#26 Sirkus Amatiran

 

(Surat Indah untuk Glenn Marsalim, Desainer Grafis/praktisi perikalanan, sahabat, di Jakarta)

 

Kami hampir saja ketinggalan feri. Aku paling tidak suka kalau harus terburu-buru, tapi meskipun sudah memperhitungkan waktu hal itu masih terjadi juga. Perjalanan menyeberangi Selat Sabang dari Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh diawali dengan kehebohan. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.55 WIB ketika kami sampai di Balohan, KMP BRR sudah membunyikan peluit yang ketiga, itu artinya kapal sudah siap untuk diberangkatkan. Karena tak mau menunggu kapal berikutnya yang baru akan berangkat pukul 16.00 WIB, kami berlari sekuat tenaga menuju pintu gerbang dermaga sambil berteriak-teriak meminta mereka untuk menunggu, tentu saja sambil menggendong ransel dan barang bawaan lainnya. Kami beruntung, petugas berbaik hati menunggu dan mengizinkan naik, tentunya setelah membayar tiket kapal seharga Rp 60.000/orang.

Sampai di atas feri, muncul persoalan lain, kami bingung mencari jalan ke ruang duduk penumpang yang terletak di dek atas karena jalan menuju tangga sudah tertutup oleh berbagai barang dan kendaraan, baik mobil maupun motor. Sementara kami tidak mungkin berada di sana selama perjalanan karena hal itu memang tidak diperbolehkan.

Seorang petugas meminta kami untuk memanjat tangga yang terletak di sisi kiri feri. Ternyata tidak mudah, karena anak tangga yang terbuat dari besi itu licin berlumur oli. Dengan susah payah kami harus memanjat sambil membawa ransel berat berikut tas kamera dan tripod, tak cukup sampai di situ, ternyata kami masih harus turun lagi lewat tangga besi lain untuk kemudian menyeberang lagi ke tangga yang menuju ke dek penumpang di lantai atas. Mau nangis rasanya, kami harus berjalan bukan berpijak di lantai, melainkan di atas jok-jok motor penumpang yang berjajar. Kalau satu saja dari motor-motor itu ada yang terguling, pasti semua akan ikut ambruk. Menyeimbangkan badan sambil membawa barang dan pijakan yang bergoyang membuat kami seperti sedang menjadi pemain akrobat saja. Tentu ini jadi tontonan bagi para penumpang yang berada di dek atas. Apalagi saat Ikyu menjerit kaget waktu tasnya yang berisi kamera hampir saja jatuh. Untung beberapa penumpang berbaik hati mau membantu memegangi beberapa tas kami.

Setelah berhasil masuk ke ruang penumpang, barulah kami merasa lega. Barang-barang kami tumpuk dan geletakkan begitu saja di samping lemari penyimpan pelampung, sebagian lagi kami taruh di depan kursi sebagai sandaran untuk meluruskan kaki. Fiuh! Kami lelah dan kepanasan. Suhu ruang yang sejuk ber-AC membuat mata berat karena mengantuk.

Tadi aku sempat tertidur juga beberapa menit, dan waktu terjaga kulihat dari balik jendela matahari di luar masih menyeringai tajam. Ombak tidak terlalu terasa kuat. Kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 15.05 WIB. Pulau Weh sudah semakin dekat. Setelah hampir dua jam perjalanan, kami akan segera tiba di Pelabuhan Balohan. Penumpang lain yang duduk di kanan-kiriku mulai berkemas, sepertinya aku juga harus merapikan barang-barang. Ikyu sudah menggendong ranselnya, dia bersemangat sekali ingin melihat Kota Sabang.

 

Indah