Winter Sonata

Seperti apa rasanya musim dingin? Bagaimana rasanya merindukan sinar matahari yang hangat selama berbulan-bulan lamanya? Sementara di sini kita sering mengeluh kepanasan, orang-orang yang tinggal di negara empat musim justru mendambakan kehangatan. Sahabat kami, Bintang Sutedja Howard, yang tinggal di Tumbler Ridge, Canada, menuliskan kehidupannya selama musim dingin di sana. Selamat mengikuti…

 

Tumbler Ridge, November 11, 2014

 

Halo Keluarga Esjepe,

Apa kabarnya? Semoga sehat dan selalu senang hati ya… apalagi sekarang Jakarta sudah mulai adem kan? Semoga banjirnya gak semakin dahsyat walaupun yang namanya macet sih… pasti masih bikin capek hati, ya?

Kami sudah menjalani musim dingin yang panjang nih… yup… seperti judul bukunya Laura Ingalls itu lho, kalau masih ingat. Musim dingin di sini juga mirip-mirip deh rasanya seperti yang ditulis Laura. Walau pun statusnya kota kecil saya ini masih termasuk provinsi British Columbia, kok ya berasanya seperti tinggal dekat Kutub Utara. Kami selalu kebagian salju jauh lebih awal daripada mereka yang tinggal di selatan. Tepatnya, musim dingin di tempat kami yang tinggal di bagian utara provinsi ini sudah dimulai sejak pertengahan Oktober ditandai dengan suhu yang makin meluncur manis ke angka jauh di bawah 0℃ dan tentunya bersama salju yang mulai menutupi tanah. Biasanya, salju akan bertahan hingga pertengahan Mei. Tuh… panjang kan musim dingin kami? Enam bulan hidup diliputi salju dengan suhu rata-rata -20℃, memang Alhamdulillah… sesuatu banget deh!

Salju di kota kecil saya ini jenisnya kering, jadi gak bisa bikin snowman seperti di cerita-cerita di film. Kalau pas hari baik, seperti hari ini, menatap langit super biru benar-benar menyenangkan hati. Entah dinikmati dari jendela rumah saja atau dengan niat pergi ke luar rumah yang pastinya harus siap dengan pakaian berlapis, tutup kepala atau di sini disebut beanie dan toque, sarung tangan dan sepatu boot khusus.

Hari ini, langitnya biru indah sekali. Setelah berhari-hari disuguhi langit kelabu bikin mellow, pagi ini saya gembira banget bisa lihat langit yang biru dengan matahari yang niat bersinarnya. Tapi… begitu lihat termometer di luar rumah, maak…. -29℃ saja…. iya… beneran… suhu di luar pagi ini ada di angka minus 29 derajat Celcius. Surutlah niat saya untuk motret keramaian acara Remembrance Day yang ke 100 atau peringatan Hari Pahlawan ala Canada di kota kecil saya ini. Saya pilih untuk menghangatkan diri saja di rumah daripada berkeliaran heboh di luar dan menulis surat ini. Kesimpulannya, matahari bersinar begitu adalah asesoris doang hehehe… yang namanya dingin ya teuteup!

Biarpun musim dinginnya panjang dan dingin sedingin-dinginnya karena nanti suhu bisa mencapai angka -40℃, saya menikmati juga sih tinggal di kota kecil di pelosok begini.

Kalau di Vancouver, pas musim dingin, saljunya ecek-ecek, seperti kata orang Medan. Alias jarang-jarang turun salju tapi malah lebih sering hujan dan hujan. Suhunya juga paling sekitar 4℃, dan saljunya cuma selintas peristiwa. Status winter-nya yah… jauuuuh lebih pendek dari kami. Akhir bulan Maret, bunga sakura atau cherry blossoms di Vancouver sudah mulai bermekaran. Sementara di kampung saya sih teuteup keukeuh seputih salju. Tapi di Vancouver, jarang sekali bisa lihat langit biru ya karena mendung dan hujan melulu. Selain becek, kata orang-orang sih jadi bikin lebih depresi.

