Begini rasanya jadi pemain Timnas…

Saya baru saja terbangun dari tidur yang isinya mimpi menjadi pemain Timnas PSSI. Karena takut lupa, begitu bangun saya langsung tulis kejadian dalam mimpi yang baru saja saya alami itu.

Sebagai salah satu pemain dalam skuad PSSI penampilan saya terlihat aneh sendiri, badan saya tak seatletis pemain yang lain, perut saya tak serata pemain lain, kaki saya tak sebesar dan sekokoh dibanding Evan Dimas, Boaz Salossa, maupun Firman Utina. Lari saya pun lebih sering terlihat kikuk, kurang lincah dan lambat. Tapi justru karena penampilan saya itulah yang membuat lawan bingung, kesulitan membaca gerak lanjutan saya. Kehadiran saya dalam permainan itu ternyata berhasil membuat heran dan merusak konsentrasi lawan, tendangan saya yang pelan justru di luar perkiraan mereka, umpan-umpan silang yang asal-asalan justru malah berbuah kecohan yang mematikan.

Sebuah kemelut terjadi di depan gawang lawan, tendangan keras mengarah ke kotak penalti, begitu keras dan cepatnya bola itu mengarah ke badan saya, khawatir akan mengenai wajah dan bagian depan badan saya, reflek saya berputar, betul… dengan keras bola menghantam punggung saya, bola memantul ke arah kiri, kiper lawan kebingungan, (ternyata) bola melesak masuk ke dalam gawang. GOL! Pemain PSSI bersorak girang, saya justru kebingungan, masih sambil menahan nyeri punggung, beberapa pemain memeluk dan mengelukkan. Indonesia menang 1-0. Suara gemuruh dari arah penonton, saking riuhnya, saya jadi terbangun.

Haha, bisa jadi mimpi ini terjadi karena sebelum tidur yang saya baca adalah berita kekalahan PSSI 2-0 dari Suriah saat latih tanding. Mungkin karena rasa sedih karena PSSI lebih sering kalah, lebih sering ribut.

Cabang olah raga sepak bola di negeri ini memang aneh, kalau membuka lembaran sejarah, cabang bola sepak jauh-jauh hari sudah jadi olah raga yang digemari di negeri ini, tulisan tentang sepak bola di majalah Sin Po dan Pandji Poestaka, terbitan awal abad 19 misalnya, dua majalah beroplah besar itu menulis betapa sudah berjalannya turnamen rutin bola sepak antar klub di negeri ini, banyak ditulis tentang klub sepak bola Vios, Olivero, dan Hercules, (dominasi pemain Belanda) Sementara klub pribumi  tercatat diantaranya nama, Hizboel Wathon, Roekoen Setia, dan Ster. Sementara untuk kelompok Tionghoa, klub sepak bola mereka tergabung dalam Hwa Nan Voetbal Bond. Lawatan serikat bola dari Malaya, Singapura, hingga Tiongkok banyak yang datang dan berlomba di kota seperti Jakarta, Medan, Bandung, dan Surabaya.

Dari terbitan media-media tua itu malah tak banyak saya temukan jejak dari cabang olah raga badminton atau bulu tangkis yang sempat kita kuasai secara mendunia. Sepak bola justru yang mendominasi. Catatan itu juga menulis, di tanggal 5 Juni tahun 1938 Indonesia yang saat itu masih memakai nama Hindia Belanda hadir sebagai wakil Asia pertama dalam piala dunia. “Gaya menggiring bola pemain depan Tim Hindia Belanda, sungguh brilian…,” begitulah laporan koran Perancis L’Equipe, edisi 6 Juni 1938, “tapi pertahanannya amburadul, karena tak ada penjagaan ketat..” (sebuah penelusuran BBC tentang piala dunia 1938). Dalam pertandingan yang digelar Velodrome Municpale, Reims itu team Hindia Belanda dicukur 6-0 oleh kesebelasan Hongaria. Majalah Sin Po menulis hasil pertandingan ini dengan headline: Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah”.

Ribut-ribut soal sepak bola di negeri ini ternyata bukan perkara baru, beberapa sumber menceritakan bagaimana awalnya terbentuk Nederlandsch Indische Voetbal Unie, kehadiran Hwa Nan Voetbal Bond dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia. Pertikaian terjadi saat Nederlandsch Indische Voetbal Unie yang tadinya sepakat dengan PSSI untuk kompak dalam mengirimkan pemain ke piala dunia ternyata ingkar, tim Hindia Belanda didominasi oleh orang-orang Belanda, meski tercatat ada juga nama-nama pribumi seperti Nawir, Soedermadji, dan Anwar Sutan. Kondisi inilah yang membuat Soeratin murka, dan membatalkan gentlemen agreement itu. Soeratin kemudian terpilih menjadi ketua PSSI pertama dan namanya diabadikan sebagai piala untuk kompetisi sepak bola junior di negeri ini.

Lalu mengapa sepak bola kita seperti bergerak mundur, jika pun berjalan, dia seperti jalan di tempat?

Kalau diperhatikan, sepak bola adalah cabang olah raga yang banyak melibatkan orang dalam sebuah teamnya. Sepak bola adalah olah raga yang kadung dicintai jutaan orang dan menciptakan fanatisme (kadang-kadang) di luar nalar. Di banyak negara sepak bola dijadikan alat politik, bisa sebagai pemersatu atau malah bisa jadi faktor pemecah, pencipta kerusuhan dan keributan. Di sisi lain sepak bola adalah tanah bagus bagi bisnis, tapi juga lahan subur bagi tumbuhnya jamur perjudian.

Sepak bola bukan hanya membutuhkan otot dan tulang yang kuat, stamina, strategi, kekompakan team, kemampuan individu penjaga gawang, lini pertahanan, lini tengah, hingga ketajaman ujung tombak tapi juga sangat dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal.

Sampai kapan keringat para pemain PSSI hanya akan jadi mainan kepentingan bisnis semata, kepentingan sekelompok petualang politik semata, kepentingan para bandar judi semata? Mungkin kelak, saat skuad Indonesia bisa membawa pulang Piala Dunia dan membahagiakan rakyatnya.

Sekarang kita berdoa saja dulu untuk Timas Indonesia yang akan berlaga di Piala AFF 2014, semoga bisa sering menang dan jadi juara.

Berdoa dimulai….

 

iwan