#30 Selayang Sabang

 

(Surat Indah untuk Teguh Sudarisman, Travel Writer, sahabat, di Jakarta)

 

Sabang, 21 Juni 2011

Saya sudah melihat langsung Tugu Kilometer Nol. Bangunannya berbentuk menara, di pucuknya bertengger lambang Garuda Pancasila. Di bagian depan terdapat tangga ke lantai atas, sebuah ruang terbuka dengan prasasti di tengahnya. Lantai itu mungkin diperuntukkan bagi pengunjung yang ingin melihat pemandangan sekeliling tugu. Di lantai bawah terdapat sebuah pintu masuk menuju ruang kosong, sebuah prasasti yang menunjukkan kapan dan oleh siapa tugu itu diresmikan juga menempel di dindingnya.

Datang ke Sabang juga kurang lengkap jika tidak ke Sabang Hill. Saya baru tahu kalau di situ ada sebuah bangunan tua peninggalan Belanda. Bangunan itu sedang direnovasi, kudengar akan dijadikan sebuah hotel. Letaknya sangat strategis, tepat di puncak bukit. Dari halamannya yang dipagari pohon pinus, kita bisa duduk santai sambil memandang laut dan suasana Pelabuhan Sabang.

Dahulu, Sabang pernah jadi salah satu pelabuhan yang sangat sibuk di Asia Tenggara. Kapal-kapal uap ramai singgah untuk mengisi batu bara sebelum melanjutkan perjalanan panjang menyeberangi samudera menuju Eropa. Kini pelabuhan itu tampak lengang, dari kejauhan yang terlihat hanya satu-dua kapal kecil tengah berlabuh.

Menatap pelabuhan Sabang, saya seperti melihat sebuah roda kehidupan yang sedang berputar.

 

Indah