Ini penampakan jalan di depan rumah kami dengan langit kelabu. Kalau setiap hari selama 6 bulan harus menghadapi penampakan macam ini, sudah pasti saya bakal memilih mode hibernasi seperti beruang yang hidup di belakang rumah kami alias jadi super malas dan jauh dari semangat. Pikiran pun langsung menerawang akan betapa hijau royo-royo dan hangatnya Indonesia. Oh how I wish I were there.

Tapi untungnya (aha… orang Indonesia kan banyak untungnya, ya!), musim dingin yang panjang ini gak selamanya kelabu. Seperti awal cerita saya, sering juga kami dihibur oleh hadirnya langit biru. Biarpun suhunya di bawah angka -20℃, biasanya kami sebut hari yang indah. Karena bersama langit biru, angin dingin yang menusuk tulang biasanya tidak ikut meramaikan hari-hari kami. Dan saya yang manusia tropis ini seperti menemukan lagi “dunia” saya yang hilang.

Foto di bawah ini saya ambil ketika saya dan suami jalan-jalan ke hutan di belakang rumah kami. Suhu waktu itu berkisar di angka -20℃ dengan langit biru disertai matahari yang bersahabat. Sayang rasanya kalau cuma dibawa duduk diam di rumah. Jadi biarpun lumayan dingin, saya ajak suami saya jalan-jalan deh!

Salah satu serunya jalan-jalan ke hutan lindung di belakang rumah kami saat musim dingin adalah kami tidak akan berpapasan dengan beruang, baik beruang hitam atau grizzly bear. Mereka semua hibernasi sampai akhir menjelang musim panas nanti. Paling sering, kami bertemu dengan rusa atau tupai yang sibuk cari makan di antara pepohonan pinus. Atau kadang-kadang moose, binatang bertanduk sejenis rusa dengan kulit bergelambir yang tumbuh di lehernya. Mereka pemalu, begitu sadar akan keberadaan kami, mereka pasti kabur. Mungkin pakai ngomel ya, “Duh.. manusia-manusia ini ngeganggu aja, ikke kan lagi asik-asiknya cari makan!”

Deer atau rusa ini berpose sekejap untuk saya potret dari jarak jauh. Kelihatannya lucu tapi cukup sering menyebabkan kecelakaan di jalan raya di segala musim karena mereka tipe yang suka bingung. Seperti ayam gitu deh setiap dihadapkan pada pilihan antara mau menyeberang jalan atau tidak.

Nah… yang ini penampilan induk moose sedang asyik sarapan pagi ketika kami melintas di jalan raya. Di musim dingin begini, mereka suka menjilati garam yang disebar di jalan raya sebagai pelarut salju. Tinggal kami yang harus super hati-hati dan awas saat menyetir. Peringatan “ngebut = benjol” sama sekali gak berlaku kalau kita berpapasan dengan mereka. Yang ada malah mobil bisa penyok habis karena menabrak moose dan kita bisa terluka karena kecelakaan yang susah terhindarkan.

Salah satu kegiatan harian kalau musim dingin adalah cek ricek kenyataan suhu udara lewat termometer yang terpampang di luar rumah macam foto di atas ini. Tentu sebelumnya suhu dicek melalui ramalan cuaca baik dari TV, internet, atau aplikasi di telepon genggam. Bagi orang Canada, ramalan cuaca itu penting banget rupanya!

Selain bisa jadi bahan awal pembicaraan, mengamati ramalan cuaca itu juga seperti hiburan. Hari ini -29℃, besok bisa jadi agak hangat karena angkanya adalah -22℃, lusa -10℃, akhir pekan bisa -14℃.

Biar begitu, apa pun ramalannya, kami ya harus tetap siaga dengan pakaian berlapis setiap akan keluar rumah. Kata suami saya, mendingan siap selalu dengan winter clothes yang berlapis daripada beku kedinginan karena kekurangan lapisan penahan dingin. Biasanya, begitu sampai di dalam mobil yang hangat, saya pasti langsung buka mantel saya karena sesak rasanya, agak-agak jadi claustrophobia gitu deh…. Maklum, manusia tropis ini terpaksa hidup seperti beruang kutub!

