Memotret pasar Gede, Surakarta

Bila menelusuri kota Surakarta jangan lupa untuk mampir ke Pasar Gede atau Pasar Besar. Pasar yang kata sejarah dibangun oleh Ir Thomas Karsten di tahun 1093 ini berlantai dua, sangat besar dan megah sejak zamannya. Lokasinya tak jauh dari kantor balaikota, resminya, pasar ini bernama Pasar Gede Harjonegoro.

Pasar Gede atau pasar besar ini memang bukan hanya menang secara ukuran, tetapi juga barang-barang yang dijual adalah barang-barang pilihan. Konon, produk-produk yang masuk ke situ adalah hasil sortiran dari Pasar Legi yang mendapat pasokan barang dari luar kota Surakarta.

Gempol pleret adalah minuman yang paling saya cari saat main ke pasar Gede ini, si mbok penjual gempol pleret selalu mangkal persis di pintu masuk pasar. Seperti apa rupa dan rasa Gempol Pleret itu? Kira-kira seperti es dawet, bedanya, kuah santannya berisi bulatan-bulatan kecil berbentuk pipih yang terbuat dari tepung beras, diberi cairan gula jawa, manis dan gurih rasanya, ditambah dengan es atau diminum dingin akan lebih enak.

Di pintu gerbang pasar, terpampang nama pasar tersebut yang terbuat dari besi dengan desain yang artistik, beberapa tukang becak tak hentinya menawarkan jasa, para pedagang asongan dan pengemis ikut menambah ramai suasana panas terik Solo di siang itu.

Masuklah terus ke dalam, pedagang buah dan sayuran akan langsung bisa kita temukan, aneka jeruk, semangka, buah naga, wortel, kubis, pisang, manga, belimbing dan lainya ditawarkan disini.

Masuklah lagi terus ke dalam, sebuah kain pengumuman kumal tergantung di langit-langitnya, ajakan untuk berhati-hati menghindari potensi kebakaran akibat membuang puntung rokok yang sembarangan. Agak ke belakang, kita akan menemukan sekumpulkan penjual karak, kerupuk, keripik, emping, dan aneka gorengan lainnya. Ini tempat yang selalu ramai, begitu banyak penggemarnya.

Beberapa langkah dari situ akan kita lihat aneka macam bumbu, bergunung adonan sambel pecel yang terbuat dari kacang mau pun wijen. Berjalanlah terus, barisan ibu-ibu penjual ayam potong sudah menunggu, ayamnya gemuk-gemuk. Jangan heran jika saat berjalan di dalam pasar ini kita juga agak berpapasan dengan pedagang asongan yang meneriakanan pisau tajam dan aneka keperluan dapur dan rumah tangga.

Bukan cuma makanan mentah, di dalam pasar juga banyak ditawarkan makanan matang, aneka jajanan yang nikmat dan mengundang selera banyak dijajakan. Lelah berjalan, kita bisa berhenti di warung dawet Bu Watik. Sambil menikmati kesegaran es dawet mata kita akan tertuju pada tumpukan paha dan dada ayam yang ada di samping gerobak dawet Bu Watik. Sepertinya cocok untuk dibawa pulang, digoreng, dan disantap dengan nasi hangat dan sambal pedas.

Di bagian belakang pasar kita akan ketemu dengan sebuah toko yang khusus menjual intip. Intip kok dijual? Intip disini adalah makanan, bahasa gampangnya kerak nasi, ada dua pilihan yang bisa didapat: manis dan asin.

Suasana di luar pasar hari itu sedang terik-teriknya membuat beberapa pedagang terlihat ada yang kelelahan dan terkantuk. Untungnya suasana di dalam pasar tak terlalu pengap, sirkulasi udara cukup baik terjaga. Di lantai 2, di los bagian ikan dan daging pun tertata lumayan rapi, mulai dari ikan darat dan laut, mulai daging sapi, kambing, hingga babi, tersedia di sini. Karena letaknya yang dekat dengan pecinan Balong di kota Surakarta, kita akan bisa dengan mudah menemukan para penjual daging babi, mulai dari yang masih utuh bentuknya, yang sudah dipotong-potong, hingga yang sudah menjelma menjadi sosis lengkap tersedia.

Pasar Gede Surakarta ini memang menampung begitu banyak komoditi dan merupakan roda ekonomi yang penting bagi denyut nadi kehidupan kota Surakarta. Anda punya cerita atau pengalaman berbelanja di pasar ini? Mari berbagi cerita….

 

Salam,

 

*Semua foto diambil dengan menggunakan Nokia Lumia 1020