Tukang dongeng kita H.C. Djokolelono

“Di sebuah negeri subur yang letaknya membentang di garis khatulistiwa tersebutlah seorang laki-laki yang kerjanya menulis dongeng. Ukuran rentang rambutnya yang berwarna keperakan melebihi panjang kebanyakan ukuran rambut perempuan yang ada di negerinya. Sebuah papan nama mungil terpasang di depan gua yang sudah lama menjadi tempat tinggalnya, anak-anak yang sering melewati mulut gua itu suka mengeja pelan-pelan tulisannya, Ki Djo-ko-le-lo-no.”

Mungkin itu yang akan saya tulis sebagai pembuka cerita kala saya harus menuliskan dongeng tentang seorang penulis dongeng anak yang bernama Djokolelono.

Buat sebagian orang nama Djokolelono mungkin lebih dikenal sebagai seorang penulis naskah dan Creative Director kondang di dunia periklanan Indonesia. Perjalanan lelaki kelahiran 70 tahun yang lalu ini mungkin bisa jadi dongeng tersendiri…

Saya kurang percaya saat dia mengatakan bahwa kombinasi horoskop kambing Aries dan shio Monyet konon dipercaya sebagai gabungan dua unsur yang membuat mereka yang lahir di bawah “naungannya” akan menjadi orang super kreatif. Faktor lingkungan Djokolelono di masa kecil sepertinyalah yang membentuknya menjadi orang yang pandai bercerita, kakeknya bernama Lebdo Tjarito, (Orang yang suka mendongeng) dalang persisnya. Bapaknya, seorang tentara berpangkat kopral, juga sangat suka membacakannya cerita, yang dia masih ingat adalah Flash Gordon, komik yang dimuat di surat kabar Malang Pos di tahun 50-an.

Djokolelono sejak kecil sebetulnya sudah “diproyeksikan” orang tuanya untuk jadi wartawan, saat kelas 3 SD oleh bapaknya dibelikan baju wartawan, “Kala itu bapak sering melihat, baju berkantung empat itu adalah baju khas yang dipakai kebanyakan wartawan” (Baju safari namanya kalau zaman sekarang)

Djokolelono kecil harus menerima kenyataan pahit, kedua orang tuanya berpisah di usia Djokolelono yang masih sangat belia. “Salah satu alasan perpisahan mereka mungkin akibat perdebatan bagaimana cara menuliskan namaku, Djokolelono, disambung, atau Djoko Lelono, dipisah”, ucapnya tidak serius.

Tahun 1953, Djokolelono sembilan tahun, masih belum cukup umur untuk bisa meminjam buku di perpustakaan umum yang ada di Malang, tapi tekadnya begitu kuat agar bisa jadi anggota perpustakaan disana, berbekal surat pengantar dari kepala sekolahnya dia mendapat dispensasi untuk menjadi anggota termuda di perpustakaan umum kota Malang. Jarak 5 Kilometer ditempuh dengan berjalan kaki agar Djokolelono kecil ini bisa memenuhi rasa ingin tahunya melalui membaca.

Ibu Hardilah adalah guru Bahasa Indonesia yang makin membuatnya bersemangat membaca dan menulis saat di Sekolah Dasar, “Apalagi saat itu terbit majalah Kuncung, bacaan yang sangat kami tunggu-tunggu.” Dengan semangat Djokolelono menceritakan bagaimana letak sekolahnya yang berada di sebuah lembah, “Saat pengantar majalah Kuncung terlihat datang dari kejauhan, anak-anak berloncatan girang, bersorak, dan gemruduk menyambutnya”. Satu hal yang sangat membanggakannya saat di sekolah dasar ini adalah ketika nilai ujian akhir pelajaran Bahasa Indonesianya mendapat angka 10.

Semangat dan kreatifitasnya menulis makin menggebu saat duduk di bangku SMA, begitu semangatnya jadi pengisi tetap majalah dinding di sekolah, Djokolelono tinggal kelas. Nilai pelajarannya nyaris jeblok semua kecuali Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang masih dapat nilai 9.

Tuhan begitu baik padanya, dia akhirnya bisa mendapat bea siswa dan kuliah di jurusan Astronomi ITB. “Waktu itu saya seangkatan dengan Indra Abidin (Pemilik Fortune Advertising) dia ambil jurusan seni rupa di ITB”. Sebagai mahasiswa jurusan astronomi dia tinggal di kompleks observatorium Bosscha, di Lembang, selatan kota Bandung. Sebagai mahasiswa perantauan Djokolelono tentu merasa perlu untuk bisa lebih dari survive, itulah yang membuatnya makin serius menajamkan kemampuan menulisnya, untuk mencari uang.

