Pesona Tenun Tanimbar

Nama Samuel Wattimena dan kain tenun memang tak bisa dipisahkan. Sejak awal masa karirnya sebagai perancang busana, Samuel sudah banyak “bermain” dengan tenun dalam rancangan-rancangannya. Baru-baru ini saya berkesempatan menyaksikan “Gelar Karya Samuel Wattimena : Evolusi Tenun Maluku Tenggara” yang bekerjasama dengan Forum Kajian Antropologi Indonesia, di Museum Tekstil, Jakarta.

Kepulauan Tanimbar adalah bagian dari wilayah Maluku Tenggara Barat (MTB)  yang merupakan bagian dari pulau-pulau terluar tenggara Indonesia, dengan Saumlaki sebagai ibu kota kabupaten yang terletak di Kecamatan Tanimbar, Pulau Yamdena. Wilayah ini tidak hanya terkenal dengan ukiran kayu, tapi juga tenun ikatnya. Di tangan Samuel, kain-kain tenun tanimbar yang cantik diolah menjadi busana moderen dengan rancangannya yang dinamis, seperti yang diperlihatkannya pada acara gelar karya itu.

Saya juga tertarik pada eksperimen Samuel yang memadukan sulam tangan dan bordir mesin pada helai-helai tenun tanimbar. Sebuah usaha memadukan dua teknik berbeda yang sama rumitnya ini patut diapresiasi menurut saya.

Di sana saya juga sempat sedikit belajar tentang proses pembuatan kain tenun tanimbar, khususnya tentang pewarnaan alam. Konon, pekerjaan memintal kapas menjadi benang sudah jarang dilakukan orang di Tanimbar. Berbagai zat pewarna alam juga tidak lagi banyak dipakai. Kaum perempuan di sana sekarang lebih banyak menenun memakai benang pabrik dan mewarnai dengan zat pewarna kimiawi yang lebih mudah didapat di pasar.

Proses pembuatan kain dengan cara tradisional dan alami ternyata memang rumit. Untuk satu helai kain saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu, mulai dari memintal benang, mencelup warna, mengeringkan, hingga menenunnya. Pantas saja kalau selembar kain tenun bisa berharga selangit.

Ibu Rospita, salah seorang perajin tenun tanimbar bercerita tentang bagaimana proses helai-helai benang diolah menjadi kain dengan menggunakan pewarna alam. Tidak mudah dan butuh waktu yang cukup lama, karena untuk mendapatkan intensitas warna yang diinginkan, benang tidak cukup dicelup satu kali, tapi berkali-kali. Dan untuk setiap pencelupan, benang harus dijemur sampai kering terlebih dulu. Warna-warna alam didapat dari aneka tumbuhan yang tersedia di tempat asalnya seperti daun mangga, akar mengkudu, kemiri, kunyit, kulit dadap, daun pepaya, dan daun katuk.

Karena alasan lamanya proses pembuatan kain tenun dan harganya yang sangat tinggi, Samuel Wattimena juga mencoba untuk mengangkat motif-motif tenun tanimbar melalui rancangan kain-kain dengan teknik print. Dengan begitu, Samuel berharap, masyarakat luas bisa menikmati motif-motif tenun yang indah dengan mudah dan harga lebih terjangkau tanpa bermaksud menghilangkan budaya tenun ikat itu sendiri. Justru spirit tradisional yang terdapat dalam motif tenun ikat diharapkan semakin meningkatkan kecintaan masyarakat pada tenun tradisional. Semoga budaya tenun ikat tetap berjaya di negeri ini.

 

Cheers,

indah