Curhat dari New York City

Kissy Yahya kembali menulis surat untuk Keluarga Esjepe. Kali ini berisi curhatnya saat menghadapi rasa sepi di liburan Thanksgiving. Selamat mengikuti…

 

“November has tied me. To an old dead tree. Get word to April. To rescue me…” Sedih banget mungkin lirik lagu dari Tom Waits ini, tapi begitulah yang sedang saya rasakan sekarang. Di bulan November, tepatnya hari Kamis ketiga, dirayakan hari Thanksgiving. Hari besar di Amerika yang dirayakan oleh seluruh masyarakatnya, baik yang penduduk asli maupun imigran. Di hari itu keluarga berkumpul dan makan bersama. Mungkin serupa dengan saat kita merayakan Lebaran atau Natal, tetapi di hari itu mereka mengucapkan syukur atas segala sesuatu yang berharga dalam hidup mereka, salah satunya keluarga.

 

Selama seharian mereka makan menu Thanksgiving seperti, roast turkey dan stuffing, cranberry sauce, mashed potatotes, green bean casserole, sweet potatoes, brussel sprouts, dan pecan pie. Di New York City, department store Macy’s setiap tahunnya mengadakan parade Thanksgiving. Beratus-ratus orang mengantri untuk melihat parade balon dari karakter terkenal. Ada juga selebriti dan penyanyi yang menyemarakkan acara tersebut. Lalu keesokkannya mereka pergi ke berbagai macam toko karena ada Black Friday sale. Sale gila-gilaan karena mereka rela antri dari jam 4-5 pagi demi mendapatkan barang terbaik. Umumnya mereka mencari TV dan barang elektronik lain. Tahun lalu saya mencoba ikutan sale ini dan antri selama dua setengah jam sebelum toko buka. Walaupun dapat TV Samsung dengan harga miring, tapi kalau dipikir antri lama di udara dingin sepertinya tidak lagi deh. Persediaan minyak kayu putih saya tidak terlalu banyak :)

 

Anyway, di saat inilah saya merasa sepi. Karena kami sekeluarga tidak merayakan Hari Thanksgiving, biasanya saya dan keluarga pergi berlibur ke salah satu tempat di kepulauan Caribbean. Karena beberapa hal, sudah dua tahun ini kami tidak pergi. Kali ini suami saya pergi ke Polandia, jadi ceritanya saya “jaga gawang” di rumah. Teman-teman sudah punya rencana lain dan pastinya mereka mengunjungi keluarga besar untuk merayakan Hari Thanksgiving. Saya tidak ada keluarga di New York, hanya punya dua anak kecil yang untungnya mempunyai jiwa entertainer sehingga saya sedikit terhibur. Mungkin imigran Indonesia merasa kesepian saat bulan puasa atau Lebaran tetapi setidaknya masih bisa merayakan hari raya bersama teman-teman. Saat Thanksgiving, semua orang “menghilang”. Disitulah baru berasa dukanya menjadi imigran tanpa sanak saudara. Again, saya berusaha tidak mau complain terlalu banyak karena masih ada orang yang tidak beruntung daripada saya. Ini adalah konsekuensi tinggal di negara orang dan saya menerima keadaan itu. Lucunya, selama beberapa bulan ini saya aktif ngobrol dengan teman-teman dekat dari SMA. Tiga orang dari mereka hijrah ke negara lain karena ikut suami yang bekerja dan tinggal disana. Satu orang masih tinggal di Jakarta. Setiap hari kita ngobrol ngalur ngidul di Whatsapp. Karena perbedaan jam biasanya kita aktif di pagi hari waktu New York, siang hari waktu Eropa dan malam hari waktu Gandul, Cinere :)

Dalam hidup ini kita tidak selamanya bisa mendapatkan yang kita mau. Saat kita rindu dengan keluarga, kita berkumpul dengan teman untuk menghilangkan kesepian tersebut. Saat kita kangen dengan berbagai macam hal yang mengingkatkan kita akan kampung halaman, kita cenderung mengganti perasaan tersebut dengan benda/materi. Contohnya, setiap mencium baju yang habis dicuci saat saya di Jakarta, saya ingat tante saya yang mengajarkan saya untuk menyetrika dan melipat baju. Karena itulah saya bawa banyak Molto dari Indonesia. Sekedar untuk mengingkatkan saya akan tante saya. Lalu saat saya rindu dengan oma saya yang telah meninggal, saya masak menu andalan Oma. Kalau saya kangen dengan Opa, saya akan putar lagu kesukaan dia. The little things that we do to keep ourselves happy and sane.

Untuk itu, di Hari Thanksgiving ini, saya akan mengucapkan syukur. Saya bersyukur mempunyai dua anak yang selalu bahagia dan menerima segala kekurangan saya. Saya bersyukur mempunyai teman-teman yang baik dan setia kawan. Saya bersyukur mempunyai keluarga yang sayang sama saya dan yang terakhir saya bersyukur atas segala anugrah yang diberikan oleh Tuhan kepada saya. Bagaimana dengan anda?

“Not what we say about our blessings, but how we use them, is the true measure of our thanksgiving.”

~W.T. Purkiser

Happy Thanksgiving everyone!

 

Kissy