#22 Matinya Kohler

 

(Surat Iwan untuk Mohammad Saad, Ketua OSIS SMAN I Jakarta 1986, sahabat, di Jakarta)

 

Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, 20 Juni 2011

 

Mohammad Saad temanku, ini adalah untuk kedua kalinya aku datang ke Serambi Mekah. Pertama kali aku menjejakkan kaki di kota ini tahun 1992. Tanggal tepatnya aku sudah lupa, yang kuingat dulu, pada waktu di dalam pesawat, aku sempat membaca koran yang memberitakan tentang pelantikan Bill Clinton sebagai presiden ke-42, menggantikan George H.W.Bush. Waktu itu usiaku masih 25 tahun, masih bujangan. Hari ini, 19 tahun kemudian, aku datang bersama anakku.

Kurang afdol rasanya kalau datang ke Banda Aceh tidak mampir ke Masjid Baiturrahman. Masih seperti dulu, ruang dalam masjid ini terasa sangat sejuk. Kontras dengan udara dan suasana di luar yang bukan main panasnya. Sambil memandangi pilar-pilarnya yang kokoh dan memperhatikan kaligrafi serta ukiran di pintunya yang indah, terbayang kembali rekaman gambar yang kulihat di televisi saat gelombang tsunami besar menghantam Aceh. Betapa bersyukurnya, sementara banyak bangunan di sekitarnya yang luluh lantak, bangunan masjid bersejarah ini luput dari kehancuran.

Saat aku sedang duduk di teras masjid sambil menunggu istriku yang sebentar lagi datang dari Jakarta, seorang bapak berpeci putih melempar senyum dan duduk di sampingku, dia mengaku berasal dari Takengon, Aceh Tengah. Dia banyak bercerita, mulai dari tsunami hingga sejarah Masjid Raya ini.

Aku baru tahu kalau Masjid Baiturrahman di Aceh ini pernah diserang dan dibakar. Pelakunya melemparkan 12 granat, sehingga membuat Masjid Raya hangus dan porak-poranda. Peristiwa itu terjadi pada hari Kamis, 10 April 1873, dua minggu setelah Belanda memaklumatkan perang di Tanah Aceh.

Penyerangan dan pembakaran Masjid Baiturrahman itu dengan cepat menyulut kemarahan orang Aceh, dari segala penjuru kota rakyat berduyun-duyun datang, bersatu memberi perlawanan. 14 April 1873, Belanda harus membayar mahal perbuatannya, seorang komandan besar Tentara Kerajaan Belanda, Kohler, mati. Dadanya tertembus peluru yang disarangkan oleh seorang penembak jitu, pejuang Aceh.

Bala tentara Belanda berhasil dibuat kocar-kacir dan dipaksa kembali pulang ke Batavia. Mendengar cerita ini aku langsung teringat pada seorang veteran perang Aceh yang kutemui di Bornbeck Museum, Arnhem, Belanda, dua tahun yang lalu. Pensiunan tentara Belanda yang pernah bertugas di Meulaboh itu sudah sangat tua. Dia bilang, orang Aceh gila, kalau sudah berteriak Allahu Akbar tak ada rasa takutnya lagi, mereka menyerang dengan sangat berani. Di Museum itu aku juga melihat banyak meriam aneka ukuran milik tentara Aceh, ukirannya sangat indah, konon meriam-meriam itu merupakan sumbangan dari Turki untuk rakyat Aceh.

Mungkin kamu juga tahu, Aceh adalah satu-satunya wilayah di negeri ini yang tidak pernah bisa dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Ada ribuan korban jatuh di kedua pihak, namun begitu, sampai hari ini rakyat Aceh tetap menjaga dengan baik makam Belanda yang tewas akibat Perang Aceh di Kerkhof Peutjoet, tak jauh dari masjid ini. Sebagai penutup ceritanya bapak tua berambut putih itu berkata, “Meskipun pernah bermusuhan, orang Aceh akan tetap menghormati musuhnya yang telah mati.” Kami bersalaman, dan ia pun bergegas pergi. Begitu terpesona aku mendengar ceritanya, sampai aku lupa menanyakan siapa namanya.

Istriku sudah datang, kami akan melanjutkan perjalanan lagi ke Sabang. Meskipun cuma sebentar, obrolan di teras masjid ini menambah wawasanku tentang sejarah dan kehebatan orang Aceh.

Sampaikan salamku untuk kawan-kawan Boedoet’86.

 

Iwan