#33 Terlalu Manis

 

(Surat Indah untuk Caroline F. Sunarko, pecinta kopi, sahabat, di Jakarta)

 

Sabang, 21 Juni 2011

 

Olin, di sini matahari baru menghilang sekitar pukul 19.00 WIB. Duduk di warung tepi pantai sambil menyaksikan matahari terbenam itu sangat mengasyikkan. Jagung bakar, kentang goreng, mie aceh, dan martabak adalah menu yang ditawarkan. Soal minuman, tak jauh berbeda dengan yang banyak disediakan warung-warung di Jawa, tapi yang jadi favorit di sini adalah kupi, begitu orang Aceh menyebut kopi. Warung atau kedai kopi bisa kita temui hampir di tiap sudut kota.

Berbeda dengan di Jawa, warung kopi di Aceh lebih terlihat seperti restoran. Kursi plastik atau kursi kayu sederhana mengelilingi meja, di beberapa warung yang menyediakan televisi, kursinya rapi diatur berbaris, menghadap ke arah televisi. Warung kopi yang letaknya di dekat pantai menata kursinya di bibir pantai, menghadap laut.

Iwan memesan secangkir kopi, sedangkan aku lebih memilih teh panas sebagai teman bersantai sore ini, rasanya nikmat sekali. Mungkin karena cara pembuatannya yang selalu menggunakan air mendidih atau bisa juga karena pengaruh pemandangan indah di depan mata. Sekedar catatan, orang Aceh suka memberi banyak gula baik pada teh maupun kopinya. Mereka tidak mau dikatakan pelit akibat minuman yang mereka suguhkan terasa kurang manis. Jadi kalau kamu kurang suka manis, jangan lupa untuk minta sedikit gula saja.

Katanya kopi aceh yang terkenal berasal dari dataran tinggi Gayo. Kopi jenis arabika ini sudah mendunia, bahkan kualitasnya setara dengan kopi Brazillian Blue Mountain dan Ethiopian coffee yang sudah terkenal itu. Menurut kawan-kawan penggemar kopi yang pernah mencoba, rasa kopi Aceh Gayo rendah asam, gurih, dan harum aromanya. Bagi orang Gayo, kopi adalah hal penting karena dari situlah mereka menghidupi keluarga mereka secara turun-temurun. Dahulu kopi Aceh Gayo disiapkan oleh Belanda sebagai komoditas masa depan, menggantikan lada, teh, dan getah pinus yang pada waktu itu dijadikan sandaran hidup warga di dataran tinggi Gayo.

Kopi pesananmu sudah kubeli. Bukan kopi Aceh Gayo maupun kopi Ulee Kareng yang terkenal itu, melainkan kopi aceh tanpa merek atau label dari toko langganan temanku di sini. Sudah kucoba dan menurutku rasanya mantap. Mudah-mudahan kamu juga suka.

 

 

Indah