Sebuah cerita pendek dikirimkannya ke majalah Maritim, kenapa Maritim? Ya karena majalah itulah yang ada dan dibacanya. Hati senang tidak terkira saat tulisannya itu dimuat dan mendapat honor. “Honor saya ambil di kantor pos yang letaknya persis berseberangan dengan pasar Lembang. Uang yang saya terima bukan uang baru, beberapa lembarnya sudah kumal dan lecek”. Dengan rapi uang itu dimasukannya ke dalam laci, esok hari akan dipakai untuk mentraktir teman-temannya jajan di sekitar Lembang. Rencana tinggal rencana, uang kumal dan lecek itu mungkin berbau ikan atau daging, tikus mencium dan mendahului menghabiskannya. Djokolelono kalah cepat. (Idiom)

Ide bisa muncul dari mana saja, pun dari nasib buruk, uang dimakan tikus itu terjadi, dengan segera memunculkan ide cerita tentang hilangnya uang akibat tikus jahanam, dimuat, dan uang honor datang lagi, kali ini Djokolelono tahu bagaimana cara menjauhkan uang itu dari incaran tikus yang lapar.

Uang yang mulai antri masuk ke saku membuatnya makin bersemangat, Majalah Djojobojo, Kawanku, Detektif Romantika, Selecta, dan STOP menjadi ladang subur karya-karyanya. Perkenalannya dengan sastrawan Ajip Rosidi membuatnya sibuk di penerbitan Pustaka Jaya, Buku cerita terjemahannya yang berjudul Empat orang Jenderal terbit, diikuti oleh barisan panjang terjemahannya, karya Mark Twain seperti Tom Sawyer dan Huckleberry Finn. Berlanjut kerja sama dengan penerbit lain menerjemahkan Little House Series karya Laura Ingalls Wilder , karya-karya Enid Blyton hingga komik Mimin.

Obrolan di ruang tamu kemudian berpindah ke ruang kerjanya di lantai dua rumahnya di kompleks Unilever Rempoa, di tempat ini karya-karyanya mulai dari Getaran, Penjelajah Antariksa, Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin, Jatuh ke Matahari, Bintang Hitam, ACI, Astrid dan Bandit, Candika, dan banyak lagi berbaris rapi di rak bukunya.

Menariknya, sering dalam penulisan ceritanya Djokolelono suka sekali menggunakan nama tokoh yang juga saudara dan keluarganya sendiri, ada Djajadi, Adi Sutrisno, Astrid, sesukanya saja. Oh ya, beberapa orang menyebutkan Djokolelono adalah penulis science fiction pertama di Indonesia, melalui bukunya yang berjudul Getaran.

Layaknya buku cerita, selalu ada episode baru dalam ceritanya, begitu pun hidup Djokolelono. Perjumpaannya dengan dunia periklanan dimulai di tahun 1973, diawali dengan dterimanya sebuah telegram berbahasa Inggris di rumahnya, di Sidoarjo. Setelah melalui proses yang aneh masuklah Djokolelono di perusahaan periklanan Lintas. Seangkatan dengan senior-senior seperti Gunadi Soegiharso, Syarifudin Noor, dan Yanti Sugarda. Bertahan di Lintas sekitar delapan tahun, pengembaraan dari satu agency ke agency lain terjadi berkali-kali setelah itu. Tak terhitung pula jumlah penghargaan yang diterimanya dari industri kreatif periklanan atas karya-karyanya.

Penampilan kakek 10 cucu ini memang tergolong nyentrik, sejak 1968 rambutnya gondrong sepinggang, dicukur saat menikah di tahun 1972. Gondrong lagi hingga saat pulang menunaikan ibadah haji tahun 1998. Saya sempat sekantor dan merasakan enaknya satu team dan mempresentasikan pekerjaan dengan seorang Shaolin berambut kepang panjang. Kita cuma perlu kerja separuh, karena yang separuh lagi klien sudah percaya dengan penampilan kreatif Djokolelono. Hahaha…

Hampir tiga tahun yang lalu Djokolelono memutuskan untuk berhenti berkarya di dunia periklanan, panggilan jiwa untuk kembali menulis cerita anak muncul lagi, lahirlah novel Anak Rembulan dan Aku Tak Marah. Beberapa penerbit berniat untuk menerbitkan ulang buku-bukunya yang memang sarat dengan imajinasi dan petualangan.

Djokolelono adalah legenda, orang yang serba bisa dan selalu penuh canda, eh, maaf ada juga yang ternyata dia tidak bisa, dia tak bisa nyetir mobil. “Saya tak ingin ada satu orang kehilangan mata pencahariannya karena saya bisa mengemudikan kendaraan”, tukasnya sambil tergelak.

Pulang dari rumahnya saya merasa senang karena sudah sempat ngobrol dan mendengarkan dia bercerita tentang sejarah dan perjalanan hidupnya, meski kemudian saya bertanya pada diri sendiri, yang dia ceritakan tadi itu fakta atau imajinasi?

Jika Denmark punya H.C. Andersen, Indonesia punya H.C (Haji Creative) Djokolelono!

Horreeeee!!!

 

iwan