#16 Umpatan Sayang

 

(Surat Iwan untuk Ika Rindy dan Yuri Heikal Siregar, sahabat, di Jakarta)

 

Pelabuhan Belawan, 19 Juni 2011

 

Sungguh berbeda naik kapal besar dengan naik perahu kecil. Saat diterjang gelombang KM Kelud yang berbobot 2000 ton tak terlalu terasa goyangnya, sangat berbeda dengan perahu kecil yang sering terguncang keras kala dihantam ombak besar. Berlayar dengan kapal ini rasanya seperti naik mobil saja, apalagi jika ombak sedang tenang, kita seperti sedang melaju di jalan tol yang mulus.

Sebagai orang yang jarang naik kapal laut, kutemukan banyak hal baru yang unik terjadi di atas kapal. Hari ini misalnya, pagi pukul 05.30 WIB, saat hari masih gelap, aku terbangun oleh pengumuman lewat pengeras suara yang terpasang di banyak sudut kapal. Pengumuman itu mengingatkan agar para penumpang berhati-hati terhadap barang bawaannya, sangat tidak dianjurkan membawa uang atau barang berharga ke kamar mandi. Mungkin memang sering terjadi barang dan dompet penumpang hilang karena tertinggal di sana. Tidak seperti kamar kelas satu dan dua yang memiliki kamar mandi sendiri, pemegang tiket kelas ekonomi mendapat jatah kamar mandi umum yang dipakai secara bergantian dengan para penumpang lain. Lalu, bagaimana dengan orang yang kebetulan pergi sendirian, ya? Di kelas ekonomi sepertinya tak ada lemari khusus untuk menyimpan barang. Aku tidak tahu, bagaimana cara mereka menjaga barang-barangnya, dititipkan atau harus selalu dibawa ke mana-mana?

Di Minggu pagi, mungkin kalian sedang jalan-jalan di seputaran Sudirman-Thamrin, menikmati Car Free Day, tempat yang sedang jadi trend untuk olah raga dan mendapat udara segar di Jakarta. Di atas kapal juga ada tempat favorit yang banyak dikunjungi penumpang pada pagi hari, tempatnya di dek 7. Di tempat itu penumpang biasa berjemur, menghirup udara segar sambil melihat samudera luas dengan lebih jelas. Di dek 7 pula aku sempat bertemu dan berkenalan dengan beberapa teman baru, ada Herman, Situmorang, Marudut, dan juga Pak Miswar beserta keluarganya. Bermacam-macam tujuan dan alasan perjalanan mereka. Pak Miswar, misalnya, lelaki Aceh yang bekerja di Batam ini mengajak istri dan dua anaknya pulang kampung untuk liburan sekaligus menghadiri resepsi pernikahan salah seorang familinya di Sigli.

Acara lainku pagi tadi adalah tur keliling kapal ditemani oleh Agus Maulana, mualim II KM KELUD. Mulai dari melihat radar di atas anjungan, kamar/sel tahanan yang sekarang berubah fungsi menjadi ruang penyimpan pelampung cadangan, sampai melihat gudang logistik yang menyimpan puluhan karung beras, daging, sayur, dan lainnya untuk keperluan dapur menyediakan konsumsi selama perjalanan. Kalau melihat banyaknya persediaan makanan sepertinya penumpang tak perlu takut kelaparan dalam pelayaran.

Melalui peta yang ada di ruang kemudi kuperhatikan rute yang sudah kami lewati, KM Kelud melewati Kota Melaka, Port Dickson, Seremban, dan Klang, kota-kota yang merupakan kawasan negeri jiran Malaysia tersebut berada di sisi kanan kapal. Sementara di sisi kiri kapal melewati Pulau Rupat, Kota Bagansiapiapi, dan Tanjung Balai.

Pukul 17.04 WIB kapal tiba di pelabuhan Belawan, Medan. Lebih dari seribu wajah lelah berjejalan, berusaha keluar dari perut KM Kelud melalui dua pintunya. Seperti usai nonton pertandingan sepak bola di stadion, penumpang yang berebut saling berhimpitan, berlomba keluar duluan. Sangat ribut, ada yang bersungut-sungut, ada juga yang lantang berteriak, “Taik kau!”, saat seseorang terinjak kakinya oleh penumpang lain. Lucunya, antara umpatan dan tawa acapkali muncul dari mulut orang yang sama. Sebuah potret menarik dari masyarakat Sumatera Utara yang ekspresif dan serba terus-terang.

Moncong pengeras suara di pelabuhan tak hentinya berteriak mengingatkan para penumpang agar selalu berhati-hati dengan barang bawaannya, menjaga dompet dari incaran copet yang berkeliaran di sekitar kapal dan pelabuhan. Sebentar lagi kami akan turun dari kapal dan menginjak daratan lagi. Aku sampai di Tanah Batak. Wajah Ikyu tampak berbinar, dia juga pasti merasa senang setelah 3 hari 2 malam hidup di atas lautan.

 

Muliate godang,

 

 

Iwan