#20 Pojok Seulanga

 

(Surat Iwan untuk Sumbo Tinarbuko, Dosen Desain Komunikasi Visual, sahabat, di Yogyakarta)

 

Banda Aceh, 20 Juni 2011

 

Setelah melewati malam yang menegangkan di atas bus yang membawaku dari Medan, pagi ini aku tiba di Banda Aceh. Hatiku lega saat melihat matahari yang sinarkan terangnya di kawasan Seulawah yang artinya Pegunungan Emas. Kehidupan tampak mulai menggeliat, dari atas bus kulihat masyarakat sudah banyak yang keluar rumah, beberapa Labi-labi mulai lalu-lalang di jalanan. Jangan salah, Labi-labi di sini bukanlah jenis binatang yang mirip kura-kura, tetapi sebutan untuk kendaraan umum yang banyak digunakan oleh masyarakat, mirip angkot kalau di Jakarta.

Sebelum lupa, aku mau cerita tentang bus yang semalam kami tumpangi dari Medan. Selain cara mengemudi supir yang ugal-ugalan, bus kami juga mengalami mogok sampai tiga kali sebelum akhirnya tiba di tujuan. Tak terbayang apa jadinya jika hal itu terjadi pada saat konflik masih berkecamuk, berhenti di tengah hutan yang gelap dan sepi pasti sangat berbahaya.

Pagi ini teman kami, Yudi, menjemput di lokasi mogok terakhir, beberapa ratus meter sebelum terminal Batoh, Banda Aceh. Remuk redam rasanya tulang dan sendiku akibat duduk dalam posisi yang sama selama lebih dari 12 jam. Kasihan Ikyu yang beberapa kali harus muntah karena masuk angin dan kelelahan, bus dengan perjalanan sepanjang itu ternyata tidak berhenti agar kami bisa makan atau sekedar meluruskan badan.

Kami mampir ke Warung Pojok Seulanga yang menyajikan sate dan soto aceh. Lokasinya di seberang Rumah Sakit Tentara, persis di sebelah Kantor Pos Banda Aceh. Perjalanan yang melelahkan sekaligus menegangkan semalam makin membuat soto, sate, dan segelas teh panas yang tersaji pagi ini semakin nikmat rasanya. Jika sempat mainlah kemari, menikmati aneka kuliner kaya bumbu rempah eksotis seperti daun kari, kunyit, lada, kapulaga, kayu manis, dan asam sunti. Tapi jangan cari gudeg ya, tak ada gudeg yang melebihi kelezatan gudeg di kotamu.

Kelar sarapan kami berkeliling Kota Banda Aceh, terlihat banyak bangunan baru, salah satunya adalah gedung Kantor Walikota yang bentuknya terinspirasi oleh Kapal Motor Penumpang (KMP) Gurita yang tenggelam di Selat Balohan tahun 1996. Kehidupan sudah kembali normal, warung-warung kopi sudah kembali ramai didatangi pelanggan. Namun masih ada juga beberapa bangunan yang rusak akibat tsunami dahsyat 2004 belum diperbaiki.

Saat mampir ke Desa Lampulo, aku melihat sebuah sekolah yang sepertinya sempat hancur dihantam tsunami sekarang sudah kembali berdiri, dari tulisan yang terpampang di dinding tampaknya pembangunannya dapat bantuan dari sebuah produk minuman ringan. Hal itu bisa dilihat dari logo merk minuman tersebut yang tampak menyolok. Apakah itu donasi, promosi, atau keduanya? Bagaimana menurutmu?

Sekian dulu suratku dari Aceh. Salam hangat buat Rayi, Angger, dan Mbak Dhani.

 

Iwan