#18 Melintas Daerah Merah

 

(Surat Iwan untuk Teuku Fahri, keturunan Aceh, sahabat, di Jakarta)

 

Sigli, 20 Juni 2011

 

Di luar langit masih gelap, bus yang kami tumpangi terus melaju melintasi Kota Bireun dan Pidie. Kawasan ini dulunya terkenal sebagai wilayah yang rawan, tempat di mana kerap terjadi kontak senjata antara pasukan ABRI dan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Di beberapa media pernah kubaca, ada sekitar 1.500 orang tewas sejak 1976 di semua medan konflik, terutama saat DOM (Daerah Operasi Militer) diberlakukan di Aceh. Sungguh menyedihkan.

Alhamdulillah, akhirnya perdamaian bisa tercipta, Perjanjian Helsinki yang ditandatangani 15 Agustus 2005 di ibukota Finlandia pun menyudahi perang saudara. Ingat GAM, pasti ingat Tengku Hasan Tiro, ketua Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) yang wafat pada 3 Juni 2010 di Aceh.

Seorang teman pernah meminjamiku buku berjudul THE PRICE OF FREEDOM, Unfinished Diary of Tengku Di Tiro. Buku yang diterbitkan oleh National Liberation Front of Aceh Sumatra itu berisi catatan harian Tengku Hasan Muhammad di Tiro selama menjadi pelarian dan buronan pemerintah RI, lengkap dengan tanda tangannya. Dalam pembukaan bukunya pria kelahiran Pidie pada 25 September 1925 itu menulis;

The value of a thing is not determined by what you can do with it, but by what price you are willing to pay for it.

Freedom means that we take full responsibility for ourselves, our people, and our country; freedom means that we maintain the distance that seperates us from others; freedom means that we are no longer afraid of hardship, difficulties, privation or death: he who has learned how to die can no longer become a slave or a colonial subject.

He who wants to be free must always be ever ready to go to war and to die for his freedom. “The freeman is a warrior.” 

To preserve our freedom, our forefathers had suffered all, sacrificed all, dared all, and died. Now is our turn to do no less.

 

Hasan di Tiro

 

Kepadanya ada cinta dan juga benci, bagi Pemerintah Indonesia dan sebagian rakyat Aceh dia adalah pemberontak, untuk sebagian lagi dia adalah pahlawan. Perbedaannya setipis kulit bawang.

Lepas dari itu semua, aku mengagumi keteguhan akan sebuah prinsip yang diyakininya, bahwa untuk meraih sebuah cita-cita besar haruslah disertai dengan perjuangan dan pengorbanan yang besar pula.

Pelajaran berharga dari Nanggroe Aceh Darussalam. Hudep beusare, mate beusadjan,

 

Iwan