Bertamu ke rumah Ceu Popong

Tulisan saya “Seandainya Saya Seorang Sunda” ternyata mendapat respon yang beragam, ada beberapa teman Sunda yang berada di luar negeri menyambut baik tulisan itu, beberapa feedback dalam bahasa Sunda saya terima dengan gembira. Sambutan lebih banyak tentu dari teman-teman Sunda di tanah air, beberapa diantaranya merasakan hal yang sama, serupa dengan perasaan saya.

Semua menyambut positif? Tentu tidak. Beberapa tanggapan negatif juga saya terima setelah tulisan itu muncul. Walau tak secara frontal mengatakan tidak setuju. Beberapa keberatan teman-teman itu bukanlah pada konten yang saya tuliskan, tetapi lebih pada Ceu Popongnya, bisa jadi mungkin karena perbedaan partai atau kelompoknya. Saya tak habis pikir (Sambil pegang kepala yang memang sudah tak berambut)

Perlu saya sampaiakan di sini, penulisan itu sama sangat jauh dari maksud untuk pro-kontra pada sebuah partai atau kelompok tertentu, artikel itu hanya bertujuan untuk mengingatkan orang-orang muda Indonesia, urang Sunda khususnya agar bisa lebih berperan dalam menjaga, melestarikan, dan memajukan negeri tercinta ini.

Masih pagi, hari Minggu itu Bandung belum terlalu ramai dan macet. ditemani teman saya, Teti Soebrata, cucu dari Otto Soebrata, kawan seperjuangan Otto Iskandardinata, bertandang ke rumah Ceu Popong yang berlokasi di Jl Cipaganti 128, Bandung. Di rumah berarsitektur Belanda yang teduh itu kami ngobrol santai, di usianya yang 76 tahun Ceu Popong masih tampak fit, tangkas menjawab pertanyaan, dan selalu berbalut bumbu kosakata sunda dalam pembicaraan kami.

Kunjungan ke rumah Ceu Popong tak lebih hanyalah silaturahmi kepada orang tua, menanyakan kabar, menanyakan pandangan dan pendapatnya tentang satu-dua hal, tak ada yang terlalu serius. Semua mengalir lancar, terkadang kami iringi dengan canda dan tawa. Tapi saya merasa itu bukan obrolan yang tanpa arti, Ceu Popong tampak gelisah dengan keadaan sebagian anak-anak muda Indonesia yang mulai meninggalkan budaya dan tradisi baik yang selama ini kita jaga. Tapi Ceu Popong juga tak mau menyalahkan itu pada para generasi muda. Katanya, “Kalau ada yang bilang anak muda sekarang kurang santun, kurang tahu tata krama, kurang disiplin, jangan salahkan mereka, mereka adalah produk dari sistem pendidikan yang tidak benar. Jadi kalau ingin mereka menjadi sesuai dengan yang kita inginkan, contoh baik juga yang harus diberikan kepada mereka, perlu adanya keteladanan. Sebagai orang tua kita mesti introspeksi, berkaca dan memperbaiki diri”.

Pada kesempatan lain, Ceu Popong juga bercerita bahwa saat ini ia sedang berusaha untuk memotivasi orang-orang muda agar mau masuk ke bidang politik, “Banyak yang masih alergi pada politik, banyak yang bilang politik itu kasar, politik itu kotor, padahal politik hanya alat, semua tergantung orangnya. The singer, not the song”.

“Bukannya saya mengagungkan budaya Jepang”, Ceu Popong memberi contoh di mana anak-anak di Jepang diajari menyanyikan lagu Kimigayo (lagu kebangsaan negeri Matahari terbit ) sebagai lagu pertamanya, sementara di Indonesia lebih banyak anak diajari menghapal lagu Potong bebek Angsa dan Nona minta dansa. “Rasa cinta pada negara hendaknya mulai ditanamkan sejak kecil. Pendidikan itu proses, tidak bisa instan”.

Sebagai anggota DPR ter-senior apakah ada masukan untuk para anggota DPR yang baru atau muda?  “Saya ingin mengajak, bukan menggurui, untuk anggota para anggota DPR Pusat, Provinsi maupun kabupaten/kotamadya untuk selalu berangkat dari sumpah saat kita dilantik. Untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya, untuk memperjuangkan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Kalau kita berangkat dari sumpah itu, tidak akan ada anggota dewan yang malas, tidak akan ada anggota dewan yang teken (tanda tangan) lalu kabur. Tidak akan ada anggota dewan yang korupsi, tidak ada anggota dewan yang waktu reses tidak turun untuk menyerap aspirasi rakyat.

Obrolan tak terbatas soal politik, tapi juga sang suami, Otje Djundjunan yang mengajarinya dalam bidang kedisiplinan, tentang keberagaman tamu yang setiap hari datang, ada yang dengan janji, tapi tak sedikit juga yang muncul tiba-tiba, dengan banyak hal yang ingin disampaikan. Mulai dari yang menyampaikan keluhan, konsultasi sampai yang membutuhkan sumbangan.

Ngobrol dengan nenek yang masih penuh semangat ini membuat saya sadar, usia lanjut tidaklah selalu identik dengan halangan dan hambatan, rasa pesimis, mudah menyerah dan pasrah  justru sering saya temui ada dalam diri beberapa orang-muda.

Senang rasanya bisa ketemu dengan orang yang kemarin jadi trending topic di twitter itu. Memang unik cara Tuhan untuk menyampaikan pesannya, hari itu saya seperti dibukakan sebuah “buku penting”, Ceu Popong dan asam-garamnya, begitu mungkin “judul”nya.

 

Salam,

 

Iwan Esjepe