#23 Lon Mow Rayeuk

 

(Surat Indah untuk Petty S. Fatimah, Pemimpin Redaksi Majalah Femina, sahabat, di Jakarta)

 

Banda Aceh, 20 Juni 2011

 

Aku sempat terkejut waktu keluar dari bandara, sama sekali tak menyangka bakal dijemput oleh serombongan perempuan berkerudung yang tak kukenal. Rupanya mereka adalah keluarga dari Fatwa Amri, sahabat kami yang tinggal di Sabang. Lega, sambutan hangat mereka membuatku tak merasa jadi orang asing di sini. Dengan ramah mereka mengajakku naik ke dalam mobil lalu mengantarku ke Masjid Raya Baiturrahman, tempat pertemuanku dengan Iwan, Ikyu, dan Decyca di Banda Aceh yang sudah kami sepakati sebelumnya.

Dan di sinilah aku, di salah satu anak tangga masjid tua bersejarah di Kota Banda Aceh, masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda tahun 1600-an ini masih berdiri dengan kokoh.

Udara di luar panasnya bukan main. Meski tubuhku tertutup rapat, terik matahari tetap menembus sampai ke kulit. Usai sholat zuhur, aku duduk di teras masjid megah berdesain eklektik yang bentuk lengkungan dan pilarnya sekilas mengingatkanku pada Masjidil Haram di Tanah Suci. Lantai marmer berwarna putih bercampur abu-abu terasa sejuk, sangat bertolak belakang dengan suhu di luar.

Sebenarnya, aku masih setengah percaya kalau keinginan untuk berkunjung ke Tanah Rencong akhirnya kesampaian juga. Walau bukan orang Aceh, tempat ini punya arti tersendiri bagiku. Bagaimana tidak? Peristiwa tsunami yang meluluhlantakkan kota ini pada tahun 2004 silam adalah peristiwa yang menjadi momentum buat aku dan Iwan untuk mulai menjalankan kampanye Indonesia Bertindak dengan mengumpulkan sumbangan melalui penjualan kaos bertuliskan Lon Mow Rayeuk That Lon Kalon Aceh (Aku Menangis Keras Melihat Aceh). Sekarang kampanye Indonesia Bertindak sudah berjalan hampir 8 tahun, semuanya dimulai dari ajakan bertindak untuk menggalang solidaritas bagi para korban tsunami di Aceh ini.

Selain kopi dan aneka masakannya yang nikmat, kabarnya berkeliling Kota Banda Aceh yang terlihat cantik bermandikan cahaya di malam hari juga tak boleh dilewatkan. Sayang kami tak bisa berlama-lama di kota ini karena harus bersiap untuk melanjutkan perjalanan menyeberang ke Sabang di Pulau Weh. Dalam hati aku berjanji untuk suatu hari nanti akan kembali. Menjelajahi kota ini dengan naik becak motor tentu sangat mengasyikkan.

 

Indah