Kerja Kabinet Kerja

Susunan kabinet telah terbentuk, tak perlu disebutkan satu persatu, Anda pasti sudah mendengar dan tahu, siapa jadi menteri apa di kabinet bernama Kabinet Kerja 2014-2019 itu.

Mengamati lalu lalang pesan di lini masa sosial media seperti Twitter, Facebook dan Path, saya melihat dan membaca pro dan kontra yang tercipta. Sebagian orang mendukung, sebagian lagi mengutuk dengan segala analisa yang dilontarkannya. Di alam demokrasi semua dimungkinkan, semua diperbolehkan, asal masih dalam tata dan cara tidak melanggar norma dan hukum yang kita anut bersama.

Kubu anti Jokowi masih lantang menentang, pilihan menteri yang menjadi hak prerogatif presiden dipertanyakan dengan nada menyerang, seolah-olah apa pun yang dilakukan presiden adalah salah. pemilihan Rini Sumarno dan Puan Maharani banyak menjadi bulan-bulanan. kebencian banyak melatari argumen dan alasan.

Di pihak yang lain, kubu penyanyang Jokowi tidak sedikit yang tertutup hati dan matanya, setiap kritikan yang mengarah pada presiden langsung dibabat habis, presiden seolah adalah orang tanpa kemungkinan salah. Cinta buta mendasari cara berpikir mereka.

Saya tak menyalahkan kubu penentang Presiden Jokowi, pun, tak menyerang kubu penyayang Presiden Jokowi. Keduanya adalah kelompok yang sedang menunjukkan rasa sangat cintanya pada Indonesia, dengan caranya sendiri. Yang saya takutkan adalah kelompok lain yang menginginkan dua kelompok itu saling menajamkan konflik, kelompok yang secara cerdik mengipas agar api permusuhan terus membesar dan membakar.

Juru kipas hanya akan berhasil bekerja saat kita semua kehilangan nalar, mengikuti nafsu dan selalu merasa paling benar sendiri. Juru kipas akan kehilangan akal saat kita bisa tenang, sabar, dan BERPIKIR.

Menteri-menteri telah ditunjuk, inilah saatnya rakyat melihat bagaimana mereka bekerja, menilai apakah mereka memang mampu, atau malah hanya sekedar sebagai benalu yang bikin malu. Kombinasi cinta dan benci hendaknya bisa diramu untuk menjadi jamu yang mempercepat laju perbaikan, pembangunan, dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Waktu akan memberi tahu kita, tentang apa yang saat ini masih menjadi tekai-teki.

 

Cinta dan benci sekedarnya saja.

 

Iwan Esjepe