#34 Pahlawan Kesepian

 

(Surat Indah untuk Guntur A. Rasyid, pecinta sejarah, sahabat, di Jakarta)

 

Sabang, 22 Juni 2011

 

Salah satu agendaku di Sabang adalah mencari makam Pak Pakih. Setelah bertanya pada beberapa orang, akhirnya hari ini aku berhasil menemukan makamnya yang terletak di Balee Pasi, Gampong le Meulee, Sabang. Penduduk setempat mengenalnya sebagai Ayah Pakeeh. Makamnya sangat sederhana, letaknya menyendiri di pinggir pantai dan dikelilingi semak belukar tinggi tak terawat, tidak jauh dari bekas gubuk tempat ia menghabiskan hari tuanya.

Tahukah kamu siapa Ayah Pakeeh itu? Ayah Pakeeh atau Pak Pakih bukanlah tokoh terkenal, bahkan aku sendiri ragu jika namanya tertulis dalam daftar nama pahlawan negeri ini. Tidak banyak orang yang mengenalnya. Aku pun baru tahu setelah membaca buku berjudul Dewa Ruci, Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudera.

Dalam buku tersebut diceritakan mengenai Pak Pakih tua yang sempat naik dan membacakan doa-doa di atas kapal Dewa Ruci sebelum kapal itu bertolak dari Sabang menuju New York tahun 1964. Pak Pakih adalah seorang veteran Perang Aceh 1873-1904 yang bergabung dengan pasukan Teuku Umar Johan Pahlawan pada tahun 1890-an.

Pak Pakih bukanlah orang asli Aceh, melainkan seorang pelaut asal Sulawesi Selatan. Konon ia meninggalkan desanya di Teluk Bone dalam usia yang masih sangat muda sebagai awak perahu phinisi. Setelah berlayar menyinggahi pesisir utara Jawa, hingga Bangka Belitung dan Belawan, Pak Pakih tiba di Aceh. Di sini ia memutuskan bergabung dengan pasukan Teuku Umar dan ikut bertempur melawan Belanda.

Menempuh jarak ribuan mil, meninggalkan keluarga, dan kampung halamannya demi bergabung dengan sebuah pasukan untuk melawan penjajah bagiku adalah perjuangan yang luar biasa.

 

 

Indah