Ikan mentah atau babi matang?

Awalnya ini adalah pilihan sulit buat saya. Masa kecil yang selalu dicekoki dengan minyak ikan membuat saya trauma pada bau amis ikan mentah, terlebih ikan laut. Beberapa kali tawaran teman yang akan mengajak makan sushi dan sashimi saya tolak mentah-mentah. Sudah cukup menderita saya mencium bau amis ikan mentah, apalagi harus mengunyah dan menelannya, No way. Kalau soal babi, apakah itu babi rica-rica, babi kecap masak kentang, babi kuah sawi asin, atau babi dimasak dengan cara dan bumbu apapun, jelas jawaban saya, Tidak. Seorang muslim tidak diperbolehkan menyantap babi. Ikan mentah tidak, babi matang juga tidak.

Sore tadi saya diundang ke sebuah restoran baru yang lokasinya di Jl Suryo, Senopati, Jakarta. Namanya 3 Wise Monkey, teman saya bilang restoran itu adalah Japanese Restaurant and Bar Specializing in Traditional Kaiseki Omakaze and Sake Bar. Kalau datang malam hari letak restoran ini akan lebih mudah dikenali, ada neon sign bentuk monyet yang menempel di pohonnya. Menikmati makanan di sini ingatan saya terbang ke Milan. Saat lidah saya pertama kali harus berbenturan dengan sashimi dan sushi.

Jalan Tuhan tak pernah bisa kita tebak, sebuah perjalanan tugas kantor mengirim saya untuk berangkat ke Villa d’Este di danau Como, Milan, Italia di pertengah tahun 2000. Dalam sebuah konferensi internasional itu suguhan begitu beragam, tak ketinggalan tentu Cucina Italiana alias makanan khas Italia seperti, Pizza, Macaroni, Spaghetti, lasagna, Risotto, Fusilli, Calenolli, dan masih banyak lagi. Namun demikian, sebagai satu-satunya peserta konferensi yang beragama Islam saya harus berhati-hati karena daging babi “menyusup” ke banyak menu yang disajikan tadi. Irisan daging yang tersebar di banyak menu tadi adalah daging yang tak boleh saya konsumsi.

Satu dua hari hidup saya masih terselamatkan oleh rerotian, kue-kue dan buah-buahan. Dalam rangkaian acara itu kami diundang untuk dinner oleh seorang signora kaya di rumah besarnya di Milan. Sebuah rentetan menu disajikan, di setiap step ada dua pilihan menu yang ditawarkan, kita tinggal pilih satu. Babi matang atau soup salmon mentah, pilihan yang tiba-tiba muncul dihadapan saya. “Salmon soup, please”, ucap saya lirih sambil menarik nafas panjang.

Salmon mentah yang diblender dengan sedikit tambahan saus dan perasan jeruk itu memaksa mulut saya terbuka (mata saya tertutup) dan menghabiskannya. Seorang kawan dari Afrika Selatan yang duduk di sebelah saya memuji betapa enaknya menu itu, dengan cepat saya menyahut, “Molto delizioso!”  Tak seburuk yang saya duga, tak se-amis yang saya kira, malah ternyata menu itulah yang akhirnya jadi kunci pembuka lebar mulut saya pada sushi dan shasimi. Hubungan saya dengan ikan mentah pelan-pelan mulai terjalin, pelan namun pasti, sushi dan sashimi malah justru membuat saya ketagihan.

Kembali ke restoran 3 Wise Monkeys di Jl Senopati, Jakarta Selatan,tanpa terasa, satu demi satu menu yang datang saya nikmati secara berurutan, mulai dari House special salad, Kikazaru Tofu, Gyu Tan, Chicken Black pepper, Mizo Glazed Salmon, 3 WM Special Roll, Soyu Butterbeef, Abury Salmon Belly dengan Truffle Sauce, Gyu Don, Beef Udon, Yaki Udon hingga dessertnya.

Makan bareng teman, ngobrol ngalor ngidul membuat acara makan sore hingga malam itu makin menyenangkan. Kalau ditanya berapa nilai yang harus saya berikan pada makanan yang ada, saya tidak menjawab eksak seperti teman-teman food blogger bisa lakukan, yang jelas, saya pasti mau sekali untuk bisa datang lagi, berkali-kali.

 

Ciao…