Surat Kissy dari NYC

Keluarga Esjepe mendapat kiriman surat dari Kissy, sahabat kami yang bermukim di New York City, kota besar Amerika yang sering disebut sebagai ibu kotanya dunia. Seperti apa cerita Kissy? Silakan baca surat darinya…

New York, 16 October 2014.

Spotify memainkan lagu Linger dari The Cranberries. Throwback Thursday ke dua puluh tahun lalu saat saya masih SMA. Saya ingat mendengarkan lagu ini di mobil teman saya, Bagus atau Ferdy. Kenangan masa muda. Masa semau gue. Masa mementingkan diri sendiri. Sekarang saya tidak berada di masa itu lagi. Sekarang sudah berkeluarga dan punya dua orang anak kecil. Sekarang saya sudah tidak bertempat tinggal di Cirendeu, melainkan di kota apel besar, alias New York City. Sudah empat belas tahun saya bermukim di Manhattan. Pindah karena suami berdomisili di sini. Tanpa sanak saudara, tanpa teman.

Kesepian? Sudah pasti. Itu nasib perantau. Semua tergantung bagaimana kita menghadapi hidup. I choose to be happy. Saya memang bukan tipe yang bisa sedih berlama-lama. Saya sangat excited memulai hidup baru, apalagi di sini. Siapa sih yang tidak ingin berkunjung ke New York? Kota yang sering menjadi background banyak film terkenal Hollywood, mulai dari Home Alone 2, Taxi, Godzilla dan Spiderman. New York boleh dibilang kota yang seru (banget). Banyak orang dari berbagai macam negara yang tinggal di sini. Tidak heran bila New York disebut dengan “melting pot”. Satu negara bagian yang penuh ragam. Bukan hanya masyarakat saja yang beragam, tetapi aktivitas di sini luar biasa. Selama belasan tahun saya bermukim di sini, saya sudah pernah mengantar beberapa selebriti Indonesia berjalan-jalan….gratis! Delapan tahun lalu saya mengajak Dhani Dewa untuk melihat konser underground secara gratis. Tahun 2009 saya berjalan bersama Katon Bagaskara di Brooklyn Bridge untuk cari pemandangan bagus agar dia bisa foto-foto. Baru dua minggu lalu saya berbelanja barang antik bersama Djaduk Ferianto di flea market besar. Heboh ya?

Photo courtesy: google

Begitulah kehidupan di New York, tidak pernah ada kata bosan. Setiap musim selalu saja ada kegiatan-kegiatan baru untuk masyarakatnya. Untuk bulan Oktober ini, New York disemarakkan dengan Halloween dan labu. Bingung kan? Labu memang identik dengan musim gugur. Saat Halloween berlangsung, labu tidak hanya diukir dan diberi nama Jack O Lantern saja, tetapi mereka mengukir dengan segala rupa dan hasilnya sungguh luar biasa!

Di kala memperingati hari Thanksgiving, labu menjadi pusat perhatian. Entah itu berupa dekorasi, dibuat pumpkin pie, pumpkin butter, pumpkin pancake, pumpkin soup, etc. etc. Tidak ada habisnya. Untuk Halloween nanti, ratusan masyarakat akan menyaksikan dan mengikuti Parade Halloween. Saya dulu sempat ikutan parade selama tiga tahun. Setelah punya anak, saya lebih banyak mengikuti acara mereka yang tidak kalah serunya.

Tentunya semua sudah pada tahu kalau New York adalah kota wisata. Yang terkenal dari sini adalah Statue of Liberty, the Empire State Building, theater di Broadway, Times Square, Central Park, Rockefeller Center (dimana yang kedua terakhir ini menjadi lokasi shooting film Home Alone 2) dan yang baru-baru ini Freedom Tower (lokasi World Trade Center). Museum disini juga bagus-bagus, contohnya Museum of Natural History, Moma, Met, Guggenheim, dll. Bulan September lalu saya sempat mengikuti kegiatan salah satu museum, The Cloisters. Mereka mengadakan Medieval Festival yang super heboh! Ribuan orang datang dan mengenakan kostum ala medieval. Serasa seperti berada di jamannya Lord of The Rings atau Game of Thrones. Saya juga ikutan heboh mengenakan pakaian Spartan a la Xena. Walaupun sudah berkeluarga tetapi jiwa selalu muda!

New York, the city that never sleeps. Saya jalan jam 4 pagi masih terasa aman

Dibandingkan jalan jam sepuluh malam di Jakarta, entah mengapa…. Mungkin saya benar-benar merasakan bahwa New York is a place where I belong. Home. Kalimat yang tidak pernah saya bayangkan akan terucap saat ini. Mungkin karena saya sekarang sudah berkeluarga, tidak lagi sendiri. Saya rasa saya jauh lebih dewasa daripada dua puluh tahun lalu. Tidak saya pungkiri bahwa New York mengambil andil dalam mendidik saya. Kalau ditanya apakah saya akan kembali tinggal di Jakarta, saya belum tahu jawabannya. Saya masih penasaran, maih ingin tahu, masih ingin berkembang di kota besar ini. Concrete jungle where dreams are made of. There is absolutely nothing you can’t do in New York. Saya undang Anda untuk berkunjung ke kota saya. Saya jamin your life will never be the same. Sampai surat berikutnya….

 

Salam dari New York City!

Kissy