Kunci hidup kucing

Duduk di halte busway Polda Metro Jaya, Jakarta membuat saya bisa melihat banyak, banyak orang, banyak gedung, banyak motor, banyak mobil, banyak peristiwa yang ada di sekitar saya. Ramai dan hiruk pikuk, namanya juga Jakarta. Seorang ibu menggendong anak perempuanya turun dari sebuah jembatan penyeberangan, seorang lelaki setengah baya berjalan cepat dengan memegang sebuah map merah yang entah apa isinya. Menoleh ke arah kanan yang kelihatan seorang penjual botol air mineral yang mulutnya terlihat mulai capek menawarkan dagangannya. Di kiri-kanan mobil-mobil yang terjebak macet berjalan tersendat, seorang anak usia SD berpakaian seragam duduk di samping ibunya yang asyik dengan gedgetnya, entah sedang main twitter, path, facebook, atau instagram, atau malah dia sedang mengetik sms di mobil mewah berpendingin dan nyaman.

Beraneka gambar yang muncul di depan mata itu membuat pikiran saya secara reflek bekerja, pertanyaan muncul, kenapa begitu berbeda? Di satu sisi terkadang kita merasa iri dengan kecantikan/ketampanan/kekayaan/jabatan yang dimiliki orang lain, tapi di sisi yang satunya, kita melihat dan harus bersyukur karena masih ada yang jauh lebih susah dari kita. Sebetulnya posisi kita itu di mana?

Munculnya pertanyaan itu ternyata mengakibatkan reflek lanjutan dalam pikiran, cerita lama yang pernah saya dengar dari almarhum kakek, sekitar 40 tahun yang lalu. cerita tentang seekor kucing yang kedinginan akibat tubuhnya yang basah kecemplung got. Pernah dengar cerita itu? Saya akan ceritakan untuk Anda.

Karena tak punya handuk, kucing yang basah itu berusaha menggoyang-goyangkan badannya, setelah kelelahan kucing itu duduk mengarahkan punggungnya ke matahari. Melihat bagaimana tubuhnya bisa jadi hangat dan bulunya mulai mengering kucing itu berkata pada matahari, “Betapa hebatnya engkau matahari”, matahari menjawab, “banyak yang mengatakan begitu, tapi aku tetap saja kalah hebat”. “Kalah hebat dari apa?” tanya kucing. “Awan”, jawab matahari . “Ketika aku bersinar awan datang dan menutupi sinarku”. Kucing lalu mendatangi awan, “Hebat betul kamu awan”. Awan menjawab, “Banyak yang mengatakan begitu, tapi aku tetap saja kalah hebat”. “Kalah hebat dari apa?” tanya kucing. “Angin”, jawab awan. “Ketika aku sedang senang melayang dia meniupku”. Kucing lalu mendatangi angin “Hebat betul kamu angin”. Angin menjawab, “Banyak yang mengatakan begitu, tapi aku tetap saja kalah hebat”. “Kalah hebat dari apa?” tanya kucing. “Gunung”, jawab angin. “Ketika aku sedang berhembus gunung memecahku”. Kucing lalu mendatangi gunung, “Hebat betul kamu gunung”. Gunung menjawab, “Banyak yang mengatakan begitu, tapi aku tetap saja kalah hebat”. “Kalah hebat dari apa?” Tanya kucing. “Kerbau”, jawab gunung. “Ketika saya sedang berdiri dia tanduknya menyeruduki tubuhku”. Kucing lalu mendatangi kerbau, “Hebat betul kamu kerbau”. Kerbau menjawab, “Banyak yang mengatakan begitu, tapi aku tetap saja kalah hebat”. “Kalah hebat dari apa?”, tanya kucing. “tali”, jawab kerbau. Saat aku sedang asyik makan rumput tali menarikku”. Kucing lalu mendatangi tali , “Hebat betul kamu tali”. Tali menjawab, “Banyak yang mengatakan begitu, tapi aku tetap saja kalah hebat”. “Kalah hebat dari apa?”, tanya kucing. “Tikus”, jawab tali. “”Ketika saya menarik digigitnya saya hingga putus. Kucing lalu mendatangi tikus, “Hebat betul kamu tikus”. Tikus menjawab, “Banyak yang mengatakan begitu, tapi aku tetap saja kalah hebat”. “Kalah hebat dari siapa?”, tanya kucing. “Dari kamu, kucing!”, jawabnya sambil lari mencicit menyelamatkan diri.

Apa bedanya kita dengan kucing itu? Kehadiran kita di dunia ini juga pasti diberi kelebihan dan kekurangan, sesuatu yang kita lihat hebat belum tentu tanpa kekurangan, sesuatu yang kita pandang kekurangan tapi ternyata punya banyak kelebihan. Mensyukuri apa yang kita miliki adalah kunci kebahagiaan.

“Meeeeong….”

 

iwan