Awal-awalnya suhu di angka -20℃ biasanya saya suka jadi pemalas. Maunya hibernasi di rumah saja. Saya malas keluar rumah karena ribet rasanya harus pakai pakaian berlapis-lapis plus sepatu boot segede gaban yang tahan sampai suhu -40℃ itu. Boro-boro bisa bergaya bak fashionista deh! Karena, seperti suami saya dulu pernah bilang, yang penting itu fungsinya baju winter kita bisa sukses menghangatkan kita, bukan sukses membuat kita kelihatan gaya.

Nah… setelah beberapa minggu beradaptasi dengan suhu jauh di bawah titik 0, oh… tepatnya sih… menerima kenyataan suhu super dingin itu, barulah saya meniatkan diri untuk berkeliaran di luar rumah. Alias take a walk. Demi hobi fotografi, saya pun bertekad baja menembus dingin. Hasilnya? Kedua foto di samping ini saya ambil ketika suhu ada di titik -22℃.

Selama tidak ada angin bertiup, kita tidak akan menggigil parah atau merasa kedinginan yang menusuk tulang begitu. Karena kalau ada angin, suhu yang cuma -10℃ bisa terasa seperti -25℃. Jadi, kembali cek ricek ramalan cuaca itu amat penting. Perlu dilihat apakah bakal ada angin yang ‘nyebelin itu atau enggak.

Lalu musim dingin yang 6 bulan begitu, kami ngapain aja ya? Wah… lumayan banyak pilihan sih sebenarnya. Karena kan life goes on. Sekolah bakal ditutup sementara kala suhu mendekati angka -40℃. Yang terpaksa masuk kerja di suhu macam itu, ya harus tabah. Semua aktivitas hobi kebanyakan beralih jadi indoor. Arena olah raga di Recreation Centre kami ramai oleh mereka yang suka ice hockey, ice-skating dan ice-curling. Hockey season is up, baik di TV dan di arena. Maklum deh, orang Canada kebanyakan fans beratnya hockey.

Yang hobinya membaca, quilting, atau merajut bakal lebih rajin di rumah. Yang pada sakti niat berjibaku dengan suhu dingin, berkeliaranlah mereka di alam bebas di seputaran kota kecil kami ini. Seperti seru-seruan snowmobiling, cross-country skiing, ice-climbing, ice fishing. Atau pergi ke lokasi khusus di bukit untuk main ski atau snowboarding. Oh ya, kota kecil saya ini letaknya di kaki bukit Canadian Rockies. Jadi arena untuk winter outdoor activities banyak macamnya. Buat anak-anak (termasuk saya juga sih!), paling seru main seluncur atau toboganning di bukit khusus bermain. Seru meluncurnya, sungguh gak seru buat ‘nanjak lagi ke bukitnya… hahahaha….

Snowmobiling Source: Visit Tumbler Ridge’s Facebook Page

Cross-Country Skiing Source: Visit Tumbler Ridge’s Facebook Page

Ice-Climbing Source: Visit Tumbler Ridge’s Facebook Page

Kalau saya sih… lebih memilih yang ringan dan murah meriah saja tapi tetap seru: jalan kaki atau snowshoeing seperti di foto di bawah ini. Salju yang tingginya selutut jadi gak masalah kalau kita mau snowshoeing.

Snow-shoeing adalah sejenis olahraga musim dingin yang sederhana di mana kita bisa berjalan di atas salju tanpa harus memecahnya dengan memakai alas kaki yang didesain khusus. Intinya sih, “if you can walk, you can snowshoe”. Sesederhana itu. Beda banget sama main ski yang perlu belajar khusus.

Satu lagi keriaan waktu musim dingin di tempat saya adalah menikmati dog-sledding. Teman saya berbaik hati mengajak saya bermain bersama anjing-anjing kesayangannya. Benar-benar pengalaman yang menakjubkan. Saya duduk di kereta yang ditarik anjing-anjing kutub ini. Mereka berlari kencang. Dan sayapun lupa akan bosannya musim dingin yang panjang!

Sampai di sini dulu ya cerita saya, Keluarga Esjepe. Sampai bertemu lagi di cerita-cerita selanjutnya. Semoga surat kali ini bisa memberikan sekelumit gambaran kisah musim dingin di Canada yang tahun ini memasuki pengalaman tahun ke 9 bagi saya.

 

Salam hangat selalu,

Bintang