# 17 Disko Berjalan

 

(Surat Iwan untuk Teuku Fahri, keturunan Aceh, sahabat, di Jakarta)

 

Lhok Sukon, 20 Juni 2011

 

Sesuai janji, kutulis catatan perjalananku ke kampung halaman ayahmu, Nanggroe Aceh Darussalam. Sore tadi, pukul 17.04 WIB, kapal kami merapat ke Pelabuhan Belawan. Setelah turun dari kapal para penumpang harus berjalan kaki sekitar 100 meter menuju pintu keluar pelabuhan, di sana ada banyak ojek dan mobil angkutan yang bisa membawa kami melanjutkan perjalanan. Karena barang bawaan yang cukup banyak dan berat kami lebih memilih untuk naik taksi, sebuah sedan berwarna biru dengan sabuk pengaman yang kondisinya sudah tak aman lagi. Sopirnya bernama Herman, orang Medan asli yang sudah tujuh tahun bekerja mengantar jemput penumpang di Pelabuhan Belawan.

Taksi meluncur ke Jl. Gajah Mada, tempat untuk membeli karcis Bus Kurnia tujuan Banda Aceh. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh beberapa teman Aceh di Jakarta, Bus Kurnia ini termasuk bus favorit. Tiket bus tujuan Banda Aceh yang berangkat pukul 21.00 WIB sudah habis terjual. Karena tak ingin terlambat kami harus mencari bus lain. Apa masih ada kendaraan yang bisa membawa kami ke Banda Aceh malam ini?

Kekhawatiran kami itu baru hilang ketika tiket bus lain berhasil didapatkan. Sebuah bus berwarna hijau, dari luarnya tampak mulus, tapi kondisi di dalamnya ternyata gelap dan terasa sumpek. AC-nya dingin, sayang kursi bus yang sempit membuat penumpang kurang bisa duduk nyaman apalagi untuk sebuah perjalanan selama 10 jam. Bus mulai bergerak pada pukul 21.30 WIB. Ikyu yang baru pertama kali naik bus malam tampak kurang bahagia dengan kondisi dalam bus, dia juga merasa agak risau karena ransel-ransel yang harus ditaruh di bagasi tak bisa diawasinya.

Malam kian larut, jalur Trans Sumatera kian lengang, hanya satu-dua kendaraan melintas di jalan aspalnya yang mulus. Berbeda dengan suasana di dalam bus kami, lagu-lagu genre Shinta-Jojo diputar sopir dengan kerasnya, mungkin itu adalah caranya mengusir rasa kantuk. Aku merasa seperti sedang berada di dalam arena disko berjalan, ingar-bingar di malam buta. Beberapa penumpang protes karena suara musik itu terlalu berisik. Sopir memang sempat mengecilkan volume tape-nya, tapi itu tidak berlangsung lama, hanya selang beberapa menit suara musik yang memekakkan telinga kembali terdengar. Sampai saat seorang penumpang yang geram menghampiri dan mendampratnya dalam bahasa Aceh, barulah sopir mematikan musiknya. Setelah itu senyap.

Kalau sekarang penumpang merasa lega dan bisa tidur nyenyak, aku justru sebaliknya. Rasa kantukku justru lenyap karena khawatir celaka akibat sopir yang ketiduran. Sering kubaca berita di koran tentang terjadinya kecelakaan maut di rute Medan-Banda Aceh ini. Apa lagi jika membayangkan saat bus masuk kawasan Pegunungan Seulawah yang jalannya naik turun, berkelok, dan penuh jurang-jurang lebar menganga di kiri-kanannya.

Lewat tengah malam, Kota Langsa sudah sunyi senyap, warganya sudah tertidur lelap. Apa lagi saat masuk Peureulak dan Lhok Sukon, kebanyakan orang sudah mematikan lampu rumahnya. Kalau pun ada yang masih terjaga itu adalah para lelaki bersarung yang asyik ngobrol di warung kopi yang masih buka.

Kulihat Ikyu yang duduk di samping Decyca sudah nyenyak di kursinya, pasti dia lelah. Perjalanan laut tentu menguras tenaganya. Jilbab yang dia kenakan sebelum naik bus di Medan tadi cukup menghangatkan tubuhnya dari dingin AC bus ini. Hampir semua penumpang sudah berhasil memejamkan mata. Tapi cara mengemudi sopir yang bak pembalap formula ditambah dengkur pemuda di sebelahku membuat mata ini tetap terbuka dan waspada. Perjalanan darat yang mendebarkan.

 

Iwan