.

Oliebollen ini paling asyik dinikmati disore hari, sambil ngeteh atau ngopi. Apalagi tehnya teh naga dari Malang…ahh perfect banget. West meet East. Oh yah…..oliebollen itu juga merupakan makanan wajib di saat malam pergantian tahun. Merayakan tahun baru tanpa oliebollen itu gak sah rasanya….hehehe….tapi saya tidak tahu bagaimana awal sejarahnya bisa sampai demikian.

Ahhh gak terasa…sekarang sudah jam 4 sore….saatnya untuk ngeteh dan menikmati oliebollen pastinya. Sampai di sini dulu ceritanya. Nanti disambung lagi yaaa…

 

Doei.

 

Aya