Menguping Gajah

Tidak banyak yang mengetahui nasib gajah di Indonesia, khususnya gajah sumatra, yang sudah berada di ambang kepunahan. Mendengar cerita tentang nasib hewan mamalia raksasa itu membuat hati terenyuh, itulah sebabnya tanpa banyak pikir saya langsung setuju ketika Ika Vantiani, sang kurator, mengajak saya untuk ambil bagian dalam kampanye menolong #NasibGajah yang diadakan oleh WWF Indonesia bersama 19 orang seniman lainnya.

Pameran seni instalasi ini unik karena dilakukan di ruang publik yang ramai, yaitu di area car free day jalan Sudirman, otomatis waktu pameran pun tidak terlalu panjang mengingat car free day hanya berlangsung di pagi hari Minggu, mulai pukul 6 sampai 10.

Bagaimana caranya merebut perhatian orang di tengah suasana yang demikian hiruk pikuk, sambil mengedukasi audiens supaya lebih memahami nasib gajah sumatra, dan mendorong mereka untuk melakukan aksi langsung menolong gajah?

Ide yang muncul adalah karya berjudul “Menguping Gajah”. Saya ingin agar suara-suara dari 4 ekor gajah yang menyayat hati dalam menceritakan nasib mereka yang malang bisa merebut perhatian orang-orang yang lewat.

Terus terang, proses pencarian ide dan produksi karya ini cukup bikin saya pontang-panting karena waktunya sungguh mepet, pameran yang semula akan diadakan pada pertengahan November ternyata dimajukan satu minggu lebih awal. Sementara itu, banyak sekali komponen-komponen yang harus disiapkan, dan kepanikan pun dimulai…

Mulai dari membuat dan mengecat kotak kayu…

Mencari efek suara gajah, mengedit, dan merancang rangkaian audionya…

Membuat patung gajah (untuk pertama kalinya :) )

Membuat kotak diorama…

Untunglah, semua bisa selesai tepat pada waktunya. Puas rasanya melihat orang-orang yang lewat menoleh (karena terganggu oleh suara gajah), mendekat, lalu membaca tulisan-tulisan terjemahan dari suara gajah yang tertulis di keempat sisi kotak “Menguping Gajah”. Banyak orang tampak berubah air mukanya setelah membaca tulisan, beberapa bahkan terlihat meneteskan air mata.

Semoga saja semakin banyak orang yang mencintai hewan cerdas itu dan mau peduli akan nasibnya yang semakin sulit, terhimpit, sehingga nasib gajah bisa diperbaiki. Semoga…

 

Cheers,

indah

(Terima kasih untuk Ika Vantiani atas tantangannya, Bung Kipot Soundman untuk koleksi suara gajahnya, Teuku Fahri untuk editan suara gajah, Imaduddin dan Erlingga untuk semua kerepotan dan rangkaian audio, Hauritsa untuk masukan-masukannya, Iwan dan Ikyu Esjepe atas diskusi, pengertian, dan selalu ada untuk mendukung serta memberi semangat buat Ibu. Thank yous!)

 

Baca juga di sini…