#13 Pesta Tetangga

 

(Surat Iwan untuk Pandji Pragiwaksono, sahabat, orang muda serba bisa, di Jakarta)

 

Selat Singapura, 18 Juni 2011

 

Memandang ke arah buritan, yang kulihat adalah air laut yang berbuih akibat putaran baling-baling pendorong kapal. Awalnya mengasyikkan, tapi lama-lama jadi sangat membosankan.

Sekitar pukul 15.00 WIB, KM Kelud sandar di pelabuhan Beton, Sekupang, Batam. Dari kejauhan, kondisi pelabuhan tampak tak terlalu ramai, sehingga aku tak percaya begitu saja waktu beberapa Anak Buah Kapal mengatakan ada sekitar 1.500 penumpang baru dari Batam yang akan naik dan menyeberang ke Belawan. Hanya ada beberapa puluh orang terlihat di dermaga, kebanyakan lelaki berbaju oranye terang menyala, rupanya mereka adalah para porter yang sedang bersiap untuk menawarkan jasa angkat turun dan naik barang pada para penumpang.

Kerja sama antara nakhoda, mualim, dan juru mudi dalam melakukan olah gerak begitu rapi dan cekatan, dalam waktu singkat kapal berhasil merapat. Begitu tangga dorong menempel ke tubuh kapal, bagaikan harimau gesit yang berusaha merebut buruannya, para porter itu merangsek masuk dalam kapal, seolah tak peduli pada para penumpang yang akan turun, mereka saling mendesak dan berebut, sangat tak beraturan.

Ucapan para Anak Buah Kapal terbukti, entah berapa jumlah persisnya, sekarang kulihat begitu banyak penumpang baru yang mengisi ruangan-ruangan di kapal ini. KM Kelud yang sejak dari Jakarta terasa lengang dan nyaman mendadak jadi penuh sesak dan ingar-bingar. Ruang-ruang kosong di dek 6 dan 7 sekarang sudah penuh sesak, hampir seluruh lantainya dijadikan tempat tidur. Penumpang seperti ikan sarden dalam kaleng, berbaring memenuhi sekujur bidang datar kapal.

Usai magrib, saat langit mulai gelap, KM Kelud kembali melanjutkan perjalanannya menuju Tanjung Balai Karimun melalui Selat Singapura. Kami melewati perairan teramai di Asia Tenggara itu. Ada pemandangan menarik di selat ini yang sempat membuatku tertegun. Di lambung kiri kapal terasa sepi, hanya ada empat orang penumpang sedang bercakap-cakap. Pandangan mata hanya akan menangkap gelapnya malam. Konsentrasi penumpang ternyata terkumpul di lambung kanan kapal. Wow, pemandangan kota Singapura rupanya. Banyak penumpang yang ternganga, terpesona melihat cahaya dari Kota Singa itu. Kota kelahiranmu malam ini bermandi cahaya dan kembang api aneka warna. Decak kagum dan tepuk tangan terdengar meriah. Seorang anak lelaki usia sekitar 7 tahun yang berdiri persis di sebelahku minta diajak ke sana pada ayahnya. Si ayah hanya mengangguk sambil berkata bahwa mereka harus mengumpulkan uang dan membuat paspor dulu untuk bisa pergi ke Singapura. Hatiku berdegup kencang, ada rasa getir muncul tiba-tiba. Seandainya saja kita mampu mengolah sumber daya alam atau manusia dengan maksimal dan bijaksana, pasti kita bisa lebih maju dari Singapura.

Di Tanjung Balai Karimun, kapal tidak sandar, hanya berlabuh di dekat pelabuhan. Penumpang yang naik atau turun kapal harus menggunakan perahu pompong kecil. Keahlian dan kehati-hatian dalam meniti tangga sangat diperlukan, selain gelapnya malam, ombak yang cukup besar membuat perahu tidak stabil dan tangga kapal bergoyang-goyang. Beberapa diantara mereka adalah perempuan dan anak-anak. Ngeri aku melihatnya.

Gerimis turun malam ini. Orang-orang yang tadi bekerumun di geladak luar sudah bubar dan kembali ke tempat masing-masing untuk beristirahat. Kapal sudah bergerak memasuki Selat Malaka. Ikyu juga terlihat sudah tertidur pulas. Melihat wajahnya, aku berdoa semoga negeri yang lebih baiklah yang bisa kuwariskan padanya kelak.

Sampaikan salamku untuk Dipo dan Gamila.

 

 

Iwan