#19 Menikmati Kantuk

 

(Surat untuk Umi Akhdadiyah, traveller, sahabat, di Yogyakarta)

 

Bandara Soekarno-Hatta, 20 Juni 2011

 

Yang kubenci dari pergi dengan first flight adalah harus bangun pagi sekali dan keluar rumah masih dalam keadaan setengah sadar alias ngantuk. Aku berangkat dari rumah usai subuh, dan tiba di Bandara sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah check-in dan mengurus bagasi, aku membeli roti dan teh hangat dulu untuk mengisi perut yang kosong. Lega rasanya kalau tak harus terburu-buru. Pesawatku akan berangkat pukul 08.35 WIB dan tiba di Banda Aceh pukul 11.15 WIB.

Perasaan campur aduk antara gairah untuk memulai petualangan baru dengan kekhawatiran akan bangun kesiangan membuatku gelisah dan tak bisa tidur. Meskipun sudah pasang dua buah alarm, tetap saja aku merasa tidak tenang. Belum lagi ditambah rasa pusing dan demam akibat flu yang tak kunjung hilang. Rencanaku, dua setengah jam lebih waktu tempuh Jakarta-Banda Aceh nanti akan kupakai untuk membayar waktu tidur yang kurang.

Tapi ternyata aku masih harus sabar menunggu karena baru saja kudengar ada pengumuman, keberangkatan pesawat mundur satu jam dari jadwal, itu artinya aku akan lebih lambat tiba di Banda Aceh. Semoga saja nanti masih ada waktu untuk mengejar feri yang menyeberang ke Pulau Weh. Rencananya, kami sudah harus berada di Sabang sebelum hari gelap supaya bisa langsung pergi ke Tugu Kilometer Nol. Tapi sudahlah, aku tidak mau jadi stres. Dalam sebuah perjalanan terkadang tidak semua rencana bisa berjalan mulus, kalau hari ini kami tidak bisa pergi ke Titik Nol, kami masih punya waktu esok harinya. Kunikmati saja.

 

Indah