#27 Awas Monyet!

 

(Surat Indah untuk Yusi Sumono Ramli, sahabat, di Singapura)

 

Sabang, Pulau Weh, 20 Juni 2011

Tidak seperti di Jakarta, pukul 16.30 WIB di sini matahari masih terik bersinar. Fatwa Amri, teman yang menjemput di pelabuhan, menyarankan kami untuk langsung saja pergi ke Tugu Kilometer Nol yang berjarak sekitar 32 kilometer dari pelabuhan. Perjalanan ke sana melewati hutan cukup lebat serta jalan menanjak dan berkelok. Aspalnya lumayan mulus tapi tak cukup lebar, jadi saat berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan salah satu harus menepi.

Tapi karena lalu-lintasnya masih sepi, kami lebih sering bertemu monyet, burung liar, biawak, dan babi hutan. Hanya satu-dua kendaraan yang lewat, sebagian besar adalah mobil-mobil built-up Jepang yang tak pernah kutemui di Jakarta. Rupanya mobil eks Singapura yang sudah berplat BL banyak lalu-lalang di pulau ini.

Sampai di Tugu Kilometer Nol, kami tidak cuma berfoto tapi juga merekam gambar Ikyu dengan video. Dia bergaya bak seorang reporter TV, “Saat ini kami sedang berada di Tugu Kilometer Nol Indonesia di Sabang, Pulau Weh. Perlu tiga hari dua malam dengan KM Kelud, semalam dengan bus, dua jam naik feri, dan 25 menit naik mobil untuk sampai ke tempat ini”. Kami semua tertawa saat melihat hasil rekaman gambarnya yang lucu karena matanya sebentar-sebentar melirik ke kiri dan kanan, tak selalu ke arah kamera, dia khawatir didekati kawanan monyet nakal yang banyak berkeliaran di sekitar kami.

Salam dari Sabang,

Indah