#15 Krisis Sinyal

 

(Surat Iwan untuk Amar Ibrahim, sahabat, musisi, gadget freak di Jakarta)

 

Selat Malaka, 19 Juni 2011

Aku bersyukur, tak harus repot membuka buku Communication Technology for Dummies untuk mencari jawaban dari banyak pertanyaan tentang teknologi dan komunikasi, kamu sudah jadi “kamus berjalan” yang sangat membantu. Bukan sekedar memberi jawaban layaknya buku, tapi juga banyak bercerita soal perkembangan gadget terbaru.

Pengalaman menelepon dan internetan di atas kapal memang hal baru buatku. Sinyal hanya kuat saat kita dekat dengan daratan atau pelabuhan, begitu kapal berada di tengah laut semua alat komunikasiku nyaris lumpuh tak berfungsi. Marwan Ampera, mualim II KM KELUD, memberi tahu bahwa sebetulnya ada BTS (Base Transceiver Station) milik sebuah provider yang dipasang di sini, sayangnya sekarang BTS itu tengah mengalami gangguan.

Dengan kecepatan 19 knot/jam KM KELUD menyibak Selat Malaka. Pemandangan di laut terasa monoton dan cuaca sedang panas-panasnya. Banyak orang yang memilih untuk berteduh, menghindari terik matahari yang menyengat, begitu juga dengan Ikyu yang asyik menonton DVD di kamar melalui laptop-nya.

Kembali ke masalah komunikasi, ada pemandangan lucu yang kusaksikan kemarin sore, waktu KM Kelud sedang sandar di pelabuhan Beton, Sekupang, di Batam. Saat orang berdesakan di pintu masuk kapal, di geladak banyak penumpang yang terlihat santai, tertawa-tawa, jongkok di pojok, semua dengan handphone menempel di tangan. Bukan maksudku untuk menguping, tapi beberapa pembicaraan mereka terdengar jelas olehku, ada yang sedang bicara serius soal mobilnya yang terpaksa masuk bengkel karena rusak terserempet motor, soal oleh-oleh untuk keluarga yang menunggu di Medan, hingga rayuan dan janji seorang pemuda yang berusaha menenangkan pacarnya yang, sepertinya, ngambek tak mau terlalu lama ditinggal di Jakarta.

Beberapa orang lain sibuk memijat keypad handphone-nya, aku setuju kalau ada orang yang bilang aktivitas mereka itu seringkali mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Sekarang sepertinya handphone sudah jadi benda wajib yang harus dimiliki setiap orang. Bukan hanya di kota besar, di gunung dan tempat-tempat terpencil pun alat komunikasi itu sudah bukan hal yang asing lagi. Di kapal, keasyikan bertelepon atau ber-SMS itu tak bertahan lama, KM Kelud cuma sandar 2 jam di Batam, begitu kapal bertolak ke tengah laut, sinyal segera menghilang, komunikasi selular kembali terputus. Kehidupan sosial di atas kapal pun kembali “normal”.

Saat sedang krisis sinyal di laut, aku sering senyum sendiri kalau melihat tingkah Ikyu yang mencoba mencari sinyal dengan mengangkat handphone-nya tinggi-tinggi, dia berpikir dengan cara itu pesan atau tweet-nya bisa terkirim lebih cepat. Ada-ada saja…

 

Iwan